Pulau Angso Duo, Destinasi Wisata Unggulan Kota Pariaman

Pulau Angso Duo, Destinasi Wisata Unggulan Kota Pariaman
info gambar utama

Pariaman termasuk kota tertua di pantai barat Pulau Sumatra dan telah dikenal oleh kalangan pedagang bang asing sejak tahun 1500-an. Pariaman juga dikenal sebagai daerah pusat pengembangan ajaran Islam tertua di pantai barat Sumatra. Ulama yang terkenal dari daerah tersebut adalah mendiang Syekh Burhanuddin dan Syekh Katik Sangko.

Secara administratif, Pariaman merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Padang Pariaman yang terbentuk pada tahun 2002. Salah satu objek wisata terkenal dari kota ini adalah Pulau Angso Duo. Orang Minang bahkan punya pantun yang menggambarkan keindahan pulau tersebut.

“Pulau Pandan jauah di tangah, di balik pulau Angso Duo, hancua badan dikanduang tanah, budi baiak takana juo.” Pantun tersebut berarti “Pulau Pandan jauh di tengah, dibalik pulau Angsa Dua, hancur badan dikandung tanah, budi yang baik dikenang jua."

Pulau Saparua, Surganya Wisata Alam dan Sejarah di Maluku

Wisata unggulan Pariaman

Pulau Angso Duo | Wikimedia Commons
info gambar

Pulau Angso Duo juga telah ditetapkan menjadi salah satu Daya Tarik Wisata Unggulan (DTWU) tingkat Sumatea Barat tahun 2022. Pengembangan 19 DTWU di kabupaten dan kota seluruh Sumatra Barat ini merupakan program dari Gubernur dan Wakil Gubernur yang tengah mencanangkan Visit Beautiful West Sumatra 2023.

“Penetapan DTWU ini juga bertujuan untuk memotivasi kabupaten dan kota agar lebih fokus dalam pengembangan sektor pariwisata daerah karena memiliki keterbatasan anggaran dan sumber daya lainnya, sehingga dapat maksimal mengembangkan sebuah destinasi wisata menjadi lebih representatif dan nantinya dapat mendukung program Visit Beautiful West Sumatra 2023 yang telah dicanangkan oleh Pemprov Sumbar,” ujar Doni Hendra, Kepala Bidang Destinasi dan Industri Wisata Dinas Pariwisata Sumbar, di Pantai Gandoriah, Rabu (2/3/2022).

Prof. Ansofino, Rektor Universitas PGRI Sumbar, selaku koordinator tim penilaian mengatakan bahwa Pulau Angso Duo memiliki daya tarik yang bisa mendatangkan wisatawan ke Kota Pariaman. Daya tarik itu pun masih bisa ditingkatkan dan yang terpenting tema apa yang bisa dikembangkan dari destinasi wisata tersebut.

"Misalnya di Pulau Angso Duo ini banyak peninggalan sejarah seperti salah satunya Kuburan Panjang. Kita harus bisa membangun historisnya, sehingga wisatawan dari luar Provinsi Sumbar pun mau datang kesini untuk mengetahui sejarah tersebut sebagai edukasi wisata bagi mereka," jelasnya.

Pulau Angso Duo berada di Kelurahan Pasir, Kecamatan Pariaman Tengah, dan merupakan salah satu dari enam gugusan pulau di Pantai Pariaman. Secara keseluruhan, pulau ini memiliki luas 5,13 hektare dengan 1,25 hektare di antaranya merupakan hamparan pantai pasir putih.

Untuk mengunjungi pulau ini, wisatawan dapat menempuh perjalanan darat sekitar satu jam dari Kota Padang dan melanjutkan perjalanan selama 15 menit dari Kota Pariaman. Selama perjalanan, Anda akan melewati beberapa spot wisata seperti Pantai Cermin, Kata, dan Gandoriah.

Memasuki Pulau Angso Duo, wisatawan akan disambut dengan deretan pohon kelapa yang membuat suasana pantai terasa lebih teduh. Perairan di pulau ini cenderung jernih dan ombaknya pun tidak besar. Di bawah lautnya, hidup berbagai jenis ikan hingga terumbu karang.

Di tempat wisata alam ini sudah tersedia fasilitas pendukung kegiatan wisatawan, dari mulai kamar mandi, musala, wahana permainan air, penginapan, dan rumah makan yang menyediakan menu-menu kuliner boga bahari.

Selagi menikmati waktu liburan, Anda bisa mencoba berbagai wahana yang tersedia, mulai dari banana boat, jet ski, atau sekadar bermain ayunan di tepi pantai. Anda juga bisa menyelam atau berkeliling pulau dengan menggunakan perahu.

Di Pulau Angso Duo juga terdapat makam keramat yang dipercaya sudah berusia ratusan tahun, yaitu makam dari pasangan suami-istri Syekh Katik Sangko. Sosok Katik Sangko diyakini merupakan kerabat dari Syekh Burhanuddin Ulakan, dan keduanya merupakan ulama yang memimpin gerakan Islam melawan penjajahan Islam di Sumatra Barat.

Makam tersebut memiliki panjang sekitar tujuh meter dan sering dikunjungi wisatawan sebagai bagian dari wisata religi. Di dekat makam terdapat sumur tua yang juga dianggap keramat.

Teluk Kabui dan Pesona Pulau Karang di Raja Ampat

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini