Binturong, Satwa Langka dengan Aroma Tubuh Mirip Berondong Jagung

Binturong, Satwa Langka dengan Aroma Tubuh Mirip Berondong Jagung
info gambar utama

Dari sekian banyak satwa yang hidup di Indonesia, apakah Anda pernah melihat binturong? Hewan ini memiliki penampilan wajah seperti rubah, bertubuh seperti beruang kecil, dan berekor panjang layaknya monyet.

Binturong punya beberapa sebutan yaitu Malay Civet cat, Asia bearcat, Palawan bearcat, atau disebut bearcat karena penampilannya yang seperti perpaduan antara beruang dan kucing. Namun, binturong sendiri tak ada kaitannya dengan beruang dan kucing, ia malah berkerabat dekat dengan musang luwak.

Saat ini, status konservasi binturong yang dikeluarkan IUCN Red List adalah Vulnerable atau rentan karena jumlah populasi menurun lebih dari 30 persen. Kemudian, CITES memasukkannya dalam status Appendix III.

Di Indonesia, binturong termasuk salah satu satwa yang dilindungi berdasarkan UU No. 7 tahun 1999 serta Peraturan Peraturan Menteri LHK no. P92 tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Sayangnya satwa ini masih banyak dijadikan hewan peliharaan dan ditangkap oleh para pemburu sehingga pelestariannya menjadi terhambat. Binturong yang merupakan satwa liar masih rentan ditangkap dan dibiasakan hidup bersama manusia sampai jinak.

Kabar Gembira, Seekor Gajah Sumatra Lahir di Suaka Margasatwa Padang Sugihan

Fakta unik binturong

Binturong | Wikimedia Commons
info gambar

Hewan dari keluarga musang ini memiliki ciri fisik seperti berikut, panjang tubuhnya mencapai 60-95 cm, beratnya antara 6-14 kg bahkan bisa sampai 20 kg, ia memiliki ekor panjang sekitar 50-90 cm yang berambut lebat. Bulu atau rambutnya cenderung panjang dan kasar berwarna hitam kecokelatan, juga beruban berwarna putih atau kemerahan.

Binturong merupakan hewan arboreeal yang hidup di pepohonan, tetapi bobot tubuhnya yang berat membuat hewan ini tidak bisa melompat dari pohon ke pohon. Namun, binturong memiliki ekor cengkeram yang mampu menggenggam dan bisa jadi seperti tangan tambahan, ini berguna saat memanjat pohon. Ekornya yang sangat panjang bisa berfungsi sebagai kaki ke lima untuk berpegangan pada dahan pohon.

Ia cukup pandai memanjat dan melompat dari dahan ke dahan tanpa tergesa-gesar. Ekornya digunakan untuk menjaga keseimbangan atau berpegangan saat sedang meraih makanan di ujung ranting. Binturong juga punya cakar berkuku tajam dan melengkung, yang memungkinkannya mencengkeram dengan kuat. Selain itu, kaki belakangnya dapat diputar ke belakang untuk berpegangan ke dahan pohon dan ia bisa turun dengan cepat dari pohon dengan kepala lebih dulu.

Binturong betina memiliki organ khas berupa penis palsu atau pseudo-penis. Keunikan lain yang identik dengan satwa ini adalah baunya yang khas, serupa aroma popcorn yang dipanaskan dengan mentega, ada juga yang menggambarkan baunya seperti keripik jagung.

Pada binturong jantan, aromanya lebih kuat dibandingkan betina. Bau ini rupanya berasal dari kelenjar di bawah pangkal ekorn dan air seni mereka yang tersebar di pepohonan sekitar hutan. Bau tersebut adalah tanda wilayah kekuasaan.

Binturong juga merupakan hewan nokturnal yang aktif di malam hari. Meski sering berada di atas pohon, ia juga turun ke tanah dan kadang-kadang aktif di siang hari. Satwa ini juga tergolong karnivora dan sehari-hari memakan daging, telur, burung, serangga, ikan, dan hewan pengerat. Namun, terkadang ia juga makan buah-buahan dan dedaunan.

Satwa ini juga disebut sebagai spesies kunci ekosistem hutan karena memiliki kemampuan dalam menyebarkan biji buah arah dan memberi pengaruh pada sebaran ekosistem hutan. Binturong juga dianggap sebagai hewan yang berisik. Ia akan mendengus ketika senang dan meraung saat kesal. Ia bisa mengeluarkan suara mendesis saat berkeliaran mencari mangsa. Binturong betina juga bisa mendengus ketika tertarik pada pejantan.

Meski ia hidup di daerah yang sama dengan spesies pemangsa seperti macan tutul, macan dahan, dan sanca batik, tetapi binturong jarang dimangsa. Ancaman terbesar bagi binturong adalah perdagangan liar, diburu untuk diambil bulunya sebagai bahan pengobatan tradisional, deforestasi hutan karena penebangan liar, pembakaran hutan, dan alih fungsi lahan hutan.

Pun ketika ada yang mengancam di hutan, binturong akan kabur ke pohon terdekat. Ia juga mengencingi hingga memberaki pihak yang mengancam. Binturong juga bisa menyeringai dan menggunakan rahang serta giginya yang kuat untuk membela diri.

Di Indonesia, binturong ditemukan di Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, tepatnya di hutan primer dan sekunder. Satwa ini juga tersebar ke Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, China, India, Laos, Malaysia, Vietnam, Nepal, Myanmar, dan Thailand.

Serupa Tapi Tak Sama, Mengenal Perbedaan Kambing dan Domba

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini