Ishak Warnares, Perambah yang Putar Haluan Jadi Pembudidaya Hutan di Biak Numfor

Ishak Warnares, Perambah yang Putar Haluan Jadi Pembudidaya Hutan di Biak Numfor
info gambar utama

Banyak berbagai cerita menakjubkan mengenai seseorang yang awalnya dikenal sebagai pengeksploitasi dan perusak lingkungan, namun kemudian berbalik haluan menjadi pelestari lingkungan. Salah satu yang kisahnya populer di sebut saja Zeth Wonggor.

Zeth awal mulanya merupakan seorang pemburu burung. Namun saat ini, dirinya justru dikenal sebagai orang nomor satu yang terus berusaha keras mengupayakan pelestarian burung di tanah Papua. Yang kenyataannya, Papua sendiri merupakan rumah bagi hampir setengah dari 1.818 spesies burung yang ada di Indonesia.

Masih di daratan yang sama, ada kisah menakjubkan lain yang memiliki riwayat peran serupa, yakni Ishak Warnares. Ishak adalah mantan perambah kayu hutan, yang pada akhirnya menjadi pembudidaya dan melakukan pemberdayaan untuk masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

Seperti apa perubahan besar yang berhasil dilakukan oleh Ishak Warnares?

Ishak Wanares adalah seorang warga Kampung Rimba Jaya, Kabupaten Biak Numfor, Papua, yang merupakan area hutan lindung. Mengutip Kompas, diketahui jika dulunya Ishak sering menebang pohon di area hutan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ia biasa menjual kayu hasil tebangan yang dilakukan kepada perusahaan tertentu, dengan harga Rp1,5 juta rupiah per meter kubik kayu. Akibatnya, area sekitar hutan lindung tersebut sering dilanda banjir dan longsor karena tidak ada lagi daerah resapan air.

Sadar akan munculnya dampak kerusakan besar akan hal yang dilakukan, Ishak akhirnya mulai mengubah haluan. Mulai tahun 2015, dirinya bergerak untuk melakukan budi daya pohon kayu putih.

Hal tersebut dilakukan untuk menghentikan dan mencegah terjadinya perambahan di hutan lindung Biak. Awal mula dimulainya perjalanan Ishak menjadi pembudidaya kayu putih juga terlaksana setelah ditunjuk oleh Jacob Morin, Kepala Kampung Rimba Jaya.

Zeth Wonggor, Pelindung Burung Surga di Pegunungan Arfak

Sempat diremehkan

Sama seperti kisah para pegiat lingkungan yang melancarkan aksi pelestarian, usaha yang dilakukan Ishak rupanya juga sempat dipandang sebelah mata. Hal tersebut lantaran banyak masyarakat yang merasa pesimis karena sebelumnya, tanaman sejenis kayu putih banyak yang tidak bisa dijual di pasaran.

Tidak berhasil secara instan, proses keberhasilan panen dari kayu putih yang Ishak dan rekannya tanam juga membutuhkan waktu lama.

“Selama 1,5 tahun, kami tidur di kebun untuk memastikan penanaman pohon kayu putih berhasil,” ujar Ishak.

Akhirnya, pohon kayu putih yang dimaksud baru panen secara perdana pada tahun 2017. Dan diproses menjadi sebuah komoditas minyak kayu putih yang kini dikenal dengan merek Farkin. Farkin sendiri merupakan bahasa daerah setempat yang bermakna pelestarian atau konservasi lingkungan.

Budidaya terus berkembang, kini Ishak sudah mengelola sistem penanaman hingga produksi minyak kayu putih secara mandiri. Atau lebih tepatnya, ia membina sebuah kelompok yang dinamakan Kelompok Tani Kofarwis.

Perkembangan yang menjanjikan

Ishak Warnares dan Kelompok Tani Kofarwis di Biak Numfor | KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
info gambar

Kelompok tani Kofarwis terdiri dari 20 orang pembudidaya kayu putih, dengan total luas lahan gabungan yang dimiliki mencapai 5 hektare. Saat ini, ada sebanyak 15 ribu pohon kayu putih yang ditanam. Mereka disebut memiliki target untuk mencapai 25 ribu pohon yang dapat tertanam, namun untuk saat ini anggota atau SDM yang dimiliki masih kurang.

”Kami menargetkan penanaman 25.000 pohon di lokasi seluas 5 hektar. Namun, kami memerlukan tambahan jumlah anggota baru untuk mencapai target tersebut,” papar Ishak.

Mulai dari proses panen, pemetikan, pengolahan minyak, penyulingan, pengemasan, semuanya dilakukan secara terintegrasi namun sederhana dari rumah Ishak. Tidak hanya mendatangkan kesejahteraan untuk dirinya sendiri, ia juga berhasil membuat petani anggota kelompoknya mendapat kesejahteraan yang sama.

Diketahui jika dalam waktu satu minggu, kelompok tani Kofarwis dapat menghasilkan sebanyak 6 liter minyak kayu putih. Harga 1 liter minyak tersebut bernilai Rp250 ribu. Penjualan pun dilakukan langsung ke Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL).

Sehingga tidak hanya manfaat ekonomi, pelestarian lingkungan atau hutan lindung di kawasan Biak juga terjamin dengan adanya gerakan ini.

“Kini para anggota kami tidak lagi menebang pohon. Dengan penjualan minyak kayu putih, kami bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp4 juta per bulan.” pungkas Ishak.

Tidak menyimpan ilmu dan keberhasilannya sendiri, banyak juga kalangan yang datang ke Ishak untuk belajar mengenai cara budidaya kayu putih. Mereka yang datang juga berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat di desa tetangga, mahasiswa, hingga peneliti.

”Total saya telah mengajar sekitar 200 orang tentang budidaya kayu putih dalam tiga tahun terakhir. Saya sangat senang dan bangga dapat berbagi ilmu kepada masyarakat,” ungkap Ishak.

Tinggalkan Kota, Pasangan Muda Ini Dedikasikan Hidup untuk Pendidikan di Pelosok Papua

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini