Mengenal Wolbachia, Inovasi Teknologi untuk Pencegahan Demam Berdarah

Mengenal Wolbachia, Inovasi Teknologi untuk Pencegahan Demam Berdarah
info gambar utama

Nama demam berdarah dengue (DBD) tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia karena penyakit ini cukup umum ditemukan. Penyakit DBD merupakan kondisi yang disebabkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti, yang selama ini dikenal sebagai nyamuk pembawa DBD.

DBD juga masih jadi ancaman di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan jumlah penderitanya diketahui terus meningkat selama pandemi dan menjadi tantangan tersendiri di tengah upaya pengendalian Covid-19. Menurut catatan Kementerian Kesehatan mencatat di tahun 2022, jumlah kumulatif kasus DBD di Indonesia sampai dengan Minggu ke-22 dilaporkan 45.387 kasus dan jumlah kematian akibat DBD mencapai 432 kasus.

Untuk menekan ancaman penyebaran dan penularan DBD, The World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta yang dijalankan oleh Prof. Adi Utarini tengah melakukan penelitian terkait pengendalian virus DBD dengan menggunakan nyamuk aedes aegypti yang telah berbakteri wolbachia. Apa itu wolbachia, bagaimana cara kerjanya, dan sebera ampuh hasil penelitian ini? Berikut penjelasannya:

Mahasiswa UNY Kembangkan Gel Penurun Demam dari Daun Kupu-kupu

Memahami efektivitas wolbachia

Ilustrasi DBD | @Jarun Ontakrai Shutterstock
info gambar

DBD bukanlah penyakit yang bisa disepelekan. Ketika seseorang didapati terserang penyakit ini, ada beberapa gejala yang mungkin dialami. Mulai dari demam, nyeri sendi, ruam, sakit mata, sakit kepala dan otot, mual dan muntah, sakit perut, perdarahan dari hidung atau gusi, hingga muntah darah atau darah dalam tinja. Gejala biasanya dimulai dalam 24-48 jam setelah demam hilang.

Dalam tinjauannya ke Laboratorium Etomologi WMP Yogyakarta pada Jumat (22/7/2022), Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa ia ingin mempelajari cara menurunkan prevalensi DBD dengan cara mengontrol nyamuk dan bukan dengan menghilangkannya.

“Saya kesini mau belajar bagaimana menurunkan prevalensi dengue dengan cara mengontrol nyamuknya bukan menghilangkan, tapi membuat nyamuknya tidak menularkan virus lagi. Caranya dengan memasukkan bakteri wolbachia ke dalam nyamuk tersebut. Sehingga kalo nyamuknya mengigit tidak akan Menular,” kata Menkes.

Sebagai peneliti, Prof. Adi Utarini atau yang biasa disapa Prof. Uut menjelaskan bahwa wolbachia merupakan bakteri yang dapat tumbuh di serangga terutama nyamuk, kecuali nyamuk aedes aegypti. Wolbachia dapat melumpuhkan virus dengue sehingga jika ada nyamuk aedes aegypti menghisap darah yang mengandung virus dengue akan resisten sehingga tidak akan menyebar ke dalam tubuh manusia.

Untuk uji penyebaran nyamuk ber-wolbachia ini telah dilakukan di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Monitoring juga terus dilakukan oleh para perawat dan peneliti untuk melihat bagaimana efektivitas bakteri wolbachia terhadap terhadap penyebaran virus dengue.

Di lokasi yang telah disebar wolbachia ternyata hasilnya terbukti mampu menekan kasus demam berdarah hingga 77 persen. Menurut Prof. Uut, intervensi ini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan pemberian vaksin dengue dan dari segi pembiayaan pun diklaim lebih murah.

“Penelitian WMP Yogyakarta, sudah menghasilkan bukti bahwa di wilayah yang kita sebari nyamuk angka denguenya menurun 77,1 persen dan angka hospitalization karena dengue berkurang 86,1 persen. Intervensi ini efektivitasnya lebih bagus daripada vaksin dengue,” jelas Prof. Uut.

Bukan hanya dinilai efektif dan efisien, bakteri wolbachia juga aman dan gigitannya tidak akan memberikan dampak pada kesehatan manusia. Sebenarnya penelitian terhadap efektivitas wolbachia ini telah dilakukan sejak tahun 2011 oleh Prof. Uut dan WMP Yogyakarta. Penelitian dilakukan melalui fase persiapan dan pelepasan aedes aegypti ber-wolbachia dalam skala terbatas hingga tahun 2015.

Menurut keterangan Prof. Uut, jika aedes aegypti jantan ber-wolbachia kawin dengan aedes aegypty betina, maka virus dengue pada nyamuk betina akan terblok. Sementara jika nyamuk betina ber-wolbachia kawin dengan nyamuk jantan yang tidak ber-wolbachia, maka seluruh telurnya akan mengandung wolbachia.

Dengan adanya penelitian ini, Prof. Uut berharap inovasi wolbachia dapat diadaptasi sebagai program nasional dalam upaya menurunkan penyebaran DBD di Indonesia. “Jadi ini merupakan salah satu inovasi yang harapannya bisa menguatkan program pengendalian dengue di Indonesia agar masyarakat bisa terhindar dari dengue,” ujarnya.

Lebih lanjut Prof. Uut juga menyampaiakan bahwa keberadaan inovasi teknologi wolbachia tidak serta merta akan menghilangkan metode pencegahan dan pengendalian dengue yang sudah ada di Indonesia. Sebagai bentuk pencegahan, masyarakat tetap diminta untuk terus mempraktikkan gerakan 3M Plus yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang.

Untuk Plusnya yaitu bentuk upaya pencegahan tambahan seperti memelihata ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti nyamuk memasak kawat kasa pada jendela dan ventilasi, gotong royong membersihkan lingkungan, memeriksa tempat penampungan air, meletakkan pakaian bekas pakai dalam wadah tertutup, memberikan larvasida pada penampungan air yang susah dikuras, memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar, dan menanam tanaman pengusir nyamuk.

Memahami Apa Itu Merkuri Serta Dampaknya Bagi Kesehatan dan Lingkungan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini