Integrasi Pengembangan Wisata Pedesaan dari A Sampai Z

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

Integrasi Pengembangan Wisata Pedesaan dari A Sampai Z
info gambar utama

Berbicara pariwisata di negara kita, semua bangsa ini patut bersyukur atas anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa negeri yang indah, kaya akan berbagai budaya, keindahan alamnya, keramahan masyarakat dsb.

Semua itu adalah kekuatan atau strength dari negeri ini di sektor pariwisata karena kekuatan potensi itu tidak semua negara di dunia ini memilikinya. Salah satu dari banyak potensi itu adalah keragaman desa diseluruh nusantara yang memiliki kekhasan budaya dan keindahan alamnya.

Baru-baru ini pada bulan April 2022 lalu Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengumumkan daftar desa wisata yang lolos babak besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

Ada 70.000 desa di seluruh Indonesia, pada tahun ini terjaring 3.419 peserta desa dari 34 provinsi. Masing-masing desa memiliki keunikan sendiri yang dapat menarik wisatawan dalam dan luar negeri

Diluar daftar 50 desa itu, saya ambil contoh tiga desa yang menarik yaitu pertama desa Penglipuran, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, merupakan desa tradisional dengan penampilan yang bersih dan asri, menjual produk kerajinan tangan lokal dan menawarkan penginapan homestay.

Kedua desa Nepal Van Java yang terletak di Desa Butuh, Kecamatan Kaliangkrik, Magelang Jawa Tengah; desa ini menampilkan rumah–rumah penduduk bertumpuk seperti di negara Nepal. Desa ini terletak di lereng Gunung Sumbing.

Ketiga, Desa Kemiren, Banyuwangi tempat masyarakat Osing yang memiliki tradisi unik yaitu tradisi “Mepe Kasur” atau menjemur kasur Suku Osing yang dilaksanakan setiap awal bulan Dzulhijah Kalender Jawa atau menjelang perayaan Iduladha.

Tradisi itu menarik karena semua warga desa mengeluarkan kasurnya yang memiliki warna khas yaitu merah dan hitam dan menjemurnya didepan rumah. Menjadikan pemandangan yang unik karena berjejernya kasur-kasur di desa Kemiren.

Namun potensi yang sangat kaya dan bagus itu apabila tidak ada kebijakan dari pemerintah daerah maupun pusat yang terintegrasi. Artinya percuma saja potensi yang besar itu bila tidak dibarengi dengan pembangunan “supporting service”-nya, misalkan transportasi, industri cinderamata dsb.

Sahabat saya satu delegasi di Pertukaran Pemuda ASEAN-Jepang tahun 1982 bernama Olyda Idris, seorang wanita karier yang sukses dan sering traveling ke dalam dan luar negeri memberikan masukan yang kritis untuk desa-desa wisata itu.

Misalkan di desa Nepal Van Java Magelang transportasinya sulit, mobil wisatawan berhenti di bawah lereng gunung dan berganti dengan kendaraan ojek yang melewati jalan sempit dan berlubang.

Dia juga melihat ada banyak tempat wisata yang fasilitas toiletnya masih kotor; para penjual cinderamata yang memaksa wisatawan untuk membeli; serta tidak adanya penjelasan mengenai kekhasan suatu cinderamata.

Saya pernah berkunjung dengan diplomat Amerika Serikat ke NTT yang membeli topi tradisional, tapi bertanya apa kekhasan topi itu? Kalau tidak ada penjelasan tetang topi tersebut, apa bedanya dengan topi yang saya beli di suatu desa di Mexiko, katanya.

Pendapat sahabat saya Olyda Idris dan pertanyaan diplomat itu dijelaskan oleh Timothy (2005) mengategorikan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan wisatawan akan suvenir menjadi dua faktor: intrinsik (fitur demografis dan psikografis dan latar belakang budaya) dan faktor ekstrinsik (karakteristik tempat ritel, layanan yang diberikan kepada pelanggan dan karakteristik suvenir).

Memang wisatawan yang membeli produk cinderamata lokal itu mencari produk yang unik atau setidaknya mewakili kekhasan budaya daerah yang bersangkutan.

Saya sendiri pernah mengikuti kongres internasional Small Business (UMKM) di Hotel Kempinsky, Kairo, Mesir, tahun 2019. Panitia kongres memberi tas kecil terbuat dari kain kanvas yang berisi brosur, informasi dsb kepada setiap peserta kongres.

Tas itu biasa-biasa saja, masih bagus dari tas yang saya dapat dari acara seminar di Surabaya atau Jakarta. Tapi tas kain canvas itu ada label kecil di bagian kanan atas da nada tulisannya “Tas ini dibuat oleh ratusan pengusaha UMKM Kairo”. Itu lah narasi yang diperlukan oleh orang asing.

Jadi pemerintah tidak hanya menetapkan suatu daerah apakah itu desa atau wilayah sebagai destinasi wisata, tapi harus juga membangun infrastruktur pendukung, jasa pendukung (supporting services) agar destinasi wisata kita bisa bersaing dengan negara lain.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini