Bendungan Walahar, Jejak Kepentingan Produksi Pertanian Belanda di Karawang

Bendungan Walahar, Jejak Kepentingan Produksi Pertanian Belanda di Karawang
info gambar utama

Karawang menjadi saksi dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Banyak tempat di daerah ini memiliki nilai historis bagi rakyat Indonesia, salah satunya adalah Bendungan Walahar.

Bendungan yang terletak di Walahar, Klari, Karawang, Jawa Barat ini menjadi salah satu jejak peninggalan masa penjajahan Belanda. Meski kini telah berusia hampir 1 abad, bendungan ini masih tetap berdiri kokoh.

Dimuat dari Merdeka, proyek pembangunan Bendungan Walahar ini dimulai pada tahun 1923 oleh pemerintah kolonial Belanda. Pembangunan bendungan ini dalam pengawasan seorang ahli perairan dari Belanda, C Swaan Koopman.

Fakta Jembatan Perahu di Karawang yang Hidupkan Perekonomian Masyarakat Sekitar

“Bangunan yang khas dengan arsitektur kuno ini digunakan untuk mengatur debit air sungai Citarum,” tulis Tyas Titi Kinapti dalam Bendungan Walahar, Jejak Belanda yang Tersisa di Karawang.

Pembangunan Bendungan Walahar memang memiliki tujuan untuk mengatasi masalah kekurangan air di wilayah Karawang khususnya bagian utara. Kekurangan air di daerah tersebut mengakibatkan hasil produksi pertanian di Karawang tidak menentu.

Sejak 1925 hingga kini, jelas Tyas, Bendungan Walahar tak hentinya mengairi sawah-sawah yang berada di Kabupaten Karawang. Tempat ini seolah tak lapuk dimakan usia, bahkan semakin berguna kian waktu ke waktu.

Bentuk bangunan

Dijelaskan oleh Tyas, pembangunan bendungan ini tidak hanya menggunakan tenaga-tenaga ahli irigasi yang berasal dari Belanda. Akan tetapi proyek Bendungan Walahar ini juga dibangun menggunakan jasa-jasa pribumi sebagai kuli kasar.

Hingga akhirnya Bendungan Walahar mulai dipakai pada tanggal 30 September 1925. Bila datang ke tempat ini, pada dinding di atas jalan masuk terdapat sebuah tulisan sebagai pengingat awal bangunan ini beroperasi.

Bendung Walahar Kali Tjitarum Mulai Dipakai 30 Nopember 1925 untuk mengairi sawah luas 87.506 ha”.

Pabrik Cairan Infus Pertama di Indonesia Hadir di Karawang

Bangunan ini memiliki bentuk yang khas, yakni terdiri dari tiga bagian. Bagian bawah di mana sebagai pintu penahan air yang berjumlah lima pintu. Bagian kedua merupakan jembatan yang menghubungkan Klari dan Anggadita.

Sementara bagian terakhir, merupakan ruang mesin untuk mengatur sistem bendungan. Di jembatan juga terdapat semacam bangunan terdiri dari beberapa ruangan. Langit-langit di atas jembatan dengan bentuk lengkung.

“Dari jembatan, pengendara bisa melihat derasnya air di Bendungan Walahar,” paparnya.

Penyelamat warga Karawang

Bendungan Walahar melintang pada aliran Sungai Citarum dan membendung sungai yang memiliki luas kurang lebih 50 meter tersebut. Bendungan ini membagi Sungai Citarum yang difungsikan untuk mengatur debit dan sirkulasi air dalam mengairi areal persawahan.

Tempat ini juga menjadi penyelamat warga Karawang Utara ketika musim hujan tiba. Musababnya, bendungan ini mampu menahan air sungai untuk meminimalisir terjadi banjir yang tiba-tiba datang.

“Saat kiriman kubikasi air dari hulu besar, Bendungan Walahar sebagai pengendali kubikasi air di Karawang. Bendungan Walahar ada selain mengamankan irigasi, difungsikan untuk pengendali banjir,” ucap Asisten Manager Tarum Perum Jasa Tirta II Endang Junaedi yang diwartakan Headline Jabar.

Wadah Menyalurkan Hasrat Volunteer, Kelas Inspirasi Adalah Pilihan Tepat

Saat ini tinggi muka air (TMA) Bendung Walahar berada di posisi 18,35 Mdpl. Posisi ini dianggap Endang masih aman karena masih ada selisih dari batas normal TMA 18,75 Mdpl. Walau pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pihak Bendungan Curug.

Sedangkan berkenaan dengan keberadaan jalan di tengah Bendungan Walahar, Endang menyebut jika Bendungan Walahar bukan difungsikan untuk jalan, karena itu perlu steril. Namun untuknya bila hanya sementara tetap diperkenankan.

Selain kepentingan irigasi, Bendungan Walahar digunakan sebagai tempat wisata masyarakat sekitar. Setiap sore, atau sabtu dan minggu, kawasan ini selalu ramai dengan pengunjung yang ingin menikmati tenangnya suara air.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini