Sosok Karaeng Pattingalloang, Raja dari Timur yang Mencintai Ilmu Pengetahuan

Sosok Karaeng Pattingalloang, Raja dari Timur yang Mencintai Ilmu Pengetahuan
info gambar utama

Banyak alasan mengapa Makassar memainkan peran penting dalam sejarah Jalur Rempah Nusantara. Meski tidak menghasilkan rempah endemik, Makassar telah memainkan fungsinya sebagai pusat perdagangan Maritim.

Makassar pada masa lampau menjadi pelabuhan yang sangat ramai, menyediakan perbekalan bagi kapal yang akan melanjutkan pelayaran ke timur dan barat. Di tempat ini pula pertukaran budaya antara bangsa Timur dan Barat terjadi.

Dari segala hal itu, tidak ada satu tokoh yang paling terkenal oleh orang-orang Eropa dari kota-kota pelabuhan selain Karaeng Pattingalloang (1600-1654). Dirinya tersohor karena kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.

Pattingalloang adalah putra Raja Tallo VII Karaeng Matoaya (1573-1636). Dirinya bernama lengkap I Mangangada’-cina I Daeng I Ba’le Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud Tumenanga ri Bontobiraeng.

Semasa hidupnya, dia kerap membuat orang Eropa kagum terhadap kemampuannya, mulai dari kemahirannya dalam berbagai bahasa asing, serta kegemarannya mengoleksi benda-benda unik.

Perang Makassar, Ketika Ayam Jantan dari Timur Tolak Tunduk kepada Belanda

Beberapa hal yang unik adalah pada tahun 1644, dia memesan dua bola dunia, peta dunia besar serta dua buah teropong. Benda-benda yang dia pesan dari Benua Biru ini sontak membuat kaget dan semakin menarik perhatian ilmuwan Eropa.

“Sejak usia delapan belas tahun, dia meminta orang-orang Inggris untuk mengirimkan kepadanya penemuan-penemuan terbaru teknologi perkapalan,” tulis Anthony Reid dalam Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.

Karena talenta kepemimpinan dan pengetahuan yang luas, sejak muda Pattingalloang telah diberikan tanggung jawab untuk mengurus daerah Ujung Tanah di Makassar. Jabatan ini dirinya emban sebelum menjadi Raja Tallo.

Ketika memasuki usia 39 tahun, Pattingalloang kemudian dilantik menjadi Raja Tallo yang sekaligus menjabat sebagai Perdana Menteri Kesultanan Gowa mendampingi Sultan Malikussaid (1639-1659).

Begitu penting posisi tokoh ini sebagai calon pemimpin Kesultanan Gowa-Tallo. Karena itu dalam lontara Gowa disebutkan bahwa Sultan Malikussaid hanya mau menjadi raja bila didampingi memerintah oleh Pattingalloang.

“Ia (Pattingalloang) bahkan menjadi mangkubumi Kerajaan Makassar untuk 3 raja sekaligus, Sultan Alauddin, Sultan Malikussaid, dan Sultan Hasanuddin pada tahun 1639 sampai 1654, sampai akhir hayat beliau,” tulis Rismawidiawati, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional di Makassar.

Bapak Makassar

Bagi orang-orang Eropa, nama Pattingalloang sangat dikenal dibandingkan raja-raja lain sezamannya. Dalam sumber asing, dirinya bahkan mendapat julukan dari orang Eropa sebagai Bapak Makassar.

Hal ini terjadi bukan hanya karena dirinya selalu berinteraksi dengan sangat baik kepada semua orang asing yang datang ke negerinya. Tetapi terutama sebagai seorang raja yang semangat belajarnya luar biasa dan tidak lazim ditemukan di Nusantara pada masanya.

Misionaris Katolik bernama Alexander de Rhodes yang bertemu dengan Pattingalloang di Makassar pada tahun 1646, begitu kagum dengannya. Rhodes menyebut Pattingalloang memiliki gairah pada semua cabang ilmu yang dirinya pelajari siang dan malam.

Rhodes mengenang sosok Pattingalloang selalu meminta diajarkan semua rahasia ilmu pengetahuan. Ketika dirinya mengajak Pattingalloang bercerita mengenai agama, dia selalu mengalihkan topik pembicaraan kepada soal pengetahuan.

“Pattingalloang sangat bijaksana dan mengetahui semua misteri kita. Dia membaca semua kronik raja-raja di Eropa. Di tangannya selalu ada buku-buku kita, terutama mengenai ilmu pasti,” catat Rhodes yang diungkap dalam buku Reid.

Pattingalloang pun terus berusaha memiliki peranti ilmu pengetahuan, misalnya pada tahun 1644 dia mengirimkan sebelas bahar kayu cendana senilai 660 real menuju Batavia untuk diteruskan ke Belanda sebagai alat pembayaran.

Kota Terbesar Indonesia Kedua di Luar Pulau Jawa

Peranti pengetahuan yang dimaksud adalah dua bola dunia (keliling 157-160 inci), sebuah peta dunia besar yang keterangannya ditulis dalam bahasa Spanyol, Portugis atau latin, sebuah atlas dunia, dua buah teropong berkualitas terbaik.

Empat tahun kemudian, bola dunia yang dipesannya dari Belanda tiba di Makassar, sedangkan bola dunia raksasa buatan Joan Blaeu baru tiba di awal tahun 1651. Hal ini pula yang membuat nama Pattingalloang semakin menarik para ilmuwan Eropa.

“Sehingga wajahnya dilukis dalam Atlas Maior karya Blaeu di sisi kanan atas, sejajar dengan lukisan pembuatnya di sisi kiri atas,” tulis Abd Rahman Hamid, Peneliti dan Staf Pengajar Dept. Sejarah Universitas Hasanuddin.

Pattingalloang pun dikenal sebagai seorang Poliglot. Pergaulannya yang luas membuatnya menguasai beragam bahasa. Rhodes bahkan menyebut bila tidak melihat sosoknya, Pattingalloang pasti akan dikira orang Portugis.

Selain Portugis, dirinya juga bisa berbahasa Spanyol dan Latin. Bahasa terakhir ini menjadi penting untuk mempelajari ilmu pengetahuan klasik Eropa. Lebih lanjut, Rhodes menyebut Pattingalloang telah menguasai dengan baik jalur perdagangan dengan membaca raja-raja Eropa.

Yang dikagumi yang terlupa

Domingo Fernandes, seorang pastor dari Spanyol pernah terkagum-kagum ketika tinggal di Makassar pada rentang waktu 1657-1658. Kekagumannya ini karena melihat koleksi perpustakaan besar Pattingalloang yang dilengkapi dengan jam lonceng bagus.

Dimuat Tirto, Denys Lombard mencatat Pattingalloang pernah minta dikirimi lonceng besar seberat 4 hingga 5 pikul kepada Gubernur Jenderal VOC pada Juni 1684. Dia juga mengharapkan menerima sepasang unta jantan dan betina.

“...Untuk pesanan-pesanan itu Karaeng Pattingalloang siap membayar semuanya, bukan minta gratis. Ketika pesanan bola dunia tiba, ternyata tak hanya bola dunia saja yang dia pesan.”

Andi Mattalata dalam berjudul Meniti Siri dan Harga Diri: Catatan Dan Kenangan menyebut Pattingalloang juga senang memelihara badak, kuda nil, jerapah, unta, kuda arab dan kuda eropa, berbagai jenis antilope, zebra dan anoa.

Namun meski cinta pada ilmu pengetahuan Barat, Pattingalloang punya pendirian soal agama. Rhodes nampaknya berusaha mengkristenkan Pattingalloang, namun usahanya tersebut tampak sia-sia.

Siap-Siap, Makassar New Port Akan Rampung Pada Oktober 2018!

Setengah abad kemudian, misionaris Belanda, Francois Valentijn, tiba di Makassar yang juga memberikan testimoni untuk tokoh Makassar yang memukau ini. Valentijn menyebut Pattingalloang adalah pemimpin utama dalam semua urusan Makassar.

“Hal ini juga berdampak pada hubungan Makassar dengan Belanda terjalin baik selama ia mendampingi Sultan Gowa selama 1639-1659, yakni Sultan Malikussaid,” tulisnya.

Dengan kemampuan bahasa ini, digunakan oleh Pattingalloang untuk berkorespodensi dengan bangsa-bangsa asing. Kemampuannya ini kemudian dirinya wariskan kepada putranya, Karaeng Karunrung yang kelak mendampingi Hasanuddin.

Bapak Makassar ini juga terkenal dengan nasihatnya mengenai kehidupan bernegara, salah satunya adalah mengenai lima sebab hancurnya sebuah negara besar:

  1. Bila raja tidak mau lagi dinasehati
  2. Bila tidak ada lagi kaum cerdik cendikia di dalam negeri
  3. Bila terlalu banyak hakim dan pejabat suka makan sogok
  4. Bila terlalu banyak masalah dalam negeri
  5. Bila raja tidak lagi menyayangi rakyatnya

Sejarawan Makassar, Daeng Mangemba menyatakan Pattingalloang bisa merumuskan petuah ini berkat mengikuti nasihat dari ayahnya, Karaeng Matoaya, yakni mamallakko ri tumalambusuk yang artinya “takutlah kepada orang yang jujur”.

Setelah Pattingalloang meninggal dunia pada tahun 1654, putranya jadi penggantinya dan dikenal anti-Belanda. Namun sepeninggal Pattingalloang, pamor Makassar meredup karena bisa dikalahkan oleh VOC.

Kerajaan Gowa, lantas dipaksa menandatangi Perjanjian Bongaya pada 1669, ketika federasi Makassar dipimpin Sultan Hassanuddin. Nama yang belakangan lebih dipilih sebagai nama Universitas di Sulawesi Selatan.

“Apakah banyak orang-orang yang belum kenal siapa itu Karaeng Pattingalloang yang begitu tinggi rasa ingin tahu dan cintanya pada ilmu pengetahuan?” tanya Petrik Matanasi dalam Karaeng Pattingalloang, Raja Pecinta Sains dari Timur.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini