Adam Malik, dari Wartawan hingga Jadi Salah Satu Pendiri ASEAN

Adam Malik, dari Wartawan hingga Jadi Salah Satu Pendiri ASEAN
info gambar utama

Kembali bertemu dengan tanggal 8 Agustus, artinya kembali bertambah pula usia organisasi penting yang menaungi rumpun negara di kawasan Asia Tenggara, yakni ASEAN. Menginjak 55 tahun sejak pertama kali dibentuk pada 1967, dalam perjalanannya organisasi ini telah menjadi wadah bagi para negara anggota dalam menjalin kerja sama, dan saling bahu-membahu mendukung di berbagai bidang kenegaraan, terutama bidang geopolitik dan ekonomi.

Meski keanggotaannya kini mencakup 10 negara, sudah umum diketahui jika awalnya pembentukan ASEAN hanya diinisiasi oleh 5 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Tentu, dari ke-5 negara tersebut, masing-masing mengirimkan perwakilan yang cakap serta paham mengenai visi dan misi apa yang ingin dituju dari dibentuknya ASEAN.

Adam Malik, adalah salah satu dari the Founding Fathersof ASEAN asal Indonesia. Secara umum, dia dikenal sebagai Wakil Presiden RI periode 1978-1983 yang cerdas, dan gemar membaca buku. Tapi barangkali belum semua orang tahu, bahwa sosok yang wafat di tahun 1984 ini mengawali perjalanan kariernya dengan menjadi seorang wartawan.

Para Pendiri ASEAN

Pendiri Antara

Kantor pemberitaan nasional yang saat ini dikenal dengan nama Antara, merupakan salah satu lembaga yang didirikan oleh Adam Malik. Tidak sendiri tentunya, ia mendirikan Antara bersama tokoh pers lain yakni A.M. Sipahoetar, Mr. Soemanang, dan Pandoe Kartawigoena pada tahun 1937, dengan nama awal Naamloze Vennootschap (NV).

Artinya, Adam Malik mendirikan lembaga pemberitaan pertama dan terbesar di Indonesia saat usianya masih 20 tahun. Karena ia sendiri diketahui lahir pada tahun 1917 di Kota Pematang Siantar, Sumatra Utara. Pada tahun 1941, Adam Malik menjabat sebagai Redaktur tetap sekaligus Wakil Direktur. Kemudian lima tahun setelahnya, baru ia menjabat sebagai Direktur.

Ketertarikan Adam Malik terhadap isu kenegaraan khususnya politik sudah muncul sejak muda. Sejak belia, ia gemar membaca dan menonton film, yang semakin memupuk bakat untuk menjadi seorang wartawan.

Sebelum mendirikan Antara, ia sudah banyak menyumbangkan tulisan di beberapa surat kabar seperti koran Pelita Andalas dan Majalah Partindo. Di saat bersamaan, Adam sendiri merupakan salah satu pemuda penggerak yang aktif bergerilya dalam mengupayakan kemerdekaan RI.

Seabad Rosihan Anwar, Wartawan Pelintas Zaman yang Tidak Bisa Dikalahkan

Kiprah di kancah internasional

Adam Malik (kedua dari kiri) bersama pendiri ASEAN lainnya
info gambar

Adam Malik memutuskan terjun ke dunia politik berbekal pengetahuan yang dapat dengan membaca beragam buku. Karier politiknya semakin meningkat seiring berjalannya waktu, yang juga didukung dengan modal saat ia menjadi wartawan dengan meliput dan memberitakan berbagai isu politik yang terjadi.

Selain cakap menjadi wartawan dan politikus, Adam Malik nyatanya juga menunjukkan kepiawaian lain yakni di bidang diplomasi luar negeri. Saat menjabat sebagai anggota DPR di tahun 1950-an, ia ditunjuk oleh Soekarno untuk menjadi Duta Besar Luar Biasa, dan berkuasa penuh untuk Uni Soviet dan Polandia. Sejak saat itu, ia mulai dikenal di kancah internasional.

Tak berhenti sampai di situ, pada tahun 1962 Adam menjadi Ketua Delegasi RI untuk perundingan Indonesia dengan Belanda, mengenai wilayah Irian Barat yang digelar di Washington DC, Amerika Serikat. Di mana pertemuan tersebut menghasilkan Persetujuan Pendahuluan mengenai wilayah Irian Barat.

Setelahnya, ia diangkat sebagai Menteri Perdagangan namun hanya bertahan selama satu tahun. Baru di tahun 1964, ia menduduki jabatan yang sesuai dengan bidang yang memang dikuasai, yakni Menteri Luar Negeri.

Kedudukan sebagai Menteri Luar Negeri pun terbilang lama, lebih dari 10 tahun (1966-1978). Pada masa jabatan itu lah, berbagai prestasi atas kontribusinya di bidang diplomasi internasional banyak terukir. Termasuk salah satunya pembentukan ASEAN.

Lepas dari jabatan Menteri Luar Negeri, kariernya di kancah internasional ditutup dengan menjadi Presiden Majelis Umum PBB pada tahun 1971-1972. Sebelum akhirnya murni berpolitik di dalam negeri dengan menjadi Ketua DPR dan Wakil Presiden di tahun-tahun setelahnya.

Setahun setelah selesai menjabat sebagai Wakil Presiden, Adam Malik wafat di bulan September 1984 akibat kanker hati yang diderita. Setelah wafat, ia bahkan masih menerima penghargaan Dag Hammarskjold Award dari PBB di tahun 1982. Lain itu, atas sumbangsihnya bagi negara, Adam Malik baru mendapat gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1998.

Pasukan Penjaga Perdamaian PBB dan Peran Indonesia di Dalamnya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini