Mengenal Resilience, Soft Skill yang Dibutuhkan di Dunia Kerja

Mengenal Resilience, Soft Skill yang Dibutuhkan di Dunia Kerja
info gambar utama

Dalam dunia pekerjaan, tak hanya hard skill yang harus kamu kuasai, namun juga soft skill. Beberapa soft skill yang penting untuk dikuasai antara lain public speaking, critical thinking, time management, leadership, komunikatif, kreatif dan lain-lain. Namun, ada soft skill lain yang tak kalah penting untuk kamu kuasai, yaitu resilience. 

Apa Itu Resilience?

Resilience adalah kemampuan menyesuaikan diri saat menghadapi tekanan baik internal maupun eksternal. Resilience juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk bangkit dan pulih kembali dari ketidakberhasilan. Skill ini tentu penting untuk dikuasai mengingat banyaknya fase-fase sulit, lika-liku dan tekanan yang dialami di dunia pekerjaan.

Ketahanan seseorang menghadapi stres dan tekanan menjadi penting untuk dikuasai karena resilience menjadi tolak ukur kekuatan mental seseorang saat melewati masa-masa sulit. Pada banyak kasus, orang-orang dengan resilience yang tinggi menjadi jauh lebih kuat dan pulih lebih cepat.

Bagaimana Membangun Resilience?

Menurut Benard (2004), ada tiga hal yang dapat meningkatkan resilience seseorang :
1. Caring Relationship, yaitu dukungan cinta yang tulus sebagai dasar penghargaan yang positif. Contohnya seperti tersenyum dan memberi salam.
2. High Expectation Massages, yaitu dimana seseorang memberikan harapan yang jelas kepada seseorang untuk perkembangan orang tersebut. Harapan tersebut dapat membangun kepercayaan dan membangun resilience serta memberikan tantangan agar seseorang menjadi apa yang diinginkan.
3. Opportunities for Participations and Contribution, adalah kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, tanggung jawab dan kesempatan untuk menjadi pemimpin. Selain itu juga memberikan kesempatan untuk melatih kemampuan problem solving (menyelesaikan masalah).
Meningkatkan resilience menjadi penting dilakukan karena dapat memberikan pengalaman dalam menghadapi masalah dan kesulitan dalam kehidupan.

Aspek-aspek Pembentuk Resilience

Wolin dan Wolin (1993) mengemukakan tujuh aspek utama pembentuk resilience seseorang, yaitu :
1. Insight, yaitu proses perkembangan individu dalam mengetahui, mengerti dan merasakan masa lalunya untuk mempelajari perilaku-perilkau yang lenih tepat
2. Independence, yaitu kemampuan untuk menjaga jarak secara fisik maupun emosional dari lingkungan maupun situasi yang menjadi sumber masalah
3. Relationships, yaitu membangun hubungan yang jujur, suportif dan berkualitas bagi kehidupan
4. Initiative, yaitu keinginan kuat untuk bertanggungjawab terhadap hidupnya
5. Creativity, yaitu kemampuan berpikir untuk menentukan pilihan, konsekuensi, dan alternatif lain dalam menghadapi tantangn hidup
6. Humor, yaitu kemampuan seseorang untuk menemukan kebahagiaan untuk mengurangi beban hidup dalam situasi apapun
7. Morality, yaitu kemampuan seseorang untuk bertingkah laku sesuai atas dasar hati nurani. Seseorang dapat berkontribusi dalam kehidupan orang lain yang membutuhkan bantuan.

Lalu Apa Saja Ciri-ciri Seseorang yang Memiliki Resilience?

Seseorang yang memiliki resilience yang tinggi cenderung memiliki kepribadian yang mudah bersosialisasi, memiliki satu bakat atau lebih, kemampuan menilai sesuatu dengan baik, percaya diri dan religius. Menurut Baumgadner (2010), seseorang yang memiliki resilience yang tinggi akan menampilkan kemampuan dalam dirinya yang meliputi :

1. Intelektual yang baik dan kemampuan problem solving
2. Pembawaan diri yang easygoing dan dapat beradaptasi terhadap perubahan
3. Memiliki self image yang positif 
4. Merupakan pribadi yang efektif
5. Optimis
6. Memiliki nilai pribadi dan nilai budaya yang baik
7 Memiliki selera humor

Dengan memiliki resilience yang tinggi,dapat membantu kamu tetap fokus dan optimis untuk bergerak maju. Tak perlu membuang waktu dan energi untuk menyalahkan situasi atau bahkan orang lain saat menghadapi kesulitan. Temukan solusi dan jadikan sebagai pembelajaran untuk kehidupan di masa depan.

Referensi : Phychology Binus | Catalist Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini