Memahami Apa Itu Merkuri Serta Dampaknya Bagi Kesehatan dan Lingkungan

Memahami Apa Itu Merkuri Serta Dampaknya Bagi Kesehatan dan Lingkungan
info gambar utama

Pada tahun 1953, tragedi Minamata terjadi dan menggemparkan dunia. Minamata merupakan nama teluk di Kota Minamata, Kumamoto Perfecture, Jepang. Tragedi ini terjadi saat penduduk Teluk Minamata mengongumsi ikan yang ternyata telah tercemar merkuri, limbah dari pabrik baterai PT. Chisso, yang kemudian menyebabkan kerusakan saraf dan organ lainnya.

PT. Chisso telah didirikan tahun 1908 dan terus berkembang sampai tahun 1930-an. Dalam perkembangannya, perusahaan itu menghasilkan limbah merkuri yang mencemari perairan di teluk Minamata, di mana masyarakat sekitar memang biasa mengonsumsi ikan dari teluk tersebut.

Semenjak saat itu, orang-orang mulai waspada terhadap merkuri dan bahayanya. Di Indonesia, merkuri telah tertera dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2001 tentang Bahan Berbahaya dan Beracun termasuk kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dengan karakteristik beracun, karsinogenik dan berbahaya bagi lingkungan.

Merkuri rupanya bisa ditemukan di sekitar kita dan tanpa disadari kita bisa ikut terkena dampaknya yang berbahaya.

Memahami merkuri dan penggunaannya

Produk bermerkuri | @itakdalee Shutterstock
info gambar

Pada dasarnya merkuri adalah unsur dan logam yang ditemukan di air, tanah, dan udara. Merkuri bisa ditemukan dalam tiga bentuk dengan sifat, penggunaan, dan toksisitas berbeda. Ketiga bentuk itu disebut unsur atau logam merkuri, senyawa merkuri anorganik, dan senyawa merkuri organik.

Unsur merkuri berbentuk cair pada suhu kamar dan dilepaskan ke udara ketika batu bara dan bahan bakar fosil lainnya dibakar. Sedangkan merkuri anorganik terbentuk ketika merkuri bergabung dengan unsur lain, seperti belerang atau oksigen, untuk membentuk senyawa atau garam.

Senyawa merkuri anorganik dapat terjadi secara alami di lingkungan. Senyawa merkuri anorganik digunakan dalam beberapa proses industri dan dalam pembuatan bahan kimia lainnya. Kemudian pada senyawa merkuri organik terbentuk ketika merkuri bergabung dengan karbon.

Organisme mikroskopis dalam air dan tanah dapat mengubah merkuri unsur dan anorganik menjadi senyawa merkuri organik, metilmerkuri, yang terakumulasi dalam rantai makanan. Secara keseluruhan, merkuri digunakan untuk pembuatan bahan kimia industri atau untuk aplikasi listrik dan elektronik.

Merkuri juga digunakan dalam termometer, barometer, pompa difusi, lampu uap merkuri, sakelar merkuri, kosmetik, pestisida, industri soda kaustik, produksi gas khlor, gigi buatan, baterai, katalis, dan di pertambangan emas. Limbah emisi merkuri dapat dihasilkan dari pembangkit listrik maupun industri semen yang menggunakan proses pembakaran dengan batubara.

Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3), KLHK, Rosa Vivien Ratnawati, menyebutkan bahwa merkuri berasal dari berbagai macam sumber, mulai dari emisi ulang hingga aktivitas manusia seperti Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK), produksi besi serta limbah peralatan merkuri.

"Merkuri yang dilepaskan ke lingkungan dari sumber alami dan aktivitas manusia, dapat memasuki media lingkungan. Senyawa tersebut akan tetap berada dalam siklus merkuri di lingkungan yakni air, udara dan tanah, sampai benar-benar terbuang dari sistem melalui penguburan di sedimen laut dalam atau sedimen danau, dan melalui penjebakan atau entrapment ke dalam senyawa mineral stabil," jelas Rosa.

Memahami Polusi Suara Serta Dampaknya Bagi Kesehatan dan Lingkungan

Bahaya merkuri bagi kesehatan dan lingkungan

Proses masuknya merkuri ke dalam tubuh manusia dapat melalui jalur pencernaan, kontak kulit, atau melalui rekayasa manusia sendiri yaitu melalui suntikan, dapat berupa suntikan intravena maupun intramuscular.

Unsur merkuri bisa terpapar manusia ketika menghirup udara di mana merkuri tumpah atau terlepas. Di dalam tubuh, unsur merkuri dapat diubah menjadi merkuri anorganik. Kemudian, orang bisa terpapar merkuri organik ketika mereka makan ikan atau kerang yang terkontaminasi metilmerkuri. Metilmerkuri dapat melewati plasenta dan memengaruhi janin yang sedang berkembang.

Rosa menjelaskan bahwa merkuri juga bisa meracuni sumber pangan. Misalnya di ladang padi yang lokasinya tak jauh dari aktivitas PESK yang menggunakan unsur merkuri. Ikan yang hidup di ekosistem yang tercemar merkuri juga bisa ikut tercemar.

"Dampaknya terhadap kesehatan bisa menyebabkan kerusakan paru-paru, gangguan pencernaan, kerusakan ginjal, kerusakan sistem saraf pusat, cacat mental, kebutaan, kerusakan otak hingga gangguan pertumbuhan pada anak," jelasnya.

Beberapa dampak merkuri pada kesehatan antara lain kerusakan paru-paru yang parah, gangguan neurologis, masalah memori, ruam kulit, kelainan ginjal, kerusakan pada sistem saraf, dan menyebabkan kelainan perkembangan hingga cerebral palsy pada bayi yang ibunya terpapar merkuri.

Sementara untuk dampak merkuri bagi lingkungan di Indonesia kebanyakan berasal dari pertambangan emas skala kecil. Kegiatan pertambangan semacam itu menggunakan merkuri untuk memisahkan emas dari batuan dengan menggunakan proses yang mengasilkan amalgam. Titik-titik yang tersebar dari kegiatan ini dapatmenyebabkan paparan merkuri yang terdapat di perairan, sedimen, biota, dan manusia.

Kabid Minerba Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Utara, Jimmy Mokolensang, mengatakan bahwa penggunaan bahan merkuri tidak sesuai aturan dampaknya sangat membahayakan lingkungan.

“Lingkungan sangat terpengaruh dengan adanya aktivitas pertambangan, jadi jangan sampai ada aktivitas-aktivitas ilegal yg nantinya malah merugikan banyak orang,” ujar Jimmy.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 (PSLB3) Tuti Hendrawati Mintarsih dari KLHK menyampaikan bahwa menurut pendapat para ahli danhasil penelitian telah membuktikan bahwa merkuri adalah senyawa kimia yang berbahaya dan beracun.

Berdasarkan data dari the United Nations Environment Programme (UNEP) pada 2013, diperkirakan lebih dari 20 persen (sekitar 400 metric tons per tahun) dari global antropogenik emisi merkuri pada tahun 2010 berasal dari pembangkit listrik berbahan baku batubara. Seperti yang kita ketahui bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara masih digunakan untuk menopang kelistrikan di Indonesia karena dianggap paling murah.

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Alihuddin Sitompul mengagatakan bahwa penurunan emisi merkuri dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti memasang instalasi Instalasi Sistem Pengendalian Pencemaran Udara pada seluruh PLTU batubara di Indonesia dan menerapkan teknologi Clean Coal Technology, seperti teknologi boiler super critical dan ultra-super critical yang dapat mengurangi lepasan emisi gas buang termasuk merkuri.

Dukung Perikanan Berkelanjutan, KKP dan ASEAN Kembangkan Fisheries Refugia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini