Pelayaran Laksamana Cheng Ho: Perubahan pada Dunia yang Tersisa di Nusantara

Pelayaran Laksamana Cheng Ho: Perubahan pada Dunia yang Tersisa di Nusantara
info gambar utama

Sekitar enam abad silam, tepatnya dari 1405-1433, serombongan pelaut dari China di bawah komando Laksamana Cheng Ho menyambangi lebih dari 30 negara Asia dan Afrika yang mengubah peta dunia.

Gavin Menzies yang melakukan riset selama 10 tahun dan menuangkannya dalam bukunya 1421: The Year China Discovered the World (2003) bahkan menganggap Cheng Ho sebagai penemu benua Amerika sebelum para penjelajah Eropa.

Disebut Gavin, hal ini dibuktikan dengan sebuah bangunan menara yang disebut Newport, terletak di Kepulauan Rhode, Amerika dan struktur bangunan di Bimini, kepulauan Bahama. Kedua adalah hasil karya Cheng Ho saat menjejak kaki di sana.

Cheng Ho yang dibantu empat kaptennya, Zhou Wen, Zhou Man, Yang Qing, dan Hong Bao dalam tujuh kali ekspedisinya, juga menemukan Australia, Selandia Baru, Antartika, dan pantai utara Greenland.

Plus, jelas Gavin, sebuah jalur pelayaran utara yang menghubungkan Laut Atlantik dengan Lautan Pasifik melalui Siberia dan Rusia. Dalam catatannya pelayaran Cheng Ho meninggalkan 24 peta berisi arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan.

Saga Bajak Laut yang Kuasai Selat Malaka, dan Upaya Laksamana Ceng Ho Menumpasnya

Jalur perdagangan China pun berubah, awalnya hanya bertumpu pada jalur darat -dikenal dengan Jalur Sutra-lalu berpindah menjadi Jalur Samudra Barat. Jalur inilah yang kemudian mempercepat tumbuhnya hubungan dagang antara Timur dan Barat.

Cheng Ho juga mencatatkan namanya di laut Nusantara. Dalam catatan, iring-iringan kapalnya membentang 1.000 meter di garis cakrawala, dan memanjang dengan jarak antara kapal pertama dan terakhir mencapai 1,5 kilometer.

Kekuatan laut ini mengangkut 30 serdadu, ratusan pejabat, 180 dokter, lima astrolog, puluhan akuntan, penjahit, juru masak, pedagang, dan penerjemah. Hal inilah yang diuraikan oleh Ma Huan dalam bukunya yang berjudul Ying-yai Sheng-lan.

Ma Huan adalah salah seorang yang berada di kapal tersebut. Dirinya adalah seorang Muslim dan menguasai bahasa Arab juga Persia. Dirinya ikut dalam pelayaran keempat Cheng Ho (1413) dan ketika itu masih berusia 25 tahun.

Ma Huan mengisahkan ketika itu kapal bertolak dari Campa -kini Vietnam- kemudian saat angin bertiup ke barat, rombongan ini menuju Surabaya, sebelum destinasi ini kemudian ke Palembang, Sri Lanka, Kalkuta, Hormuz, dan seterusnya.

Pada catatan Ma Huan, Jawa memiliki empat kota, tanpa dikelilingi dinding. Kapal ini mendarat di Tuban, lalu di kota yang bernama Gresik, dan terakhir Surabaya. Setelah itu rombongan sampai ke Kota Majapahit.

“Istana Majapahit bertembok bata, dengan gerbang dua lapis. Rajanya berambut kusut, terkadang bermahkota daun emas, tapi tanpa jubah, bertelanjang dada dan kaki. Dia hanya mengenakan selembar atau dua lembar kain sutra dengan ikat pinggang, untuk menyelipkan dua bilah pisau yang disebutnya pulatou,” tulisnya.

Jejak Cheng Ho

Selain catatan Ma Huan, catatan jejak armada Cheng Ho di Nusantara hanya terdeteksi pada sepotong kayu aji, balok kayu yang berwarna hitam. Ahli sejarah Cheng Ho di Surabaya, Willy Pangestu merasa yakin itulah bagian dari ekspedisi.

Kayu balok hitam itu, kata Willy sudah dites di laboratorium China. Hasilnya ternyata berkait dengan masa-masa armada Cheng Ho singgah. Sekarang kayu aji itu sudah disimpan di kelenteng Mbah Ratu.

Selain kayu aji di Surabaya, jejak kehadiran Cheng Ho memang terbatas seperti di Aceh yaitu lonceng Cakra Donya, dan jangkar di Semarang dan Tuban. Bahkan sejauh ini hubungan jangkar di Tuban dan Semarang dengan Cheng Ho masih diragukan.

Bahkan Ma Huan sendiri tidak menyebut Semarang sebagai salah satu titik singgah armada Cheng Ho, begitu juga juru tulisnya Fei Cin dan Gong Zheng. Sementara itu di Aceh, jejak kehadiran Cheng Ho malah lebih jelas keberadaannya.

Oei Tjeng Hien, Sosok Muslim Tionghoa Pembela Agama dan Negara

Dalam bukunya, Ma Huan menyebut Aceh sebagai Samudra. Sebuah pertanda bahwa mereka berhubungan dengan Kerajaan Samudra Pasai pada abad 15. Bahkan pada ekspedisi pertama, Cheng Ho berlabung di Samudra dan Lambri.

Samudra dan Lambri merupakan tempat yang selalu disinggahi dalam setiap ekspedisinya. Bahkan pada ekspedisi ketujuh, kapal mereka sampai di Malaka dan kembali berlayar pada 2 September 1432.

Pada 12 September 1432, kapal mereka sampai di Sumentala atau Samudra dekat Kuala Pasai. Kapal ini berlabuh di Taluman, yang dalam catatan perjalanan Ibnu Batutah pada bukunya Raja-raja Pasai disebut Sarhi atau Sarha.

“Tidak jelas letak Taluman sekarang,” tulis Tempo dalam buku Cheng Ho Tak Cuma Mampir di Semarang.

Di Pasai, Cheng Ho menghadiahkan lonceng raksasa Cakra Donya kepada Sultan Aceh. Lonceng ini masih tersimpan di Museum Banda Aceh. Buya Hamka menyebut lawatan Cheng Ho ke Pasai adalah keinginannya menimba ilmu tentang Islam.

Dalam kisahnya, saat masuk Sumatra menuju Samudra Pasai pada 1407, Cheng Ho sempat menumpas gerombolan bajak laut Chen Zhuji di perairan Palembang. Dalam catatan Cheng Ho, Palembang juga disebut San Fochi atau Polinpang.

Digambarkan oleh Ma Huan, kapal-kapal dari segala penjuru selalu merapat di pelabuhan yang memiliki banyak tugu batu bara, untuk mendapatkan air segar. Tapi, untuk mencapai ibu kota, para pendatang harus menempuh muara dan menggunakan kapal yang lebih kecil.

“Rumah-rumah sungai yang dibangun di atas rakit kayu. Jika air pasang, penduduk menggunakan tali untuk mencancang rumah sakit mereka di pinggiran sungai. Bila mereka bosan tinggal di satu tempat, rumah rakit dengan mudah dipindah ke lokasi lain,” tulis Ma Huan

Belajar dari Cheng Ho

Kepulauan Indonesia adalah kawasan yang paling sering disinggahi Cheng Ho, setidaknya tujuh kali. Sejumlah pelabuhan di pesisir utara Pulau Jawa dan Sumatra telah dijejakinya. Dirinya juga sempat mampir di Tanjung Priok dan Cirebon.

Pada 1415, Cheng Ho berlabung di Muara Jati Cirebon dan menghadiahkan cinderamata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satunya piring bertuliskan ayat kursi Al-Qur’an yang kini masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Ketika menyusuri Laut Jawa, Wang Jinghong, orang kedua dalam armada itu sakit keras. Cheng Ho kemudian memutuskan mencari daratan terdekat dan berlabuh di pantai Simongan, Semarang.

Wang kemudian memilih menetap dan dikenal dengan sebutan Kyai Jurumudi Dampo Awang. Keturunannya menjadi cikal bakal keberadaan warga Tionghoa di Semarang. Dia juga membangun patung Cheng Ho,dan Klenteng Sam Po Kong.

Liem Koen Hian dan Surat Kabar Tionghoa yang Menyuarakan Nasionalisme

Novelis Remy Solado menyebut pengaruh China paling besar bagi perkembangan budaya Indonesia salah satunya dibawa oleh Cheng Ho. Apalagi saat singgah di beberapa kota, jelas Remy, Cheng Ho sekaligus berdakwah.

Beberapa kias yang disajikan dalam khotbahnya dipetik dari cerita-cerita rakyat China. Satu di antaranya, jelas Remy adalah kisah Jaka Tarub yang kini telah menjadi bagian kesusastraan masyarakat Jawa.

“Itu belum termasuk pengetahuan tentang sutra dan keramik yang diberikan kepada masyarakat pribumi,” jelasnya.

Sejarawan Universitas Negeri Malang, M Dwi Cahyono juga menyatakan ketika di Tuban dan Surabaya, Cheng Ho mengajarkan tata cara pertanian, peternakan, pertukangan, dan perikanan kepada pribumi.

Remy juga menyebut karena mayoritas anggota armadanya masih muda, banyak dari mereka kemudian berbaur, kawin-mawin dengan masyarakat setempat. Perpisahan dengan anak buah merupakan hal biasa dalam setiap pelabuhan kapal.

Misalnya ketika berlabuh di Sunda Kelapa, juru masak kepercayaannya, Sam Poo Soei Soe menikah dengan Tiwati, gadis setempat dan tinggal. Hingga kini patung pasangan pengantin juru masak dengan gadis Sunda Kelapa ini bisa dilihat di Vihara Bahtra Bhakti di Ancol.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini