Komunitas Pelestari Gunung Salak, Pelestarian Alam Berbasis Kearifan Lokal

Sutanandika

Titip Leuweung jeung Maungna, Titip Cai jeung Walunganna

Komunitas Pelestari Gunung Salak, Pelestarian Alam Berbasis Kearifan Lokal
info gambar utama

“Pekerjaan saya dulu adalah penjerat burung”

Penulis harus mengutip Pramoedya "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian".

Tulisan ini adalah catatan serial perjalanan untuk mengupas lembaga-lembaga yang tergabung dalam kegiatan Cisadane Resik.

Tidak kurang dari 20 Lembaga Pendidikan mulai dari SMP sederajat kemudian SMA Sederajat lalu Perguruan Tinggi, 10 Lembaga Pecinta Alam, 15 Komunitas dan banyak pelaku bisnis baik perorangan bergabung dalam kegiatan ini.

Kami dari Pakwan Institute merasa perlu untuk membagikan profil dan kisahnya. Ternyata setelah diselami banyak kisah inspiratif yang “wajib” dituliskan dan dibagikan.

Untuk datang ke sekretariat KPGS, Penulis menghubungi Ki Usman via WA. Menanyakan agendanya saat ini, ternyata kosong, berangkat. Setelah mengirimkan lokasi, Penulis putuskan segera berangkat.

Perhitungan perjalanan satu jam sekian menit menurut hitungan Aplikasi Peta, tentu tidak mudah percaya dengan kondisi jalan yang beragam.

Penulis sudah pernah ke Parakan Salak, setidaknya 10 tahun yang lalu. Perjalanan dimulai dengan jalan yang cukup halus dari Cijeruk setidaknya sampai Cibuntu Cicurug.

Cibuntu adalah lokasi kegiatan Cisadane Resik Rescue ke 3, waktu itu banjir bandang menerjang kampung di wilayah perbatasan Bogor dan Sukabumi. Dari atas jembatan terlihat sungai kecil yang airnya seadanya, arusnya pun tidak lebih besar dari betis anak-anak.

Batu-batu dan pasir mendominasi. Namun dominasinya berbanding dengan sampah plastik dan styrofoam yang memenuhi aliran sungai kecil tersebut. Terlihat jelas juga bahwa DAS sungai diserobot oleh pemukiman penduduk, sehingga ketika banjir bandang datang mereka menjadi korban pertama.

Bisa dipastikan jika terjadi banjir bandang lagi yang akan menyapu pemukiman penduduk adalah air bercampur sampah-sampah tersebut disertai potongan-potongan kayu, lumpur dan lainnya. Semoga hal tersebut tidak terjadi lagi, asalkan penanaman hutan dan lahan kritis di Gunung Salak wilayah tersebut semakin digiatkan kembali.

Perjalanan selanjutnya dihiasi pemandangan yang indah, namun seperti dalam petikan wawancara dengan Ki Ocid dan Ki Usman bahwa jalanan di Sukabumi memiliki kualitas terburuk dibandingkan di Banten, Bogor dan wilayah lainnya.

Cukup menguras stamina dan bisa mematahkan semangat. Aplikasi pun meleset perhitungannya, dibutuhkan waktu 2 jam sampai ketitik yang dibagikan sebelumnya.

Penulis diterima di sekretariat KPGS, tempatnya sekitar 200 meter dari pinggir jalan. Sangat tenang, tidak ada suara kendaraan lewat. Tempatnya asri, terdiri dari sebuah saung “badak heuay” dan ada 2 kandang ayam pelung dan 1 kandang kalkun berbentuk seperti “leuit”.

Tidak jauh dari situ, sedang dibangun sebuah Musholla yang uniknya juga berbentuk leuit. Bentuk sisi persegi lima mengingatkan pada waktu sholat wajib, namun lupa penulis konfirmasikan. Masih dalam proses pengerjaan terlihat pinggirannya belum ditutup dan atapnya belum terpasang sempurna. “Hateup Kiray” nya belum selesai dibuat katanya.

Alhamdulillah selain dari biaya sendiri ada juga bantuan dari beberapa kawan. Semoga mereka diberikan kemudahan rejeki sambungnya, semoga juga bisa memfasilitasi para anggota KPGS dalam melaksanakan sholat 5 waktu.

Penulis menilai bahwa saung yang kami gunakan berbincang memang terlalu kecil, paling hanya dua orang yang bisa berjamaah di situ. Sedangkan yang sering datang ke sekretariat cukup banyak, bahkan kadang-kadang datang tamu dari luar kota bahkan dari pulau lain. Pilihan membangun lebih poda keinginan menjamu layak para tamu simpulan Penulis sih.

Asal pendirian KPGS dari hobi “leuleuweungan” atau ngecamp para Siswa dan Alumni Yayasan Al- Kholiliyah Parakansalak. Kondisi wilayah Gunung Wayang (Wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak Resort Javana) yang semakin gundul menyebabkan suasana kemah kurang greget.

Suara burung dan hewan hutan semakin hari semakin berkurang, padahal suara itu yang menjadikan suasana pagi atau malam saat berkemah menjadi berkesan. Selain itu, ketersediaan air semakin sulit, tak jarang mereka harus membawa air mineral atau mengambil air dari tempat yang jauh, hal tersebut membuat suasana menjadi kurang nyaman.

Begitu pula suhu udara, semakin hari semakin panas. Padahal udara menggigil saat kemah menyajikan sensasi yang tersendiri. Setidaknya kondisi tersebut yang menyadarkan komunitas tersebut untuk terdorong melembagakan diri serta membuat program penanaman pohon di lahan kritis.

Program ini awal-awalnya mendapat penentangan dari beberapa pihak yang merasa dirugikan (terancam, red). Ada beberapa kasus pohon yang ditanam dicabut kembali oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Hasil evaluasi ternyata hal tersebut disebabkan oleh ketidakmengertian karena kurangnya sosialisasi berujung kesalahpahaman.

Namun seiring waktu hal tersebut perlahan berubah. Aktivitas penanaman pepohonan ini diikuti oleh warga-warga setempat, bahkan menitipkan pesan agar ditanami juga lahannya dengan pepohonan buah produktif.

Tidak hanya warga, pihak Kehutanan (Penyuluh dari Cabang Dinas Kehutanan Wilayah III Jawa Barat) juga mendatangi KPGS. Menanyakan program yang dilakukan dan tujuan dari programnya. Hasil dari pertemuan tersebut disepakati beberapa hal, diantaranya dukungan bibit tanaman untuk suksesnya program penanaman yang dilakukan oleh KPGS.

Tidak hanya dari Dinas Kehutanan, pihak Resort Taman Nasional juga berjanji untuk membantu masalah legalitas dan menunjukan wilayah-wilayah garapan kegiatan penanaman pohon. Tentu saja berita tersebut menjadi kabar baik bagi para penggiat KPGS. semoga kedepan akan lebih sinergis lagi

Anak burung toed yang mengering

Usman, adalah seorang lulusan pesantren. Sejak umur 10 tahun ia mengenyam pendidikan Pesantren sambil menempuh pendidikan formal. Sampai saat ini ia juga aktif di lembaga pendidikan tempat ia belajar sebagai kadang-kadang membantu kegiatan Pramuka dan OSIS.

Selepas pendidikan, seperti pemuda lainnya ia mulai mencari pekerjaan. Salah satu pekerjaan yang dinikmatinya adalah menjerat burung. Selain sebagai penjerat ia mengajarkan cara menjerat dan menjual jaring-jaringnya.

Wilayah perburuannya tidak hanya seputaran Parakan Salak, ia bahkan berburu sampai ke hutan-hutan di Jampang. Bagi ia tidak ada hutan yang terlalu angker, tidak ada pohon yang terlalu seram. Bahkan tempat-tempat seperti itu justru yang disukainya.

Hutan yang angker serta pepohonan besar yang dianggap berpenghuni makhluk halus adalah ladang perburuan yang mengasyikan. Di wilayah tersebut burung-burung banyak dan bagus-bagus. Setidaknya keberanian itu diperoleh dari pendidikannya di Pesantren sebelumnya. Pendidikan mengajarkan bahwa manusia lebih mulia dibandingkan makhluk lainnya.

Suatu hari jerat yang dipasang Usman berhasil menjebak sepasang burung Toed. Lanius schach itulah nama latin untuk Toed atau Bentet. Memiliki suara yang merdu dan predator/pemakan serangga.

Suara yang merdu menyebutkan orang Sunda kadang menyebut orang yang terlalu suka berbicara disandingkan dengan burung tersebut, “kos toed” seperti Toed. Sifat alaminya sebagai predator sangat berguna untuk memangsa hama sebenarnya.

Sepasang burung toed itu akhir dijual dengan harga Rp100 ribu, sebuah angka yang cukup besar untuk ukuran waktu itu. Uang itu segera dibelikan rokok dan perbekalan menjerat burung berikutnya. Hal yang cukup biasa bagi para penjerat burung untuk menginap berhari-hari di hutan sampai dengan buruan dirasa cukup banyak.

Para penjerat burung memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di hutan seperti menyiapkan gubuk, memasak, mencari tanaman yang bisa dimakan dan sebagainya.

Tiga hari kemudian ditempat yang sama ketika ia menjerat sepasang toed, Usman menemukan sebuah sarang burung. Cukup dengan menggoyangkan pohon ia bisa menilai apakah sarang itu berpenghuni, hanya ada telur atau bahkan sudah kosong.

Ia menilai sarang tersebut berisi, namun tidak berespon. Hal tersebut menggugah kepenasaran yang mendalam. Ia memutuskan untuk memanjat pohon dan yang ditemukan adalah tiga bangkai anak burung Toed yang sudah mengering.

Kematian kelaparan selama tiga hari tanpa makanan dan air sudah bisa dipastikan menjadi penyebab kematian, dan itu pastilah Usman pelakunya. Sungguh kematian yang menyakitkan penuh penderitaan. Usman baru bisa turun dari pohon setelah beberapa lama.

Air matanya jatuh. Sambil berlinangan air mata Ia bersandar di pohon, bertafakur, bahwa selama ini belajar agama, ternyata yang dilakukan adalah pembunuhan yang sangat kejam.

Sebuah titik balik

“Silih asih ku pangarti, silih asuh ku pangaweruh, nyaah ka sasama” saling menyayangi dengan pengetahuan, saling asuh dengan pengalaman, menyanyangi sesama mahluk hidupm kira-kira begitu isi peribahasa tersebut.

Namun terasa hambar dan jargon kosong. Pikir Usman, dia merasa berdosa sekali atas kejadian tersebut. Setelah kejadian, beberapa hari kemudian Usman memutuskan untuk menghilang dari perkampungan dan hidup di Hutan Parakan Salak.

Entah berapa hari ia menghilang dan hidup menyendiri di hutan. Selama di hutan, setelah perbekalan habis ia menggantungkan hidupnya dari buah-buahan, pucuk-pucukan, umbi-umbian liar, pucuk-pucuk pakis bahkan tidak jarang ia memakan rebung muda.

Di hutan ia mempraktekan hidup sederhana seadanya, bahkan pernah diceritakan untuk membuat api, ia menggunakan cara tradisional dengan menggesekan batang kayu. Tidak mudah memang, tapi akhirnya dia bisa menyalakan api dengan bantuan bekas sarang tupai.

Dengan api itu ia akhirnya bisa kembali memasak bahan-bahan makanan yang bisa ditemukannya. Bagi yang terbiasa memakan makanan matang bahkan overcooking dengan bumbu melimpah, hal tersebut merupakan pengalaman yang sulit untuk dilupakan.

Tafakur tersebut akhirnya membuahkan hasil. Entah bagaimana ia mendapatkan ilham, ia tidak bisa menebus dosa-dosanya jika tetap tinggal di hutan. Dia harus turun kembali ke perkampungan. Menebus entah berapa ribu nyawa burung yang ia tangkap dengan aktivitas menjaga lingkungan.

Awal-awal cara menebus dosanya menimbulkan keanehan bagi warga sekitarnya. Ia membakar semua barang-barang yang terkait dengan perburuan burung. Kemudian menghubungi para pemburu burung. Konsekuensinya dia dianggap gila.

Salah satu kegilaannya adalah suatu saat ia bertemu dengan pemburu burung, si pemburu menghargai buruannya dengan harga Rp170 ribu. Usman membayar semua burung itu dan waktu itu juga melepas kembali burung tersebut di hadapan penjualnya.

“Sugan maneh mah gelo” teriak pemburu tersebut. Usman menjelaskan mengapa ia berubah, kasus anak toed yang mati mengering di sarangnya diceritakan dan kemudian si Pemburu pun mengerti. Seminggu kemudian ia mendapat kabar bahwa si pemburu pun memutuskan untuk berhenti berburu burung dan memutuskan bekerja sebagai buruh bangunan sampai sekarang.

Orang tersebut aktif di KPGS bahkan secara reguler menyumbang sekemampuan dia sebarang buruh bangunan dan sesekali ikut kegiatan jika tidak sedang bekerja.

Tugas Usman untuk mengajak para pemburu menghentikan aktivitasnya tidaklah mudah. Kadang ditertawakan dan kemudian berkata bahwa Ia menjadi pemburu karena diajarkan oleh Usman, semua peralatannya pun dulu dibeli dari usman.

Begitu pula tantangan dari para Tengkulak burung. Usman menyatakan bahwa uang dari menyiksa (menangkap) burung tidak berkah. Sejago apapun penangkap burung tidak ada yang kaya. Mungkin karena berasal berasal dari burung, “hiber deui duitna teu mangrupa”. Tapi lihat para tengkulak, mobilnya baru-baru dan rumahnya “gedong”.

Masa depan KPGS

Usman tidak bermuluk-muluk dengan program KPGS. Ia hanya ingin hutan Taman Nasional Salak Pangrango kembali hijau. Beberapa tahun ini ia akhirnya bisa diterima oleh para penggarap, asal yang ditanam adalah pohon buah-buahan.

Agar petani mendapatkan manfaat buahnya, begitu pula hewan-hewan hutan. Menurut ingatan Usman, di tahun 2022 saja lebih dari 30 titik longsor terjadi di wilayah Parakan Salak. Ia berharap hal tersebut akan berkurang di tahun-tahun berikutnya.

Usman berharap kicau burung dan pekik hewan lainnya bisa menyertai pagi dan sore menjelang malam ketika para wisatawan berkemah di wilayah Parakan Salak.

Suasana alam yang asri yang diharapkan oleh para wisatawan. Selain itu burung, kupu-kupu dan hewan lainnya diharapkan bisa mengefektifkan proses penyerbuk dan kesimbangan alam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Sutanandika lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Sutanandika .

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

S
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini