Kisah Para Bandit yang Tampil Melawan dalam Masa Revolusi Kemerdekaan

Kisah Para Bandit yang Tampil Melawan dalam Masa Revolusi Kemerdekaan
info gambar utama

Berita menyerahnya Jepang pada 15 Agustus 1945, tidak serta merta tersebar luas ke seluruh rakyat Indonesia. Penguasa Jepang di Jakarta tidak siap menghadapi perubahan yang mendadak dan kemudian tidak menyiarkan kepada khalayak umum.

Tetapi rakyat segera mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi. Informasi menyerahnya Jepang kemudian diketahui para elite nasional yang memiliki akses gelap untuk mendengarkan radio.

“Berita menyerahnya Jepang pertama kali menyebar di antara elite nasionalis Jakarta. Di kalangan kaum nasionalis terjadi perdebatan hebat tentang tentang strategi yang tepat untuk menghadapi situasi ini,” papar Robert Cribb dalam Para Jagoan dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949.

Alex dan Franz Mendur: Mencari Foto Proklamasi yang Masih Tercecer

Ditulis oleh Cribb, pemimpin nasionalis golongan tua seperti Soekarno lebih memilih untuk bersikap hati-hati. Di sisi lain, golongan nasionalis muda meyakini perlunya segera menyatakan kemerdekaan.

Walau akhirnya golongan tua menyepakati untuk memproklamasikan kemerdekaan. Situasi di Jakarta tidak lebih stabil. Gelombang besar pelanggaran hukum melanda kampung-kampung, dipicu oleh dua nafsu besar untuk balas dendam dan penjarahan.

“Kewajiban menjadi romusha dan penyitaan hasil panen membuat rakyat balas dendam yang selama ini tertahan. Orang-orang yang tidak sempat melarikan diri segera ditangkap dan sebagian besar dibunuh,” terang Cribb.

Lahirnya para jawara

Beberapa orang yang selamat umumnya mengabdikan diri kepada pentolan gerombolan sebagai pelatih militer. Orang-orang China setempat senantiasa menjadi korban pembunuhan dan perampokan gerombolan ini.

Cribb menulis banyak saksi yang mengingat betapa sulitnya saat itu untuk mendapatkan air minum di wilayah Klender karena banyak sumber air tersumbat mayat-mayat orang China yang menjadi korban pembantaian.

Dicatat olehnya para jagoan setempat kadang mengganti nama mereka dengan nama-nama yang berbau revolusioner, misalnya Bubar, Ribut, Gembel, dan Belah. Pada awalnya, jelas Cribb, para bandit ini tidak memiliki motif politik dalam setiap aksinya.

Mengenal B.M. Diah, Sosok Penyelamat Naskah Asli Proklamasi

Dirinya mencontohkan Camat Nata yang membunuh seorang mandor perkebunan swasta di Kranji dan kemudian menjadikan istri sang mandor sebagai istri simpanannya. Namun, dirinya menegaskan tidak ada yang tahu apa yang ada dibenak para bandit ini.

“Bagaimanapun para pembunuh dan penjarah tersebut secara keseluruhan tidak memiliki rencana politik di belakang aksi mereka. Mereka lebih merupakan kaum oportunis daripada pejuang revolusi sosial,” jelasnya.

Memotong hirarki

Namun, tetap ada kelompok yang bermain dalam sekam, salah satunya adalah juragan lokal. Kelompok ini sama seperti para bandit yang ingin membalas dendam dan menjarah, tetapi mereka pun memiliki rencana jangka panjang.

“Kelompok ini menginginkan adanya aturan politik yang cocok daripada situasi yang serba tidak teratur. Mereka juga tidak menyukai kekacauan yang terjadi pada akhir Agustus dan awal September 1945 yang dapat memberikan peluang munculnya pesaing baru,” jelas Cribb.

Ketiadaan organisasi formal serta ketergantungan pada akhirnya rentan terhadap perpecahan. Karena itu pernyataan kesetiaan terhadap kekuasaan Republik baru di Jakarta akan memperkuat otoritas bagi pentolan gerombolan.

Karena itulah pemecatan pegawai lokal, jelas Cribb, bukan semata-mata tindakan balas dendam atas perlakuan pada zaman Jepang. Namun sebuah gerakan untuk memuluskan jalan bagi basis kekuatan mereka pada era baru.

Makna Weton hingga Kisah Mistik Soekarno Pilih Proklamasi pada 17 Agustus

Contohnya adalah Sutarjo Kartohadikusumo, Residen Jakarta yang ditunjuk Jepang merupakan tokoh nasionalis terkemuka dan anggota yang ikut merancang konstitusi Republik. Tetapi dirinya tetap ditangkap dan dipenjara bandit nasionalis lokal.

Sutan Sjahrir dalam Perjuangan Kita mengkritik aksi anarkistis itu karena dianggap merugikan perjuangan. Sedangkan dalam brosur Moeslihat Tan Malaka malah menyebut gerakan ini sebagai modal utama dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Akhirnya bandit yang awalnya hanya lekat dalam dunia kejahatan, bisa tampil secara terhormat karena perannya dalam revolusi. Semangat revolusioner ini meresap ke dalam diri para bandit dan melahirkan sebuah kesadaran politik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini