Masih Turun Hujan Meski Sudah Masuk Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG

Masih Turun Hujan Meski Sudah Masuk Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG
info gambar utama

Sebagai negara tropis, ada dua musim yang terjadi di Indonesia, yakni musim hujan dan kemarau. Masing-masing dari dua musim yang dimaksud biasanya juga memiliki waktu atau masanya sendiri. Secara umum, musim kemarau biasanya terjadi di bulan April hingga Oktober, sedangkan musim hujan terjadi dari bulan Oktober hingga April.

Namun, seiring berjalannya waktu kondisi tersebut kian berubah. Semakin sering terjadi kondisi tak menentu di mana musim hujan dan kemarau tak lagi berlangsung sesuai perkiraan normal.

Ada beberapa hal yang diyakini menjadi penyebabnya, mulai dari kondisi alam yang dikaitkan dengan fenomena perubahan iklim, hingga situasi anomali yang kerap terjadi.

Seperti yang terjadi baru-baru ini di mana bulan Juli seharusnya sudah memasuki musim kemarau, namun di beberapa wilayah justru terjadi hujan yang cukup lebat dalam kurun waktu yang lama dan merata.

Mengapa kondisi tersebut bisa terjadi, dan apa sebutan untuk fenomena yang dimaksud?

Hantam Asia Selatan, Amankah Indonesia dari Fenomena Gelombang Panas?

Musim kemarau yang diikuti hujan di Indonesia

Sekadar informasi, sebelumnya BMKG sudah merilis penjelasan mengenai prediksi musim kemarau yang akan terjadi di Indonesia pada tahun 2022. Disebutkan bahwa pada tahun ini, awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia yang mencakup luas 835.859 kilometer persegi akan terjadi di bulan Juni-Juli, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat.

Namun, rupanya disebutkan bahwa musim kemarau yang terjadi bukan berarti menandakan tidak akan turun hujan. Bahkan, mengutip IDN Times, BMKG disebut tetap memprediksi bahwa akan turun hujan dalam waktu seminggu ke depan--hingga tanggal 23 Juli.

Lebih detail, meski saat ini sudah memasuki musim hujan namun beberapa daerah di Indonesia akan mengalami hujan dengan intensitas sedang-lebat, yang terjadi di kawasan Jawa Barat-Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua.

Menurut penjelasan Guswanto, selaku Deputi Bidang Meteorologi BMKG kondisi tersebut disebabkan karena masih aktifnya beberapa fenomena dinamika atmosfer skala global-regional yang cukup signifikan.

"Kondisi tersebut masih turut berpengaruh terhadap penyediaan uap air secara umum di atmosfer Indonesia," ujar Guswanto

Adapun fenomena yang dimaksud terdiri dari La Nina yang diidentifikasi masih terjadi dengan katgeori lemah di bulan Juli. Lain itu ada pula fenomena dikenal dengan sebutan Dipole Mode.

Memahami Fenomena Suhu Panas Terik yang Melanda Indonesia

Fenomena Dipole Mode

Gambaran fenomena dipole mode | Dok. BMKG
info gambar

Dalam kesempatan berbeda, peneliti Meteorologi BMKG yakni Deni Septiadi menjelaskan, jika proses terjadinya hujan saat musim kemarau merupakan proses kompleks dinamika atmosfer yang melibatkan banyak faktor dan parameter.

Keanekaragaman kekasaran permukaan di wilayah Indonesia juga berperan besar. Di mana pada beberapa permukaan wilayah Indonesia terbagi dalam beberapa bentuk pola, ada yang di pesisir, pegunungan, dataran rendah, bahkan daerah perkotaan dan pedesaan.

"Karena itu, terkadang satu wilayah lebih basah sementara wilayah lainnya cenderung lebih kering," jelas Deni.

Terkait fenomena dipole mode (DM), kondisi tersebut didefinisikan sebagai perbedaan anomali suhu permukaan laut antara Samudera Hindia tropis bagian barat dengan Samudera Hindia tropis bagian timur.

Anomali di atas memiliki kondisi yang lebih dingin dari normal dan muncul di wilayah pantai barat Sumatra atau Samudra Hindia bagian timur. Fenomena dipole mode ini lah yang oleh BMKG disebut cukup berpengaruh dalam memicu peningkatan curah hujan terutama di wilayah Indonesia bagian barat.

Terkait situasi perubahan iklim, Deni menyebut jika secara umum kondisi alam yang saat ini terjadi memang punya potensi memengaruhi karakteristik kelabilan atmosfer. Di mana hal itu juga berpotensi berdampak pada potensi bencana hidrometeorologi (banjir dan sejenisnya) yang semakin masif dan membahayakan aktivitas manusia.

"Pergeseran musim juga bisa menjadi indikasi nyata perubahan iklim yang harus menjadi perhatian kita bersama," pungkas Deni.

Mitigasi Bencana Iklim dengan Mendorong Perwujudan Green Banking

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini