Perpeloncoan, Tradisi Senioritas Warisan Zaman Kolonial yang Masih Lestari

Perpeloncoan, Tradisi Senioritas Warisan Zaman Kolonial yang Masih Lestari
info gambar utama

Mahasiswa baru Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang, Banten diduga menjadi korban perpeloncoan para panitia orientasi studi dan pengenalan kampus atau yang dikenal sebagai ospek.

Peristiwa itu kemudian viral dan menjadi trending topik di media sosial setelah kegiatan ospek ini diunggah oleh salah satu mahasiswa baru. Pada postingannya, dirinya mengaku dijemur berjam-jam di lapangan.

Dalam postingan berbentuk voice note itu, calon mahasiswa mengeluh akibat berjam-jam dijemur mulai dari pukul 07.00 hingga 10.00 WIB. Setelah itu, para mahasiswa baru harus mengikuti mentoring dan perkenalan kampus.

Hal yang paling disorot adalah adanya dugaan tindakan yang mengarah pada perpeloncoan, baik fisik maupun verbal. Ada juga larangan-larangan terkait dengan makan, minum, istirahat dan salat yang harus buru-buru menjadi dipermasalahkan oleh para maba.

Menelusuri Hubungan Erat Antara Kebangkitan Nasional dengan Bakti Dokter Indonesia

Warganet yang membaca postingan terbelah menjadi pro dan kontra menyikapi tradisi perpeloncoan. Bagi pihak yang kontra, tradisi ini seharusnya dihapuskan karena mengandung unsur kekerasan, bagi yang pro hal ini baik untuk membina mental.

Dalam sejarah, tradisi perpeloncoan telah ada sejak zaman Yunani kuno atau pada tahun 387 sebelum Masehi, saat berdirinya Akademi Plato. Dikatakan mahasiswa baru yang akan belajar di akademi ini perlu di gembleng menjadi manusia dewasa oleh seniornya.

Pada praktiknya, mereka menggunakan kekerasan dan dipermalukan secara umum. Aktivitas ini selesai setelah para mahasiswa melewati masa studi selama setahun dan dirayakan dengan pesta yang dibiayai maba di bawahnya.

“Pada dasarnya, setiap mahasiswa baru belajar dewasa dengan menjadi budak senior,” tulis Ruth Sterner dari Oregon State University dalam bukunya The History of Hazing in American Higher Education.

Pelonco di zaman kolonial

Praktik perpeloncoan di Indonesia telah ada sejak zaman dahulu bahkan menjadi bagian dari budaya kolonial Belanda. Pelonco berawal dari tradisi kolonial yakni ontgroening yang memiliki arti murid baru.

“Maksud dari ontgroening adalah memberi perlakuan khusus bagi murid baru dalam waktu singkat agar menjadi dewasa dan kenal dengan lingkungan,” tulis Lukman Hadi Subroto dalam Awal Mula Perpeloncoan di Indonesia yang diwartakan Kompas.

Salah satu sekolah yang melakukan perpeloncoan pada masa itu adalah sekolah kedokteran Hindia Belanda (STOVIA). STOVIA merupakan sekolah asrama khusus dokter bumiputera yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).

STOVIA telah menyelenggarakan perpeloncoan sejak tahun 1898 hingga 1927. Sama seperti masa kini, kegiatan ospek ini menjadi ajang perpeloncoan para senior kepada juniornya yang baru masuk sekolah.

Mengutip laman resmi Kemendikbud RI, metode perpeloncoan ini diceritakan oleh Jacob Samallo dalam memoar Kenangan dari Kehidupan Siswa STOVIA 25 Tahun Lalu mengisahkan bahwa para murid baru harus memanggil seniornya dengan sebutan Tuan.

“Bahkan junior pada saat itu, disuruh untuk mengelap sepatu, mengatur dipan, mengisi lampu dan terkadang menjadi kurir dari para senior,” paparnya.

Pabrik Cairan Infus Pertama di Indonesia Hadir di Karawang

Salah satu tokoh nasional, Mohammad Roem pernah menceritakan pengalamannya di pelonco ketika masuk STOVIA pada 1924. Dirinya memang sudah mengetahui akan ada tradisi ini sebelum masuk STOVIA.

Namun Roem belum pernah mendengar adanya kejadian yang tidak sedap dan melampaui batas. Karena saat itu tradisi perpeloncoan ini diawasi sangat ketat, sehingga kejadian buruk dapat dihindarkan.

“Pertama waktu-waktu dibatasi, tidak boleh mempelonco di waktu belajar dan waktu istirahat. Masih banyak waktu di luar itu dan memang suasana ramai selama tiga bulan pertama itu, kata Roem yang dimuat Historia.

Perpeloncoan ini berlangsung cukup lama, biasanya sampai tiga bulan karena STOVIA adalah sekolah bersama. Karena itu salah satu materi pelonco yang rutin ditanyakan adalah soal asal siswa.

Roem ketika itu menjawab orang Jawa. Setelahnya akan muncul pertanyaan lagi, seperti apakah dirinya bisa mengucapkan alfabet Jawa secara terbalik dari belakang. Dia bisa namun menjawabnya dengan lambat.

“Perpeloncoan itu hanya dijalankan dalam tembok sekolah dan asrama, dan plonco tidak boleh digunduli.

Diprotes oleh CGMI

Tradisi penggundulan pada masa perpeloncoan kemungkinan besar pertama kali ada saat pendudukan Jepang. Dalam Tradisi Kehidupan Akademik, R Darmanto mengisahkan mahasiswa Ika Daigaku (sekolah kedokteran) yang mulai mengenal kata perpeloncoan.

Menurut mahasiswa yang tidak disebut namanya itu kata perpeloncoan ini mulai dipakai untuk menggantikan kata ontgroening. Kata perpeloncoan itu berasal dari kata pelonco yang artinya adalah kepala gundul.

Kepala gundul merupakan simbol dari anak kecil yang belum mengetahui sesuatu mengenai kehidupan masyarakat dan dianggap belum dewasa. Karena itu, perlu sekali diberi berbagai petunjuk untuk menghadapi masa depan.

Kegiatan perpeloncoan ini masih ditemui pada masa revolusi kemerdekaan. Misalnya pada 1949, kegiatan perpeloncoan ini dilakukan seperti di Universitas Indonesia. Di daerah-daerah lain juga terdapat tradisi ini.

Darmanto mencatat semasa revolusi fisik itu penggemblengan melalui perpeloncoan diselenggarakan di Klaten, Solo, dan Malang, walaupun dalam suasana penuh kemelut, ikatan batin dan setia kawan tidak pudar.

Wabah Penyakit yang Lahirkan Kebangkitan Nasional di Hindia Belanda

Karena dianggap sebagai sisa dari tradisi kolonialisme dan feodalisme, perpeloncoan pernah ditolak. Darmanto menyebut organisasi seperti Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) menolak perpeloncoan dilakukan kembali.

CGMI yang memiliki afiliasi ke PKI ini cukup bertaring sebelum Presiden Soekarno tumbang. Organisasi ini pernah tampil sebagai pahlawan bagi mahasiswa yang tidak suka atau merasa menderita karena perpeloncoan.

“CGMI dan PKI menolak plonco karena praktik tersebut adalah “tradisi kolonial,” kata Darmanto.

Masih menurut Darmanto, meski perpeloncoan dilarang, namun kemudian ada yang disebut Masa Kebaktian Taruna (1963). Lalu setelah CGMI dihabisi Orde Baru ada Masa Prabakti Mahasiswa alias Mapram (1968, Pekan Orientasi Studi (1991).

Lalu baru sekarang istilah perpeloncoan paling populer adalah Orientasi Studi Pengenalan Kampus atau yang disingkat menjadi Ospek. Kemudian pertanyaannya, apakah tradisi kolonial ini perlu dilestarikan?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini