Menguak Makanan Manusia Purba di Pulau Sulawesi

Menguak Makanan Manusia Purba di Pulau Sulawesi
info gambar utama

Cangkang kerang itu, menempel di dinding-dinding gua. Menempel serupa bagian dari mineral batuan kapur yang terbentuk bersama, jutaan tahun lalu. Pandangan awal itu tidak sepenuhnya keliru. Namun, tidak semuanya tepat.

Kumpulan cangkang moluska, atau biasa disebut hewan tak bertulang belakang, adalah jenis makanan favorit manusia pada masa lalu. Makanan yang tersedia di banyak perairan dalam bentangan karst Maros-Pangkep. Sisa makanan itu lah yang kemudian disebut sebagai sampah dapur, atau dalam istilah arkeolog adalah Kjokkenmodinger (bahasa Denmark).

Selain mengendap di dinding gua, sisa makanan itu juga tersimpan di permukaan lantai gua hingga mengendap dalam sedimennya. Dalam banyak penggalian (ekskavasi), sisa makanan itu memberikan informasi yang sangat penting untuk mengetahui kondisi lingkungan masa lalu. Di Gua Pasaung, Maros, Sulawesi Selatan, penggalian dilakukan hingga 6 meter. Para arkeolog menemukan, ribuan jika tak ingin menuliskannya ratusan ribu cangkang.

Cangkang-cangkang kerang itu, terutama jenis siput air, sebagian besar bagian ekornya, sudah terpotong atau rusak, sebagian kecil masih utuh. Oleh para arkeolog cangkang itu kemudian dibersihkan dan dirapikan dalam kotak plastik dan diberi label untuk menandakan tempat temuannya.

Berkali-kali menyaksikan para arkeolog memegang dan membersihkan cangkang kecil itu, lalu memperhatikannya dengan saksama. Melihatnya menggunakan kaca pembesar, Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan, Rustan, pada sebuah penelitian memperlihatkan bagaimana cara manusia masa lalu memanfaatkannya. “Jadi mereka memukul dengan batu bagian cangkang belakang, lalu isinya bisa dihisap atau dicongkel,” katanya.

Moluska jenis Brotia sp. yang ditemukan di perairan air tawar di sekitar kawasan karst Maros Pangkep. Foto : Eko Rusdianto
info gambar

Rustan, dalam Sistem Perolehan Moluska pada Leang Jarie tahun 2001, menjelaskan bagaimana moluska itu diperoleh manusia yang menghuni gua pada masa itu. Dia membaginya dalam empat jenis moluska sesuai habitat hidupnya. Masing-masing yang hidup di air tawar, dengan jenis Bithinia sp., Brotia testudinaria, Melanoides tuberculate, dan Bellamnya javanica.

Jenis ini, hidup pada sungai berarus tenang dan deras yang berdasar pasir, lumpur dan bebatuan. Kondisi itu menggambarkan bagaimana sekitaran gua Jarie dengan kondisi itu memungkinkan manusia untuk mengumpulkannya dengan cepat. Di dekat situs gua Jarie di Maros, terdapat sungai Pattunuang Asue dan sungai Bantimurung, dan terdapat puluhan anak sungai kecil lainnya.

Sungai-sungai itu bermuara menuju Sungai Maros yang menghubungkannya dengan Selat Makassar, membentang sejauh 20 km. Kondisi lingkungan dengan perairan itu akhirnya memberi gambaran bagaimana manusia masa lalu memperoleh sumber makanannya. Cangkang moluska yang berada di situs Jarie melimpah dengan 5 jenis.

Rustan menghitung jumlah cangkang moluska air tawar yang menjadi sampel mencapai 1.043 buah. Namun salah satu moluska yang unik adalah Bellamnya javanica, hanya berkembang pada lingkungan air tawar yang tenang, seperti kolam, danau, dan rawa. “Bellamnya javanica, dapat berkembang dengan baik di lingkungan rawa-rawa. Tipe lingkungan ini masih dapat dijumpai sekitar 4 km sebelah barat situs, di sisi aliran sungai Bantimurung,” kata Rustan.

Pada lingkungan payau, penelitian itu menemukan dua jenis moluska, yaitu Melanoides torulosa dan Telescopium telescopium yang berkembang pada lingkungan mangrove. Bentangan mangrove, pernah menjadi ekosistem yang dominan di seluruh pantau di Sulawesi Selatan, namun sekarang terus merosot.

Lukisan cap tangan, di leang Jarie. Arah tangan yang jarinya ke bawah, usianya 30.700 tahun lalu. Telapak dengan jari ke atas 39.400 tahun lalu. Usia lukisan terpaut hampir 10.000 tahun. Foto : Eko Rusdianto
info gambar

Dalam rekonstruksi mangrove, kata Rustan, hutan mangrove pada jaman manusia purba berburu dan mengumpulkan makanan diperkirakan membentang di sekitar Sungai Maros, Sungai Soreang, Sungai Pangkejene, hingga ke wilayah endapan batuan alluvial di sekitar Bulu Lasitae di Pangkep. Sementara daerah sekitar Kajuara, Biring’ere dan Labbakang, adalah bagian dari dataran tinggi yang berada di belakang bentangan mangrove.

“Kemungkinan daerah potensial manusia penghuni situs Jarie, untuk mendapatkan kerang air payau adalah di Sungai Maros dan sepanjang pesisir pantai Maros-Pangkep,” kata Rustan.

Sementara moluska air asin, ditemukan sebanyak 266 cangkang. Jenis yang mendominasi adalah Bivalvia dan Gastropoda. Analisis Rustan menyatakan, jika pantai sekarang lebih rendah 5 meter seperti 4.500 tahun yang lalu, maka daerah pantau yang paling berpotensi berada di bagian utara dan dekat muara sungai Maros.

Wilayah jelajah pengumpulan makanan

Leang Jarie atau Gua Jarie, adalah situs purbakala yang memiliki lukisan tangan berusia 39.400 tahun yang lalu. Dan pada 2018, penemuan kerangka manusia di lantai guanya berusia 2.750 tahun yang lalu. Temuan lainnya, adalah mata panah (maros point) berusia 8.000 tahun yang lalu, alat berburu yang paling tua ditemukan dalam tradisi Toalian.

Situs Jarie adalah gua yang istimewa. Temuan-temuannya menjadi salah satu jembatan mengetahui masa lalu. Ketika Rustan menganalisis cangkang moluskanya, dia juga memberi kita gambaran mengenai kondisi lingkungan masa lalu.

Sekitar 4.000 tahun yang lalu dengan sekarang, kondisi lingkungan tidak jauh berbeda. Sementara suhu pada masa awal hingga pertengahan holosen antara 10.000 hingga 8.000 tahun yang lalu hanya 1° hingga 2° C lebih tinggi dari masa sekarang. Pada periode itu, peningkatan suhu global mengakibatkan es kutub mencair dan elevasi laut global secara bervariasi. Sementara di wilayah tropis titik tertinggi muka laut terjadi sekitar 8.000 tahun yang lalu, lebih tinggi sektiar 6 meter dari saat ini. Dan inilah yang menyebabkan garis pantai lebih dekat dengan wilayah karst sekitar 6.000 hingga 4.000 tahun yang lalu.

Kenaikan muka laut terkonfirmasi pada penelitian lain, dimana di lepas pantai semenanjung barat daya sekitar 4.500 hingga 1.600 tahun yang lalu, lebih tinggi masing-masing 5 hingga 2,5 meter. Lalu bukti lainnya, ditemukannya endapan laut yang terangkat di Daratan Sunda menunjukan laut pernah mencapai 6 meter dari permukaan sekarang, antara 6000 hingga 3000 tahun yang lalu.

Maka bagaimana kondisi Maros pada sekitar 4.500 tahun yang lalu, dimana garis pantainya diperkirakan lebih dekat sekitar 10 km bergeser ke arah timur dari sekarang. Jika demikian maka situs Jarie terletak tidak lebih dari 15 km dari pantai, dan pada sisi selatan situsnya sekitar 18 km dari pantai. Pada era juga ditandai dengan curah hujan dan kelembaban lebih rendah.

Saat proses penelitian Mei 2018, tulang manusia purba yang ditemukan dilapisi cairan kimia untuk memperkuat strukturnya. Foto : Eko Rusdianto
info gambar

Dan curah hujan inilah yang mempengaruhi bentuk dan morfologi wilayah, dimana proses kimia dengan adanya air hujan (CO2) yang bekerja selama ribuan tahun menjadi bahan pelarut batuan gamping – Ca(HCO3)2. Setelah melalui proses panjang inilah kemudian dialirkan ke sistem hidrologi, hingga menuju sungai.

Saat berdiri di sebuah jembatan di batang sungai Maros, melihat aliran dan bentangan yang besar itu, sebenarnya menyaksikan proses alam bekerja selama ratusan ribu tahun lalu. Dalam aliran yang bergerak menuju laut, itu membawa zat-zat yang melarut, dari mulai bahan-bahan kecil, proses penorehan dan pengikisan lereng-lereng dan material di dasar sungai.

Proses alam ini juga lah yang mempengaruhi bagaimana pola hidup manusia yang berada di sekitaran kawasan. Rangkaian proses itulah yang kemudian membentuk topografi lahan, digunakan untuk pertanian, perikanan, dan wilayah perburuan.

Banyaknya aliran air yang kemudian bermuara ke sungai besar, kemudian menuju laut, membawa materialnya. Saat ini, pembukaan lahan, menjadi perkebunan, pertanian, dan tambak, menyebabkan beberapa anak sungai mengecil. Akibatnya, endapan tanah lumpur dari aliran permukaan dengan mudah terseret menuju muara. Dimana seharusnya muara sungai yang berhulu di bentangan karst, pada kondisi bentangan yang sehat, tidak membawa aliran lumpur, sebab telah tersaring melalui celah batuan.

Gambar anoa di dinding Goa Uhallie yang terletak di bentangan karst Maros – Pangkep – Bone. Tim arkeolog BPCB Sulawesi Selatan sedang monitoring. Foto: Eko Rusdianto
info gambar

Moluska sumber protein

Moluska adalah hewan lunak yang bercangkang, hidup di perairan dan bergerak lamban. Jika pada masa lalu, hewan ini cukup banyak, maka pemilihannya sebagai sumber makanan untuk memenuhi kalori dan protein sangat layak.

Moluska tidak diburu, melainkan dikumpulkan. Dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus menggunakan peralatan khusus, baik oleh anak-anak hingga orang dewasa dan tua. Sekitar 4.000 tahun yang lalu, moluska banyak dijumpai di sekitar situs-situs arkeologi. Dan menjadi sangat wajar, “Perolehan sumber makanan ini memperlihatkan penghematan dalam penggunaan energi,” kata Rustan.

Rustan membandingkannya dengan perburuan hewan besar, seperti Babi, Anoa, Kuskus, atau Monyet. Berburu, sumber makanan utama yang besar di darat, membutuhkan strategi khusus. Kemampuan memanah hingga kemampuan untuk menangkap.

Khusus di situs Jarie, sebagai tempat penelitian, sumber makanannya cukup beragam. Dalam endapan sedimen lantai guanya, ditemukan hewan darat besar, hingga sumber nabati. Sumber-sumber pangan masa lalu itu, diperoleh di sekitar kawasan tempat bermukim.

Dalam analisis lain, para arkeolog menyepakati jika wilayah jelajah masyarakat yang menghuni situs Jarie mencapai 29 km. Namun wilayah jelajah itu tidak menjadi pusat utama eksploitasi mereka dalam mencari makanan, melainkan hanya sekitar 2,5 km persegi.

Temuan moluska air asin, menjelaskan jika masyarakat Jarie, dapat berjalan hingga ke muara sungai di pesisir pantai Maros. Tapi, pencarian atau pengumpulan makanan itu hanya dilakukan sesekali waktu, sebab rentang jaraknya yang cukup jauh. Menggunakan analisis Site Exploitation Territory, masyarakat Jarie dapat berjalan menuju pesisir Maros jika ingin mendapatkan moluska air asin, maka dibutuhkan perjalanan sekitar 4 jam atau 8 jam pulang pergi, dengan jarak sekitar 24 km.

Lansekap kawasan karst Maros Pangkep, Sulawesi Selatan yang indah dan menakjubkan. Foto : Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
info gambar

Gambaran keadaan lingkungan masa lalu ini juga menjelaskan, kebutuhan akan moluska yang banyak untuk bahan pangan, membuat aktivitas pengumpulan lebih banyak dilakukan di sekitaran sungai air tawar di sekitar Jarie. Sekitar 3 km dari sisi lain Jarie, terdapat rawa kecil, dimana kemungkinan pada masa lalu adalah lingkungan rawa yang cukup luas.

Ketersediaan moluska sebagai sumber pangan, hingga saat ini masih bertahan. Pada Februari 2022, di kawasan karst Salenrang, seorang warga mengantar anaknya mencari kerang air tawar yang mereka sebut Biri-biri – jenis Gastropoda air tawar. Dia mencarinya di sumber air dekat bendungan kecil di sekitar desa. Meski pada masa lalu, kerang ini berlimpah di sepanjang bentangan sungai utama dan anak sungai. “Kalau pun ada, Biri-biri sudah berkurang dan berukuran kecil,” katanya.

Pernyataan itu terkonfirmasi di beberapa wilayah karst. Dimana beberapa aliran sungai, jenis moluska sudah mulai susah ditemukan. Rustan dalam penelitiannya, mengutip Silvana Tana staf pengajar Biologi, Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin, mengatakan jika populasi moluska dipengaruhi oleh jumlah populasi manusia yang mengkonsumsi dan penggunaan pestisida untuk pertanian saat ini.

Pertanian yang saat ini menggunakan beragam pestisida baik untuk pupuk, hingga penggunaan racun hama, membuat beberapa sisa pestisida mengalir menuju sungai-sungai permukaan dan terbawa arus. “Akibatnya untuk moluska dari lingkungan air tawar jumlahnya semakin menurun bahkan menjadi sulit, kecuali pada musim tertentu,” kata Silvana, dalam laporan itu.

==

Artikel ini adalah republikasi dari artikel di MOngabay.co.id atas kerjasama GNFI dengan Mongabay Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini