Figur Bung Karno yang Tanggal Lahirnya Pernah Jadi Peringatan Hari Anak

Figur Bung Karno yang Tanggal Lahirnya Pernah Jadi Peringatan Hari Anak
info gambar utama

Presiden Soekarno pada masanya pernah mengubah gazebo yang berada di tengah lapangan hijau yang menghubungkan Istana Negara dan Istana Merdeka menjadi kelas Taman Kanak-Kanak (TK).

Beberapa siswanya yang bersekolah di TK ini adalah putra-putrinya. Juga anak-anak dari staf Istana dan juga penduduk sekitar. Bung Karno terlihat sering hadir untuk bermain bersama anak-anak yang bersekolah di tempat tersebut.

Mantan Kepala Staf Angkatan Udara (2002-2005), Chappy Hakim merupakan salah satu muridnya. Ketika itu keluarga Chappy tinggal di Jalan Segara -sekarang jalan Veteran- yang berada di dekat Istana.

“Sekolah TK di Istana sangat menyenangkan, karena jadwalnya hanya nyanyi-nyanyi, bermain, minum susu, dan terkadang mendapat sup masakan istana yang istimewa,” kenang Chappy dalam catatan blognya yang dibukukan dengan judul Cat Rambut Orang Yahudi dimuat Historia.

Soekarno dan Mimpi Bangun Institut Oceanografi Terbesar di Asia Tenggara

Lain lagi dengan Ismiati Isnaini yang memiliki kenangan yang tak terlupakan dengan Bung Karno. Ismiati bersekolah di lembaga pendidikan Soerjono yang akrab dengan panggilan Pak Kasur, seorang tokoh pendidikan dan pencipta lagu anak-anak.

Saat peringatan Hari Kanak-kanak -sebutan sebelum Hari Anak- dia mendapat undangan dari Istana Negara. Kesempatan ini tak pernah disia-siakanya untuk bertemu Bung Karno. Ismiati menyebut Bung Karno adalah seorang yang akrab terhadap anak-anak.

“Adik saya, Ismiatun, malah pegang-pegang hidung Bung Karno segala. Bung Karno senang. Beliau akrab, sayang terhadap anak-anak,” tulis Ismiati dalam tulisannya untuk buku Pak Kasur: Pengabdi Pendidikan.

Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang melihat kedekatan Bung Karno dengan anak-anak itulah yang menjadi alasan untuk mengusulkan agar 6 Juni, hari lahir Soekarno, sebagai Hari Kanak-kanak Nasional.

Melacak Hari Anak

Kowani memang telah sepakat menyelenggarakan Hari Kanak-kanak Indonesia. Namun kesepakatan yang diputuskan dalam sidangnya pada tahun 1951 ini hanya secara prinsip, tanpa keputusan penetapan hari dan tanggalnya.

Majalah Rona yang terbit pada 1988 menyebutkan usulan yang masuk waktu itu adalah tanggal 3 Juli yang bertepatan dengan Hari Taman Siswa dan 25 November sebagai hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Walau tanpa keputusan tanggal, tahun berikutnya telah digelar Pekan Kanak-Kanak pada 18 Mei 1952. Terlihat dalam koleksi Perpustakaan Nasional kemeriahan acara tersebut.

“Anak-anak berpawai di depan Istana Merdeka dan disambut Presiden Soekarno,” tulis Budi Setiyono dalam Mencari Jejak Hari Anak.

Pada sidang Kowani di Bandung tahun 1953 akhirnya disetujui penyelenggaraan Pekan Kanak-kanak Indonesia dilakukan setiap minggu kedua bulan Juli, ketika itu ada waktu luang menjelang kenaikan kelas anak-anak sekolah.

Tetapi karena bertepatan dengan libur sekolah, Pekan Kanak-kanak sering berubah-ubah. Sejak 1956, mingguan Djaja menulis Pekan Kanak-kanak diadakan tanggal 1-3 Juli sesuai dengan Keputusan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun karena tidak ada nilai sejarah di dalamnya, penyelenggaraan Pekan Kanak-kanak menjadi terasa hambar. Terlebih lagi, acara ini kalah meriah dibanding Hari Kanak-kanak yang digelar Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).

Gerwani ketika itu memperingati Hari Kanak Internasional setiap 1 Juni. Pertama kali diadakan di Jakarta dan berbagai kota Indonesia pada 1951. Pada tahun-tahun berikutnya, peringatan itu kian meriah serta mendapat dukungan dan sambutan luas.

Kisah Mesra Indonesia-Rusia: Berawal dari Ideologi hingga Bangun Stadion GBK

Bahkan pada acara Hari Kanak Internasional tahun 1964 di Gelora Bung Karno ini dihadiri oleh ribuan anak-anak ibu kota. Bung Karno yang datang pada acara itu memberikan pesan kepada anak-anak Indonesia.

“...agar anak-anak Indonesia cinta tanah air, setiap kepada rakyat, bangsa, dan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan berhaluan Manipol-USDEK,” tulis Budi Setiyono.

Tidak hanya Bung Karno, Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya mengatakan bahwa kesukaan akan makan kenyang, istirahat cukup, bermain, belajar, dan bekerja dengan senang baru akan diperoleh bila dunia tidak ada lagi penindasan.

Melihat kemeriahan Hari Kanak Internasional 1 Juni yang seringkali dihadiri oleh Bung Karno. Kowani akhirnya mengusulkan tanggal 6 Juni, hari lahir Soekarno sebagai Hari Kanak-kanak Nasional pada Kongres ke 13 di Jakarta pada tahun 1964.

Akhirnya Pekan Kanak-kanak menjadi sebuah rangkaian acara yang dimulai setiap tanggal 1 dan puncaknya tanggal 6 Juni, bertepatan dengan hari lahir Bung Karno. Restu pun didapat dari Soekarno.

Hari yang sempat menghilang?

Pada 1965, peringatan Hari Kanak Internasional disatukan dengan Hari Kanak-kanak Nasional mulai tanggal 1-6 Juni. Dilaporkan majalah anak-anak Kutilang (1965), anak-anak seluruh Jakarta merayakannya bersama putra-putri presiden di Istana Negara.

Lagu Indonesia Raya membuka acara tersebut. Kemudian ada sambutan dari Ibu Oei Tjoe Fat selaku ketua panitia, Ibu Subandrio dan Menteri Penerangan Achmadi. Perayaan kemudian dibuka oleh Megawati Soekarnoputri, putri presiden Soekarno.

Dalam acara tersebut dipentaskan beragam kesenian dari Tiongkok, Jepang, Uni Soviet, dan Jerman. Tidak kalah meriah, anak-anak Indonesia mementaskan berbagai kesenian berupa tarian, koor, deklamasi, gamelan dan sebagainya.

Sore harinya, perayaan dilanjutkan di Situ Lembang, kawasan Menteng Jakarta, dengan drumband dan lagu anak-anak. Lima hari kemudian, sebagai puncak dari perayaan, digelar apel besar untuk peringatan Hari Kanak-kanak Nasional di Taman Suropati.

Presiden Soekarno tak bisa hadir sehingga amanatnya dibacakan istri dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prijono. Disebutkan bahwa Bung Karno sangat terharu karena hari ulang tahunnya dirayakan di mana-mana dan dijadikan Hari Kanak–kanak nasional.

“Tahukah anak-anakku, mengapa Bapak (Red: Soekarno) pada hari ini merasa terharu? Sebabnya ialah tak lain dan tak bukan karena Bapak teringat kembali pada waktu aku masih sekecil dan semuda kamu sekalian.”

Kenangan dari Ende: Menyelami Strategi Bung Karno Mendidik Rakyat

Bung Karno mengingat sosok ayahnya yang merupakan guru dengan gaji tak seberapa. Tetapi dirinya beruntung karena diasuh dan dididik dengan penuh cinta kasih oleh bapak dan ibunya dan juga oleh pembantunya, Mbok Sarinah.

Pekan Kanak-kanak masih dirayakan pada 1966, walau kondisi politik saat itu sudah tidak menentu sebagai dampak dari peristiwa Gerakan 30 September 1965. Setelahnya kekuasan Soekarno tumbang dan akhirnya mengubah semuanya.

Pemerintah Orde Baru kemudian menetapkan tanggal 18 Agustus sebagai Hari Kanak-kanak, walau kemudian diprotes karena dekat dengan Proklamasi Kemerdekaan. Kemudian diubah kembali menjadi tanggal 17 Juni.

Seperti ditulis Kompas, sejak 1970 an peringatan Hari Kanak Internasional di Indonesia juga dilarang karena dianggap dengan dengan PKI. Pemerintah lantas menggantinya dengan mengikuti peringatan Hari Anak Sedunia setiap tanggal 20 November.

Sejak 1980 an peringatan Hari Kanak-kanak berubah menjadi Hari Anak Indonesia. Tetapi dalam perkembangannya banyak pihak yang mempertanyakan peringatan Hari Anak Nasional tanggal 17 Juni karena dianggap tidak ada nilai sejarah.

Akhirnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Nugroho menetapkan tanggal 23 Juli sebagai peringatan Hari Anak Nasional. Bertepatan dengan ditetapkannya Undang-undang Kesejahteraan RI Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini