Mengenal Budaya Macapat, Budaya Lokal yang Sempat Jadi Alat Doktrin

Mengenal Budaya Macapat, Budaya Lokal yang Sempat Jadi Alat Doktrin
info gambar utama

#FutureSkillsGNFI

Indonesia sebagai negara yang terdiri atas berbagai suku tentu juga memiliki beragam budaya lokal. Budaya lokal tersebut berkembang seiring perkembangan zaman dan perilaku masyarakatnya.

Masyarakat Jawa mungkin tidak asing dengan tembang yang biasa dialunkan ketika acara-acara besar seperti pernikahan. Tembang berisi puisi dalam Bahasa Jawa yang biasanya dibacakan dengan cara disenandungkan atau dilagukan ini, disebut tembang macapatan.

Budaya macapat hingga saat ini masih terus diupayakan untuk dilestarikan, lho Goodmates. Diperkenalkannya budaya lokal ini lewat sektor pendidikan diharapkan mengundang minat kawula muda sekaligus membuka peluang bagi insan-insan masa depan yang akan melestarikan budaya ini.


Namun, Goodmates tahu tidak akan keberadaan budaya lokal yangselain mencerminkan masyarakat , juga berperan dalam memajukan perilaku masyarakat. Mulai dari pendidikan bahkan hingga dijadikan alat doktrin.

Ilustrasi Macapatan | Foto: solopos.com

Penyaluran Agama Islam

Fungsi tembang macapat pada awalnya banyak digunakan sebagai media agama Islam, khususnya di masa wali songo. Dalam kegiatan dakwahnya, Wali Songo banyak menggunakan metode yang mengakulturasi budaya lokal saat itu, misalnya lewat metode seni dan suara.

Salah satu Wali Songo yang menggunakan metode tersebut ialah Sunan Giri yang menciptakan tembang macapat jenis Asmaradana dan Pucung. Selain itu, ia juga menciptakan lagu permainan, seperti Jelung, Jamuran, Cublak-cublak Suweng, dan sebagainya.

Metode penyaluran agama Islam menggunakan tembang macapatan dilakukan karena hasil pengamatan akan masyarakat Jawa yang sangat tertarik dengan dunia tarik suara. Kesempatan tersebut tentu saja tidak disia-siakan oleh para wali untuk menggunakan tembang macapatan sebagai sarana dakwahnya, lho Goodmates.

Sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti

Ketika Sekolah Rakyat masih berkembang, tembang macapat banyak dipergunakan sebagai bahan utama dalam mengajarkan budi pekerti kepada anak-anak. Bahan pokok yang digunakan dalam pengajaran budi pekerti itu banyak mengambil cakepan tembang yang berasal dari Serat Wedatama.


Nah, Serat Wedatama itu sendiri banyak berisi tentang falsafah kehidupan, seperti hidup bertenggang rasa, bagaimana menganut agama secara bijak, menjadi manusia seutuhnya, dan menjadi orang berwatak ksatria.

Ilustrasi Lomba Macapatan oleh Remaja | Foto: id.wikipedia.org

Digunakan dalam Acara Ritual

Goodmates, kamu pasti tahu kalau di budaya kita masih ada tradisi-tradisi seperti upacara ritual. Nah, macapat juga digunakan dalam acara ritual, khususnya yang bersifat kejawen.

Tembang macapat utamanya dipakai dalam acara tirakatan (tidak tidur di malam hari), acara itu diselenggarakan misalnya ketika ada sanak keluarga yang baru melahirkan atau yang akan mempunyai hajat menantu.

Macapat juga digunakan sebagai pengganti ngruwat, yaitu kegiatan untuk menghilangkan hal-hal buruk pada diri seseorang, terutama pada mereka yang berusia anak-anak.

Tujuan pelantunan tembang macapat baik pada acara tirakatan maupun pengganti ngruwat, ialah untuk menangkal roh jahat yang mengancam keselamatan, khususnya mereka yang rentan diganggu roh jahat seperti ibu hamil dan anak-anak.

Macapat sebagai Alat Doktrin

Pada era Orde Baru kita mengenal istilah P4, yaitu Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau Eka Prasetya Pancakarsa. Tujuan utama penataran P4 saat itu adalah untuk membentuk pemahaman yang sama mengenai demokrasi Pancasila sehingga diharapkan persatuan dan kesatuan nasional akan terbentuk dan terpelihara.

Negara dalam upayanya untuk memperoleh legitimasi dari rakyat, melakukan berbagai kebijakan-kebijakan, baik dari segi ideologis, konstitutif, maupun politis. Sistem budaya, yang mana nanti dibawahnya terdapat budaya lokal, merupakan ‘kendaraan bermakna’ dan ‘sistem simbol’ yang mencerminkan kehidupan masyarakat.

Sehingga, tidak mengherankan ketika doktrin negara juga menyentuh budaya lokal. Masa Orde Baru merupakan masa di mana banyak pegiat kesenian sangat berhati-hati dalam menunjukkan kegiatan seninya, tak terkecuali budaya macapatan.

Namun, dalam perkembangannya budaya macapatan juga dipakai sebagai alat doktrin P4 yang dilakukan oleh Orde Baru, mengingat betapa fleksibel dan dekatnya budaya satu ini dengan masyarakat, khususnya suku Jawa.

Ketika itu, pelaku-pelaku kesenian macapatan harus diawsi oleh pemimpin setempat dalam memberikan arahan agar praktik budaya berjalan dengan baik, tertib, dan aman. Dibentuk juga seksi khusus yang bertugas menyiapkan materi tembang macapatan yang bernuansa P4.

Demikianlah, dinmika budaya masyarakat menjadi sarana paling ‘halus’ dalam memasukkan ideologi juga sebagai cerminan kehidupan masyarakat, yang sering kali tanpa disadari masyarakat itu sendiri.

 

Refrensi:

Hakim, Suparlan A. 2019. Budaya Lokal dan Hegemoni Negara: Legitimasi Kuasa di Balik Kearifan Lokal. Malang: Intrans Publishing

Rafiatun, Nisa. 2018. Jurnal Studi Agama : Nilai Pendidikan Islam dalam Kesenian Tembang Macapat. Vol. 17, No. 2.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini