TN Gunung Palung, Taman Eden yang Jadi Rumah Baru bagi Para Orang Utan

TN Gunung Palung, Taman Eden yang Jadi Rumah Baru bagi Para Orang Utan
info gambar utama

Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa) merupakan salah satu taman nasional yang terlengkap di antara taman-taman nasional yang ada di Indonesia. Tanagupa ini terletak di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat.

Tanagupa yang telah ada sejak tahun 1937 ini dijadikan sebagai rumah baru bagi kawanan orangutan. Tempat yang memiliki luas lahan hingga 95 hektare ini memang memiliki nilai keanekaragaman tinggi.

Misalnya pada 2021 lalu, Tanagupa kedatangan satu individu orang utan liar dewasa bernama Jala. Orang utan berkelamin jantan itu dipindahkan ke Gunung Palung setelah diselamatkan karena terjebak di kebun warga di Desa Penjalaan, Kalbar.

Orangutan, Sekolah, dan Ijazah Agar Bisa Kembali ke Hutan

Penyelamatan Jala sendiri dilakukan oleh Tim Wildlife Rescue Unit (WRU), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Yayasan IAR Indonesia, Yayasan Palung dan Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Penjalaan.

Kepala Balai Tanagupa, M Ari Wibiwanto menyampaikan bahwa kegiatan translokasi orang utan Jalan ke Taman Nasional Gunung Palung ini merupakan upaya yang kedua kalinya selama tahun 2021, yang mana sebelumnya pada April 2021 lalu.

“Kami akan tetapi memonitor pergerakan orang utan tersebut selama berada di kawasan Gunung Palung dan memastikan dapat hidup aman, baik dan sehat,” ujar Ari yang dimuat Betahita.

Sebelumnya Tanagupa juga telah menerima 3 individu orang utan yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalbar, pada 2019 lalu. Ketiga orang utan ini diberi nama Arang, Bara, dan Jerit.

Habitat yang cocok

Kawasan TN Gunung Palung dipilih berdasarkan hasil survei dan kajian kelayakan habitat memiliki tingkat keamanan tinggi, jauh dari pemukiman dan memiliki tumbuhan pakan yang melimpah serta kerapatan individu orang utan yang masih rendah.

Ari menyebut di Tanagupa memiliki tiga alternatif tempat translokasi yang sudah disurvei daya dukungnya yaitu Riam Bekinjil, Bukit Kubang, dan Bukit Daun Sandar. Pihaknya sudah menerima 7 individu orang utan yang ditranslokasi di kawasanya.

Birute Marija Galdikas, Sosok Kawan Sekaligus Pahlawan Bagi Orang Utan di Indonesia

Dirinya melanjutkan, langkah ke depan bersama para pihak terkait seperti BKSDA Kalbar dan IAR Indonesia akan memastikan survei lokasi-lokasi lain yang cocok untuk dijadikan tempat translokasi agar populasi orang utan tidak menumpuk.

Hal ini penting jelasnya, agar menjamin kelangsungan hidup orang utan. Karena apabila tempat translokasi hanya terbatas di tiga tempat yang tadi, jelas Ari, khawatir justru akan menimbulkan masalah dikemudian hari.

“Translokasi sebenarnya adalah solusi terakhir dalam upaya penyelamatan orang utan. Seharusnya yang kita lakukan bersama adalah menjaga habitat orang utan yang tersisa sekarang,” ucapnya yang dimuat Kompas.

Penindakan hukum

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor mengatakan keberhasilan pihaknya bersama mitra YIARI melakukan penyelamatan satwa liar, khususnya orang utan dari lokasi Karhutla, memang menjadi sebuah pencapaian.

Tetapi pada sisi lain, kondisi ini menggambarkan sebuah keprihatinan yang mendalam. Karena itu kegiatan penyelamatan yang dilakukan pihaknya hanyalah langkah kecil, daripada kebijakan yang perlu diambil.

Sadtata mendorong adanya kebijakan yang perlu dilakukan oleh pemerintah untuk menghentikan dan mencegah berkurangnya habitat orang utan. Sehingga populasi orang utan tidak terbatas pada satu lokasi saja.

Orang Utan dalam Catatan Kelam Masa Silam

“Sebuah bencana yang berdampak luas dan mematikan bagi kehidupan,” ucapnya.

Studi YIARI yang dilakukan pada 2013 menunjukan ada lebih dari 500 orang utan di kawasan Sungai Besar dan Pematang Gadung, terancam karena perambahan hutan untuk pertanian, perkebunan, serta pertambangan emas ilegal.

Berdasarkan data penutupan lahan 2003-2009 telah terjadi penurunan penutupan lahan di wilayah areal penggunaan lahan maupun hutan produksi terbatas. Di tahun mendatang percepatan penurunan tutupan lahan akan semakin tinggi untuk industri perkebunan dan pertanian.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini