Sekolah Gajah, Solusi Atasi Konflik dengan Manusia di Way Kambas

Sekolah Gajah, Solusi Atasi Konflik dengan Manusia di Way Kambas
info gambar utama

Selain manusia, sebelumnya istilah ‘sekolah’ mulai banyak diaplikasikan pada beberapa jenis hewan tertentu. Dua yang paling umum adalah monyet dan orangutan. Tak berhenti sampai di situ, rupanya masih ada jenis sekolah hewan lain di Indonesia, yakni sekolah gajah.

Apa bedanya?

Jika sekolah orangutan memiliki tujuan untuk melatih insting bertahan hidup hewan langka tersebut di alam bebas, sekolah gajah memiliki tujuan menciptakan keselarasan hidup antara hewan mamalia berukuran besar tersebut, dengan masyarakat sekitar yang hidup tak jauh dari habitatnya.

Program sekolah gajah yang pertama dibuat dan masih ada saat ini bisa dijumpai di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung. Sebelum akhirnya, mulai bermunculan sejumlah program serupa di beberapa kawasan konservasi lainnya.

Apa yang mendasari ide untuk menyekolahkan dan ‘mendidik’ para gajah?

Orangutan, Sekolah, dan Ijazah Agar Bisa Kembali ke Hutan

Solusi konflik gajah dan manusia

Gajah sumatra di Way Kambas | Bruce Levick/Flickr
info gambar

Pembentukan sekolah gajah pertama kali, berawal sebelum Way Kambas ditetapkan secara resmi oleh pemerintah Indonesia sebagai Taman Nasional (TN) pada tahun 1985. Waktu itu, gajah sumatra sebagai salah satu satwa liar yang memang hidup di sana sering mengamuk, dan merusak lahan pertanian termasuk rumah warga transmigran.

Akibatnya, masyarakat transmigran di Lampung kala itu kerap mengalami permasalahan, mulai dari gagal panen sampai tempat tinggal rusak lantaran kena sasaran amuk gajah. Konflik mulai muncul ketika terdapat perbedaan pendapat, mengenai apa yang harus dilakukan untuk menghindar dari amukan hewan tersebut.

Beberapa pemburu dengan senang hati setuju untuk menembak mati gajah yang mengamuk. Sebagian dengan ide esktrem menyarankan untuk menjual gajah dan mengekspornya ke pasar hewan.

Namun di samping itu, ada kalangan yang melihat peluang bahwa potensi gajah bisa dikembangkan. Mereka menghadirkan sebuah ide agar gajah-gajah tersebut tidak lagi mengamuk, yaitu dengan cara dididik.

Beruntung, ide terakhir yang mendapat respons positif dari pemerintah. Akhirnya muncul inisiasi sekolah gajah di TNWK, yang pergerakannya dilakukan dengan mendatangkan pelatih atau pawang gajah berpengalaman dari Thailand.

Dan cara tersebut terbukti berhasil. Gajah yang tadinya buas dan kerap mengamuk tidak hanya menjadi jinak, mereka juga hidup berdampingan dan membantu masyarakat sekitar dalam kegiatan sehari-hari.

Dalam keberadaannya, sekolah gajah kerap mengalami pergantian nama. Pernah dinamakan ERU atau Elephant Response Unit dan Pusat Latihan Gajah (PLG), namun kini wujudnya lebih dikenal dengan penamaan Pusat Konservasi gajah (PKG).

Di lain sisi, gajah yang terdidik juga menjadi ciri khas tersendiri untuk menarik minat wisatawan dan turis yang datang berkunjung ke TNWK.

Upaya Mitigasi Konflik dengan Manusia, Gajah Sumatra Dipasangkan GPS Collar

Apa yang dipelajari di sekolah gajah?

Semenjak adanya program sekolah, gajah yang ada di alam liar TNWK sudah memperlihatkan perilaku yang lebih jinak, santun, dan mengerti apa yang diisyaratkan oleh manusia. Hal tersebut lantaran para siswa gajah mendapat didikan mempelajari kepekaan alat indera. Bahkan, mereka juga belajar dan memahami tata krama dasar seperti memberi salam dan hormat.

Selain itu, mereka dilatih untuk mengibaskan telinga dan mengangkat belalai dengan tinggi saat mendeteksi adanya gajah liar. Bekerja sama dengan pawang atau manusia dalam melakukan patroli di alam TNWK, gajah-gajah juga dilatih memecahkan dan menginjak ranting serta batang pohon yang sudah rapuh agar tidak menghalangi jalan.

Mengenai tempat tinggal, gajah yang sudah jinak tidak dibebaskan lagi ke alam liar, melainkan tinggal dalam sebuah asrama berupa lahan di alam terbuka yang diberi pagar pembatas. Meski begitu, mereka tetap memiliki jadwal rutin untuk diajak berkeliling oleh para pelatih untuk melatih interaksi gajah dengan lingkungan aslinya.

Memahami Peran Gajah dan Orangutan Sebagai Spesies Kunci di Alam Liar

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini