Legiun Canthang Balung, Pasukan Pengusir Lelembut dari Keraton Surakarta

Legiun Canthang Balung, Pasukan Pengusir Lelembut dari Keraton Surakarta
info gambar utama

Setelah proses panggih temanten, Presiden Joko Widodo menggunakan busana khas Jawa berada di depan kedua mempelai, Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution yang menuju ke pelaminan pada tahun 2017 silam.

Ada hal yang menarik ketika prosesi menuju pelaminan tersebut. Di depan iringan pengantin terdapat sepasang penari dengan busana basahan yang mukanya bercat putih dan badan dilumuri warna kuning.

Itulah canthang balung atau edan-edanan. Keberadaan canthang balung bagi tradisi Keraton Surakarta memiliki akar sejarah yang panjang. Mereka tidak serta merta muncul hanya untuk mengiringi pengantin menuju pelaminan.

Pasukan canthang balung ini pernah dikerahkan oleh Pakubuwono II (1711-1749), Raja Kartasura untuk menggusur para lelembut. Ketika itu PB II ingin kembali membangun keraton yang rusak akibat peristiwa Geger Pecinan (1740-1743).

“Dia pun membuat keraton baru dengan lokasi yang baru pula karena dia percaya keraton lama sudah kehilangan pamor karena peristiwa tersebut,” tulis Aryono dalam Pasukan Penggusur Lelembut yang dimuat Historia.

4 Lelembut Menurut Cerita Rakyat Indonesia

Para penasihat raja kemudian berunding, lalu mereka bersepakat bahwa wilayah Kedung Lumbu di Desa Sala sebagai calon keraton baru. Tetapi proyek keraton baru ini banyak menghadapi kendala.

Aryono menjelaskan bahwa Kedung Lumbu merupakan daerah rawa yang ditumbuhi tanaman talas. Kemudian, sialnya lagi, wilayah ini dipercaya sebagai pusatnya lelembut yang dipimpin Uling Putih dan Nyi Blorong.

“Banyak kesukaran dalam melaksanakan pembangunan keraton baru. Penghuninya yang misterius juga harus digusur terlebih dahulu,” demikian tertulis dalam Bagaimana Dulu Raja Solo Menggusur Daerah Setan dan Jin yang dimuat dalam majalah Cinta (1973).

Para penasihat raja bertekad menyukseskan proyek pembangunan keraton baru itu. Namun waktu yang dibutuhkan untuk membuka hutan, meratakan tanah dan membangun keraton memakan waktu cukup lama.

Sedangkan gangguan kepada para pekerja sering terjadi, misalnya kejang-kejang. Peristiwa ini dipercaya merupakan pengaruh dari gangguan makhluk halus. Karena itu oleh para penasihat raja dianjurkan untuk mengadakan upacara guna mengatasinya.

Melawan lelembut

Nyi Roro Kidul telah meminta kepada Uling Putih dan Nyi Blorong yang mengepalai barisan lelembut agar berpindah tempat, daripada mendapat murka dari raja. Tetapi belum sempat para lelembut ini pergi, raja telah mengirimkan pasukan.

Pakubuwono II saat itu sudah mengirimkan pasukan berpakaian aneh dan menabuh beragam alat gamelan. Tiba-tiba suasana di tempat tersebut menjadi gaduh sehingga membuat para lelembut kocar-kacir.

Pasukan Pakubuwono II ini dipimpin oleh canthang balung di barisan terdepan. Pasukan ini berpakaian aneh, memakai topi berkerucut tinggi, berkain merah, berkalung bunga melati, berikat pinggang sindur, jenggot terurai putih dan mengacungkan tombak Kyai Slamet.

Sementara itu di belakangnya, berbaris pasukan Panyutro. Pasukan ini tubuhnya diberi bedak kuning, bercelana dan berbaju kuning pula dengan model terpotong, berikat kepala batik motif bango tolak, serta bersenjatakan panah dan keris.

Di belakang regu Panyutro, berbaris prajurit Prawirotomo yang berkostum hitam-hitam mulai dari topi hingga celana. Disebutkan dalam artikel tersebut para lelembut tidak berani kepada ketiga regu pasukan itu karena mereka prajurit penghibur Nyi Roro Kidul.

Tarian Nini Thowong, Permainan Boneka Arwah yang Penuh Mistis dari Jawa

“Akhirnya, para lelembut itu berhasil digusur. Keraton baru pun dapat berdiri dengan nama Keraton Surakarta Hadiningrat,” tulis Aryono.

Kedudukan canthang balung dalam sejarah pun mengalami pasang surut. Setelah berjasa mengusir para lelembut di Kedung Lumbu, pasukan ini kemudian ditempatkan di bagian abdi dalem niyaga yang tugasnya mengiringi watangan setiap Sabtu sore.

Namun, jelas Aryono, setelah watangan dihapuskan pada abad 19, pasukan ini menempati posisi baru sebagai jajar yang bertugas menari tarian Gajah Ngombe di depan bangsa Angun-angun pada waktu raja berjalan meninggalkan Siti Hinggil menuju kedaton.

Kemudian pada era Pakubuwono X (1866-1939), canthang balung lantas dikelompokkan dalam abdi dalem golongan kridhastama. Sebagai penggembira, pasukan ini mempunyai kebebasan untuk mengatakan segala sesuatu yang mereka inginkan.

Melalui kedudukannya layaknya badut, para canthang balung memang ditugasi untuk membuat sebuah lelucon. Namun pada lelucon ini mereka sering memasukan unsur-unsur kritik sosial.

“Sebagai abdi dalem kridhastama, cantang balung memang ditugasi untuk membuat lelucon. Sifatnya menghibur, supaya orang yang menyaksikan bisa bergembira,” ujar Dhanang Respati Puguh, sejarawan dari Universitas Diponegoro yang dipaparkan Historia.

Menjaga tradisi

Pasukan canthang balung sempat tidak dipakai sejak Kasunanan Surakarta dihapuskan sifat swaprajanya setelah tahun 1945. Namun, pada 1973 pasukan ini kembali tampil dalam perayaan Sekaten Keraton Surakarta hingga hari ini.

“Canthang balung merupakan media untuk menjaga agar upacara dapat berjalan sebagaimana mestinya, sesuai yang diharapkan,” ujar Dhanang.

Arkeolog W.F Stutterheim menyebut pasukan canthang balung merupakan bentuk baru dari pendeta yang berada di barisan terdapat dalam suatu acara keagamaan. Misalnya figur ini ditemukan dalam penelitian relief Candi Borobudur di tahun 1935.

Stutterheim meneliti tokoh brahmana yang digambarkan berjenggot dan berkumis sedang menari. Adegan di relief tersebut diyakini sebagai pendahulu dari pasukan canthang balung yang diadaptasi oleh Keraton Surakarta.

Darsiti Suratman dalam Kehidupan Dunia Keraton menjelaskan kedudukan canthang balung sebagai brahmana bisa dilihat ketika memimpin pengiringan sajian suci ke tempat ibadah. Seperti saat berlangsung Grebeg Maulud.

“Pasukan canthang balung harus mengiringi gunungan Grebeg Maulud sampai ke halaman masjid,” catatnya.

Misteri Palasik, Sosok Hantu Pemangsa Bayi dari Ranah Minang

Sahaji dalam Canthang Balung dan Pesan Demokrasi Keraton menyebut canthang balung menempati posisi depan dalam proses gunungan. Prosesi berangkat dari Kori Kemandungan menuju Siti Hinggil.

Kemudian melewati Pagelaran, Tratag Rambat, dan terakhir menuju serambi Masjid Agung yang letaknya di sebelah barat Alun-alun utara Keraton Surakarta. Di Masjid Agung kemudian dibunyikan gamelan Sekaten.

“Masyarakat biasanya sudah sejak pagi menunggu prosesi tersebut bahkan mengikuti sejak keberangkatan dari dalam Keraton. Pada puncak acara, masyarakat memperebutkan gunungan yang merupakan rangkaian buah, sayur-mayur, dan kue apem,” paparnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini