Benarkah Pulau Bangka dan Pulau Sumatera jadi Satu di Masa Purba?

Benarkah Pulau Bangka dan Pulau Sumatera jadi Satu di Masa Purba?
info gambar utama

Pulau Bangka yang luasnya sekitar 1,16 juta hektar berada di bagian timur Pulau Sumatera yang luasnya mencapai 47,3 juta hektar. Apakah di masa lalu Pulau Bangka menyatu dengan Pulau Sumatera?

Pada saat ini, mungkin ada yang berpendapat Pulau Bangka dengan Pulau Sumatera, sudah terpisah sejak awal pembentukan Bumi. Apalagi, sejumlah satwa khas Sumatera seperti harimau, badak, orangutan, dan gajah, tidak ditemukan di Pulau Bangka.

Namun jika beranjak dari teori Sundaland, maka Pulau Bangka dan Pulau Sumatera itu sebelumnya menyatu. Bagian dari peradaban Sundaland. Pulau Bangka merupakan dataran tinggi, salah satu benteng atau pagar dari pusat peradaban Sundaland yang berada di kawasan lembah antara Pulau Kalimantan dengan Pulau Jawa, yang saat ini disebut sebagai Laut Jawa.

“Ada tiga hulu sungai purba di Pulau Bangka. Yakni, hulu sungai yang mengalir ke Kepulauan Natuna, Selat Sunda, dan ke arah Pulau Madura. Termasuk menjadi pertemuan aliran sungai [Sungai Musi] dari wilayah Bukit Barisan, yang kini menjadi Selat Bangka,” kata Dhani Irwanto, ahli teknik hidrologi, salah satu pengusung teori Sundaland.

Peristiwa naiknya air laut, sekitar 11.600 tahun lalu [akhir masa Dryas Muda], menyebabkan lembah subur Sundaland secara perlahan digenangi air laut. Namun, terciptanya Selat Bangka sehingga memisahkan Pulau Bangka dengan Pulau Sumatera, sekitar 7.000 tahun lalu, bersamaan dengan pembentukan Selat Berhala dan Selat Madura.

Sebagai informasi, pada 2010, Dhani Irwanto melakukan penelitian teks dialog Timaeus and Critias yang ditulis Plato, guna mencari lokasi pusat peradaban Atlantis. Hasil penelitiannya diterbitkan dalam buku “Atlantis The Lost City is in Java Sea” yang terbit pada 2015. Dia menyimpulkan pusat pemerintahan Atlantis berada di Laut Jawa.

Guna melakukan penelitian tersebut, Dhani harus mempelajari bahasa Yunani selama lima tahun. Dia mengaku mengartikan kata per kata untuk mengidentifikasi. Penelitian yang dilakukannya menggunakan metode Potsherds model anastylosis atau model pecahan tembikar.

Pertemuan tiga peradaban

Dhani memperkirakan, pada masa Sundaland, Pulau Bangka merupakan pertemuan sejumlah peradaban. Peradaban itu terbentuk karena empat aliran sungai. Yakni, tiga sungai berhulu di Pulau Bangka yang mengalir mengarah ke Selat Sunda, Kepulauan Natuna, dan Pulau Madura. Serta pelintasan sungai dari Bukit Barisan, yakni Sungai Musi.

Selain itu, kata Dhani, jika Sundaland merupakan Benua Atlantis yang hilang, seperti ditulis filsuf Yunani, Plato atau Platon [Bahasa Yunani Kuno] pada 360 Sebelum Masehi [SM], maka Pulau Bangka merupakan satu titik peradaban Sundaland. “Sebab pulau ini kaya dengan timah. Sementara timah, selain besi, merupakan mineral penting dalam peradaban Atlantis. Timah digunakan sebagai timah atau dicampur dengan tembaga menjadi perunggu,” katanya.

Selain itu, Pulau Bangka merupakan dataran tinggi di Sundaland yang usianya kisaran 289 juta tahun lalu. Wilayah tinggi, seperti sejumlah bukit yang disebut gunung, hingga saat ini dinilai sebagai wilayah suci bagi sejumlah Suku Melayu tua.

Misalnya Gunung Menumbing, Gunung Maras, Gunung Muda, Gunung Mangkol, Gunung Gadung, Gunung Pelangas, dan Gunung Permisan. Sejumlah Suku Melayu yang menempatkan bukit sebagai wilayah suci tersebut, seperti Suku Maras, Suku Jerieng dan Suku Mapur.

Bangka di masa Sundaland merupakan hulu sejumlah sungai yang mengalir ke Natuna, Selat Sunda, dan Madura. Peta: Dhani Irwanto
info gambar

Pada wilayah bukit ini terdapat beragam bentuk batu granit, termasuk batu yang terdapat “telapak kaki” yang disebut sebagai telapak kaki Akek Antak. Sejauh ini pun, tidak ditemukan makam tua maupun baru di wilayah bukit. Bahkan, ditemukan lukisan purba masyarakat Austronesia pada sebuah goa di Bukit Batu Kepale.

Terkait tidak adanya sejumlah satwa khas Sumatera pada saat ini di Pulau Bangka, “Kemungkinan sudah punah. Mungkin di masa lalu gajah, harimau dan badak ada di Pulau Bangka. Tapi karena pulau itu kecil, akhirnya punah karena berkonflik dengan manusia,” kata Dhani.

Batuan granit di seberang Pulau Bangka

Batuan granit yang ada di Pulau Bangka ternyata ditemukan di wilayah Pesisir Timur Sumatera Selatan, atau di seberang Pulau Bangka, tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Dikutip dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, bantuan granit ditemukan di Bukit Batu, Desa Air Rumbai, Kecamatan Pampangan. Dituliskan, granitnya berwarna hijau kehitaman, tekstur kristal faneritik, bersusunan mikrolin, ortoklas, plagioklas, kuarsa dan biotit. Luas kawasan granit ini sekitar 50 hektar.

Kawasan lainnya yakni di Desa Ujungtanjung, Kecamatan Tulung Selapan. Granit di daerah ini berwarna putih kehijauan sampai hijau kehitaman, tekstur kristal faneritik, bersusunan mikrolin, ortoklas, plagioklas, kuarsa dan biotit. Luasan kawasan granit sekitar 20 hektar.

Batuan granit di Pantai Tuing, Bangka Barat, ini usianya sekitar 250 juta tahun lalu. Foto: Nopri Ismi
info gambar

Batuan granit juga ditemukan selain di Pulau Maspari, yaitu di Tanjung Tapa, Kecamatan Tulung Selapan. Di lokasi yang akan dijadikan tapak Jembatan Bahtera Sriwijaya, jembatan penghubung Pulau Sumatera dan Pulau Bangka, terdapat hamparan batu granit yang muncul ke permukaan air laut di Selat Bangka menyerupai jalan setapak sekitar satu kilometer.

Legenda yang dipahami para nelayan, batuan itu merupakan jembatan yang akan dibangun Si Pahit Lidah, untuk menghubungkan Pulau Sumatera dan Pulau Bangka. Namun jembatan itu tidak selesai.

Siapa Si Pahit Lidah?

Si Pahit Lidah adalah cerita rakyat atau legenda mengenai sosok manusia sakti di masa lalu. Dia memiliki kesaktian untuk menyumpah sesuatu menjadi batu. Legenda ini dikenal masyarakat yang hidup di pegunungan Bukit Barisan, bagian yang menghubungkan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Kerinci Seblat.

Legenda Si Pahit Lidah juga dikenal pada masyarakat di Kabupaten OKI. Pada Bukit Batu yang tingginya sekitar 85 meter, ada sebuah lokasi yang dipercaya masyarakat sebagai makam Si Pahit Lidah. Di Bukit Batu itu juga ditemukan batu granit yang disebut batu pengantin, buaya, gajah, lesung, dan kolam pemandian bidadari.

Pada 2018 lalu, Wak Gabus [87], juru kunci makam Si Pahit Lidah, menjelaskan jika di bawah Bukit Batu dulunya merupakan lautan. Tapi akhirnya menyusut dan menjadi rawa gambut.

Terbentuknya Selat Bangka sekitar 7.000 tahun lalu. Peta: Dhani Irwanto
info gambar

Memori banjir besar

Jika dikaitkan kisah [ingatan] “banjir besar” di belahan dunia, termasuk hilangnya Atlantis, seperti pada bangsa Sumeria, Mesir, Yunani, Ibrani, Romawi, Hawaii, Indian, Maya, Tibet, dan lainnya, makan kondisi ini juga ditemukan juga dalam memori masyarakat Suku Melayu di Pulau Bangka.

“Jika Gunung Maras rusak, bukan hanya Pulau Bangka yang tenggelam, juga Indonesia, dunia akan merasakannya seperti di masa lalu,” kata Umran [73], tokoh Suku Maras, yang ditemui Mongabay Indonesia di kediamannya di Dusun Rambang, Desa Berbura, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, beberapa waktu lalu.

Guna mencegah peristiwa banjir besar berulang, jelas Umran, Gunung Maras harus dijaga dari kerusakan. Baik kerusakan bentang alamnya maupun manusianya. “Gunung Maras ini juga rumah bagi semua makhluk hidup,” katanya.

Pada Suku Mapur atau biasa disebut “Orang Lom”, juga disebutkan tentang banjir besar terkait asal usul suku tersebut. Kisahnya, leluhur Suku Mapur keturunan sepasang manusia [laki-laki dengan perempuan] yang muncul secara misterius dari Bukit Sumedang [Belinyu] setelah banjir besar surut.

Ada tiga kisah tentang asal usul Suku Mapur. Selain dari sepasang manusia yang muncul setelah banjir besar, pendatang dari Vietnam [Kerajaan Funan], serta pelarian dari Kerajaan Majapahit yang menolak di-Islam-kan.

“Kami percaya dengan kisah sepasang suami isteri setelah banjir besar tersebut,” kata seorang warga Dusun Pejem.

Olaf H Smedal, antropolog dari Norwegia, yang hidup bersama Suku Mapur dalam beberapa tahun, menulis buku “Preliminary Findings on a Non-Muslim Malay Group in Indonesia [1988]”. Ditulis Smedal, dia menemukan catatan anonim berangka tahun 1862, yang menceritakan dua legenda asal-usul Suku Mapur. Dua legenda itu hidup di tengah-tengah Suku Mapur.

Pertama, mengisahkan sekitar abad ke-14 Masehi, sebuah kapal yang ditumpangi sekelompok orang dari Vietnam terdampar dan rusak di Pantai Tanjung Tuing. Semua penumpang tewas, kecuali dua lelaki dan satu perempuan. Ketiga orang asing itu membuat perkampungan di daerah Gunung Pelawan.

Kedua, yang mengisahkan Suku Lom merupakan keturunan lelaki dan perempuan yang muncul secara misterius dari Bukit Sumedang, setelah banjir besar surut.

Selain itu, ada keyakinan pada masyarakat yang menetap di sekitar bukit [gunung] di Pulau Bangka, jika setiap tahun para orang sakti di masa lalu [legenda] melakukan pertemuan. Mereka ini para penguasa dari wilayah perbukitan di Pulau Bangka, Sumatera [Bukit Barisan], dan Pulau Jawa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini