Misteri Kebo Bule, Pusaka dari Keraton Solo sebagai Simbol Kekuatan Orang Jawa

Misteri Kebo Bule, Pusaka dari Keraton Solo sebagai Simbol Kekuatan Orang Jawa
info gambar utama

Kabar menyedihkan hadir menjelang peringatan malam 1 Suro (tahun baru Islam), Sabtu 30 Juli 2022. Hal ini karena kebo bule milik Keraton Kasunanan Surakarta (Keraton Solo) mati akibat terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK), pada Kamis (21/7).

Kematian kebo bule yang diberi nama Nyi Apon ini pun membuat sedih kalangan keraton. Adik Paku Buwono (PB) XIII yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, GKR Wandansari atau Gusti Moeng mengaku sedih mendengar kabar ini.

“Namanya Nyi Apon. Nama itu diambil dari waktu kelahirannya pada Ahad Pon. Sing njenengi nggi kula (yang memberi nama itu saya). Dari pemeriksaan petugas Nyi Apon mati karena PMK,” terangnya yang dimuat Solopos.

Kematian kebo bule ini memang begitu menyakitkan apalagi menjelang malam 1 Suro. Musababnya, hewan yang satu ini sangat erat sekali dengan perayaan hari penting bagi umat Islam di Solo tersebut.

Hewan ini memang memiliki warna kulit yang putih dan kemerah-merahan, sehingga membuat kerbau ini dijuluki sebagai “bule”. Masyarakat Kota Solo juga mengenal kerbau ini dengan nama Kyai Slamet.

Romansa Villa Park Banjarsari: Pemukiman Mewah Masyarakat Eropa di Solo

Bagi sebagian warga Solo, kerbau milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini dianggap bukan hewan sembarangan. Kebo Bule ini dipercaya memiliki unsur yang keramat dan juga bertuah.

Bahkan Keraton Solo pun menjadikan kebo bule sebagai salah satu pusakanya. Ketika peringatan 1 Suro, kerbau ini akan dikirab dan menjadi cucuk lampah atau pembuka dan pengawal dari pusaka-pusaka keraton lainnya.

Kebo bule ini pun diperlakukan secara istimewa. Hewan ini akan dikalungi bunga melati. Sebelum kirab dimulai, mereka akan dijamu dengan ubi. Konon, kirab ini tidak akan dimulai bila rombongan kebo bule itu belum mau keluar dari kandangnya.

Jumlah kebo bule yang dikirab pun berbeda-beda tiap tahunnya. Ada yang hanya berjumlah 9 ekor. Selain jumlah, jam untuk melakukan kirab kebo bule pun berbeda-beda setiap tahunnya, ada yang sebelum pergantian tahun atau di bawah jam pergantian tahun.

Pada perayaan malam 1 Suro, ribuan masyarakat selalu memadati ruas jalan yang akan dilalui kirab kebo bule. Mulai dari depan pelataran keraton kemudian mengelilingi tembok keraton dan kembali lagi ke dalam lingkungan keraton.

Masyarakat yang datang tidak hanya warga Solo. Beberapa dari mereka ada yang berkeinginan untuk ngalap berkah atau mencari berkah dari kebo bule. Bahkan ada juga yang ingin menyentuh kebo bule dan mengambil kotorannya.

Asal usul kebo bule

Kebo bule milik Keraton Solo ini memang bukan sembarang kerbau. Sebagai salah satu pusaka penting milik keraton keberadaannya selalu dijaga. Bahkan dikaitkan dengan unsur mistik dan keberkahan.

Ada dua versi mengenai asal mula hewan ini, pada versi pertama ada yang menyebutkan kebo bule berasal dari pemberian Adipati Surobroto dari Ponorogo. Sedangkan versi kedua menjelaskan hewan ini sudah ada pada zaman Sultan Agung.

Pada versi pertama dijelaskan bahwa ketika pemerintahan Sunan Pakubuwono II terjadi peristiwa besar di mana warga Tionghoa melakukan perlawanan terhadap VOC di Batavia. Kejadian ini merembet ke Jawa, terutama daerah kekuasaan Mataram Islam.

Karena itu Sunan Pakubuwono II melarikan diri ke Ponorogo untuk menemui kakaknya Pangeran Kalipo Kusumo di lereng gunung Bayangkaki Ponorogo. Dalam pertemuan ini PB II menceritakan segala yang terjadi kepada kakaknya.

Dalam pertemuan ini, kakaknya menyarankan PB II melakukan semedi di bawah pohon sawo. Saat bersemedi inilah PB II mendapat petunjuk ada benda pusaka yang diberi nama Kyai Slamet.

Namun ada syaratnya yakni PB II harus mencari kerbau warna putih yang gunanya mengawal atau mendampingi benda pusaka tersebut. Bupati Surobroto yang tahu akan hal itu kemudian mencarikan kebo bule di wilayah Ponorogo.

Tradisi Minum Teh, Cara Menjalani Hari bagi Masyarakat Solo

Bupati kemudian menemukan rumus yang diinginkan dan menugaskan Mbah Slamet menjadi srati kebo bule yang akan diberikan kepada PB II. Setelah diberikan, Tombak Kyai Slamet kemudian dimasukan ke dalam binatang langka tersebut secara gaib.

Kebo bule pun ikut dibawa rombongan PB II ke Keraton Surakarta. Para santri dan Kyai Mohammad Besari dari Tegalsari juga mengikuti kepergian sang raja dan beberapa tokoh santri terkemuka lainnya.

Konon, ketika PB II mencari lokasi untuk keraton yang baru, leluhur kebo bule tersebut dilepas dan di perjalanannya diikuti para abdi dalem keraton. Hingga akhirnya berhenti di tempat yang kini menjadi keraton solo.

Namun hingga kini pihak keraton tidak pernah bersedia menjelaskan apa bentuk pusaka Kyai Slamet. Karena bertugas menjaga dan mengawal pusaka, maka masyarakat menjadi salah kaprah menyebut kebo bule ini sebagai kerbau Kyai Slamet.

Kebo sebagai simbol

Malam 1 Suro memang sangat berarti bagi orang Jawa, tidak hanya dalam dimensi fisik tetapi juga spiritual. Sebagian masyarakat Jawa yakin bahwa perubahan tahun telah menandakan babak baru dari tata kehidupan kosmis Jawa, terutama pertanian.

Di sini peran kerbau sebagai simbol kekuatan yang secara praktis digunakan sebagai alat pengolahan pertanian begitu penting. Kebo Kyai Slamet dinilai sebagai sebuah visi dari seorang raja kepada rakyat.

“Secara harfiah visi Keraton Solo yaitu ingin mewujudkan keselamatan, kemakmuran, dan rasa aman bagi masyarakat,” jelas Kepala Sasono Pustoko Keraton Solo, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puger yang dimuat Okezone.

Karena itu dirinya menyebut kirab pusaka dan kerbau sebenarnya berakar pada tradisi sebelum munculnya Kerajaan Mataram Islam. Pusaka dan kerbau dipercaya sebagai simbol dari keselamatan.

Karena itulah pada pada awal masa Kerajaan Mataram, pusaka dan kerbau hanya dikeluarkan dalam masa kondisi darurat yakni saat pageblug (wabah penyakit) dan ketika terjadi bencana alam.

Banyak orang Jawa percaya pusaka dan kerbau mampu memberikan kekuatan kepada masyarakat. Dengan ritual kirab, Sang Pencipta akan memberikan keselamatan dan kekuatan seperti halnya memberi kekuatan kepada pusaka tersebut.

Jangan Lewatkan Mural Jalanan di Jalanan Solo Ini

Sejarawan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Sudarmono menyatakan selain dekat dengan kehidupan petani, sosok kerbau memang banyak mewarnai kerajaan di Jawa. Misalnya di zaman Kerajaan Demak ada seekor kerbau bernama Kebo Marcuet.

Hewan ini tidak bisa dikalahkan hingga akhirnya kerajaan mengadakan sayembara. Siapapun yang mampu mengalahkannya akan langsung diangkat jadi senopati. Secara mengejutkan, Jaka Tingkir atau Mas Karebet mampu mengalahkan hewan ini.

Sosok Jaka Tingkir ini kelak berperan dalam pemindahan kekuasaan Demak ke Pajang yang dekat daerah Pengging. Daerah ini lebih sarat dengan tradisi agraris karena itulah kerbau selalu dijadikan alat legitimasi kekuasaan.

Sementara itu munculnya kebo bule ditengarai hadir semasa Pakubuwono (PB) VI pada abad 18. Ketika itu PB VI dianggap memberontak dari kekuasaan Belanda dan sempat dibuang ke Ambon.

Meski PB VI dibuang, semangat pemberontakan dan keberaniannya menghidupi rakyat. Karena itu setiap peringatan naik tahta dan pergantian tahun, kebo bule selalu dihadirkan sebagai semangat dari pemberontakan dan kekuatan rakyat.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini