Peran Soedjono Hoemardani, Jenderal yang Jadi "Dukun" Kesayangan Soeharto

Peran Soedjono Hoemardani, Jenderal yang Jadi "Dukun" Kesayangan Soeharto
info gambar utama

Ketika Soeharto naik tahta, dia dibantu oleh sejumlah pejabat tinggi dalam Angkatan Darat. Dua yang menjadi pengikut loyalnya adalah Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani. Ali merupakan otak di balik intelijen, sedangkan Soedjono sebagai penasihat spiritual.

Menurut buku biografi Liem Sioe Liong berjudul Liem Sioe Liong’s Salim Grup: The Business Pillar of Suharto’s Indonesia yang ditulis oleh suami-istri Nancy Chang dan Richard Borsuk disebutkan Soedjono terkenal sangat dengan dengan Soeharto.

Bahkan dalam buku itu terungkap, hanya Soedjono saja yang mendapatkan izin masuk kamar Soeharto selain Ibu Tien. Soedjono memang selain menjadi staf pribadi, juga dikenal sebagai dukun yang handal sehingga dipercaya Soeharto jadi penasehat spiritualnya.

Saking kuatnya pengaruh Soedjono kepada Soeharto, para jurnalis ketika itu memberikan julukan Rasputin Indonesia kepadanya. Grigori Rasputin merupakan ahli mistis dan orang terpercaya keluarga Nicholas II (kaisar terakhir Kekaisaran Rusia) pada 1915.

Melansir dari Kempalan, Soedjono yang dikenal dengan panggilan Djonit merupakan pria kelahiran Solo. Dirinya adalah anak dari seorang pedagang di Desa Carikan, Raden Hoermardani yang bekerja sebagai supplier bahan pokok dan abdi Kasunanan Surakarta

Setelah lulus dari Gemeentelijke Handels School (sekolah dagang) di Semarang, sekitar tahun 1937, Djonit pulang ke Solo untuk mengelola usaha ayahnya, sekaligus jadi anggota merangkap bendahara organisasi pergerakan bernama Indonesia Muda.

Gua Semar, Tempat Pertapaan Soeharto Cari Wangsit untuk Jadi Pemimpin

Dirinya kemudian memilih meniti karir di dunia militer dan sempat belajar di Fort Benjamin Harrison di Indianapolis, Amerika Serikat. Di sana Soedjono menghabiskan waktu untuk belajar selama 10 bulan mulai tahun 1964.

Karir Soedjono kemudian terus menanjak pasca Gerakan 30 September (G30S) dan kemudian diangkat menjadi salah satu anggota dari Staf Pribadi (Spri) dari Presiden Soeharto yang dipimpin oleh Alamsyah Prawiranegara.

Menurut Michael Malley dalam jurnalnya Soedjono Hoemardani and Indonesian-Japanese Relations 1966-1974 menuturkan bahwa Soedjono bahkan ikut Adam Malik berkeliling ke Belanda, Amerika Serikat, dan Jepang pada tahun 1966.

Walau awalnya hanya menemani, tampaknya Soedjono berhasil menjadi figur penting dalam hubungan antara Jepang dan Indonesia. Dia berhasil melancarkan jalannya proyek Asahan yang diminta Kubota Yutaka, pengusaha dari Jepang.

“Untuk mendapatkan lisensi dari perusahaan Jepang, selain rekomendasi dari Menteri Perekonomian, rekomendasi dari Soedjono Hoemardani sangat penting. Sebab, pada tahap seleksi awal, Jepang lebih percaya kepada Soedjono yang dianggap sebagai utusan langsung presiden,” tulis Teguh Pambudi dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan dan Kearifan William Soeryadjaya yang diwartakan Tirto.

Guru spiritual

Pada pertengahan Juni 1968, karena banyak kritik atas aktivitas bisnis dari Spri, Soeharto kemudian membubarkannya dan menggantikannya dengan nama Asisten Pribadi (Aspri), nama Soedjono masih berada di dalamnya.

Hubungan Alamsyah dan Soedjono juga mulai tidak baik semenjak kegagalan pemerintah Indonesia mendapatkan bantuan dari pemerintah Jepang. Alamsyah saat itu mendapat kritik, sedangkan Soedjono selamat.

“Karena kesal, Alamsyah menuding bahwa Soedjono bukan orang yang pintar, tetapi hanyalah seorang dukun,” tulis Michael.

Soedjono memang seorang jenderal yang suka berbisnis, bahkan siapapun yang ingin berbisnis dengan Jepang harus melaluinya. Selain hubungannya dengan Jepang, salah satu relasi bisnisnya adalah dengan Bob Hasan di bidang perkapalan.

Soedjono juga merupakan orang yang membawa nama konglomerat Liem Sioe Liong kepada Soeharto. Sehingga Soeharto dan Liem bisa saling bersahabat lebih erat di masa pemerintahannya.

Selain itu kelakukan aneh Soedjono selalu saja menarik perhatian wartawan ketika itu. Bagaimana tidak? Soedjono sering menyambut tamu dengan kaki telanjang di ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lilin.

“Dia (Soedjono) pernah menerima duta besar negara Barat di ruangan yang gelap, dengan beberapa barang yang sepertinya mengandung kekuatan gaib menguar di cahaya yang remang-remang; dia mengenakan semacam kostum Jawa dan berjalan-jalan dengan kaki telanjang.” tulis salah satu jurnalis yang dimuat di Merdeka.

Cerita Soeharto Memimpin Malam Gema Takbir di Lapangan Monas

Bahkan salah satu julukan yang diberikan kepada Soedjono adalah Menteri Urusan Mistis. Memang bila ditilik ke belakang, hubungan antara Soeharto dengan Soedjono sudah terjalin lama dan keduanya disebut murid spiritual Soediyat Prawirokoesoemo (Romo Diyat).

Pada suatu waktu, Romo Diyat pernah berpesan kepada Soedjono agar menjaga Soeharto yang diramalkan akan menjadi orang hebat. Tetapi Soeharto sendiri mengecilkan peran dari orang kepercayaannya itu.

Dirinya membantah menjadikan Soedjono sebagai guru spiritualnya. Menurut Soeharto, ilmunya tak kalah dengan Soedjono. Selama ini dia hanya mendengar saja tanpa melaksanakan apa-apa yang disarankan Soedjono.

“Saya mendengar orang-orang mengatakan bahwa dia (Soedjono) mengetahui ilmu mistis lebih dari saya, namun Djono dulu sering sungkem ke saya. Dia menganggap saya sebagai senior yang mempunyai lebih banyak mengetahui soal mistis,” tulisnya dalam buku biografinya Soeharto: My Thoughts, Words and Deeds; An Autobiography.

Dibenci para tokoh

Kedekatan antara Soedjono dengan Soeharto, sepertinya membuat dirinya terlihat begitu angkuh. Dirinya bebas menjalin lobi dengan pihak asing dalam urusan penanaman modal di Indonesia tanpa sepengetahuan duta besar.

Dirinya bahkan kerap memanggil menteri kabinet untuk rapat di kantornya. Perannya yang begitu besar bahkan menimbulkan kegaduhan. Beberapa tokoh sempai kesal dan melontarkan kritikan kepada pemerintahan Soeharto.

Mochtar Lubis, jurnalis dan Pemimpin Redaksi Indonesia Raya mengkritik tindak tanduk Aspri - di dalamnya ada Soedjono - kerap mencampuri urusan departemen yang sebenarnya bukan wewenang mereka.

Beberapa Aspri, jelasnya, suka langsung memberi instruksi dan nota pada berbagai departemen. Mereka bahkan langsung memberi instruksi pada menteri sendiri. Ada pula yang langsung mengirim nota kepada direksi bank negara untuk mengeluarkan kredit.

“Tanpa menyebut nama, Mochtar agaknya merujuk hal ini kepada Soedjono Hoemardani,” papar Martin Sitompul dalam Ketika Asisten Pribadi Presiden Soeharto Berkuasa yang dimuat Historia.

Tokoh pejuang, Soetomo atau Bung Tomo pun ikut menentang. Menurutnya jaringan-jaringan swasta yang difasilitasi Soedjono telah membuat praktik cukongisme dan hanya memperkaya golongan tertentu.

Mewakili generasinya. Bung Tomo menuangkan kritiknya dalam Konsepsi Pejuang 45 yang ditujukan kepada pimpinan ABRI. Dirinya berharap Soedjono dan Ali dicopot dari Aspri dan dikembalikan ke ranah ABRI yang sesuai.

Film Janur Kuning, Pencitraan Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949

“Aksi-aksi yang dijalankan oleh aspri-aspri presiden yang bersifat ‘cari rezeki’ dengan dalih apapun, dengan mempergunakan kewibawaan kekuasaan Jalan Cendana, sulit untuk ditolerir masyarakat,” ujar Bung Tomo dalam Menembus Kabut Gelap: Bung Tomo Menggugat.

Kritik juga datang dari lingkungan kampus. Edy Budiyarso dalam Menentang Tirani: Aksi Mahasiswa 77/78 merekam aksi mahasiswa yang saat itu mencecar Soedjono sebagai dukun palsu karena memang sudah dikenal sebagai penasehat spiritual Soeharto.

Tetapi, Soeharto tetap membiarkan Aspri bekerja sampai Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari) pecah. Setelahnya Soeharto mengambil keputusan, Aspri ditiadakan dan semuanya dipulangkan ke posisinya semula,

Soedjono kemudian dikembalikan menjadi anggota DPR. Di sela-sela pekerjaannya jadi anggota parlemen, Soedjono bersama Ali juga menghidupi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dengan mencari dana.

Melihat kedekatannya Soeharto dengan Seodjono, dari bisnis dan masalah dunia kebatinan. Tak heran Soeharto sampai terisak ketika Soedjono dikabarkan meninggal dunia pada 12 Maret 1986 di Tokyo.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini