Andrew Kalaweit Sang ‘Tarzan’ dari Kalimantan

Andrew Kalaweit Sang ‘Tarzan’ dari Kalimantan
info gambar utama

Tarzan rupanya tidak hanya ada di negeri dongeng atau cerita fiksi. Di dunia nyata bahkan Indonesia, gambaran karakter tersebut rupanya benar-benar ada. Bukan ‘Tarzan’ yang secara harfiah hidup secara liar dengan gorila atau hewan buas lainnya, tapi laki-laki yang mampu hidup menyatu dengan alam bebas di hutan belantara, yakni Andrew Kalaweit.

Nama Andrew belakangan populer sebagai sosok yang cinta akan lingkungan dan satwa di Indonesia. Dirinya banyak mencuri perhatian karena berbagai aksi dan kegiatannya di hutan Kalimantan secara nyata.

Sedalam apa sebenarnya kehidupan Andrew sampai dijuluki sebagai Tarzan asal Kalimantan?

Sejuta Manfaat Tengkawang, Tanaman Kehidupan bagi Masyarakat Kalimantan

Keturunan Dayak

Sekilas Andrew nampak seperti bukan masyarakat lokal, tapi ia ternyata benar-benar keturunan asli Indonesia. Ibunya berasal dari suku Dayak yang tinggal di hutan Kalimantan. Sementara ayahnya merupakan aktivis lingkungan yang berasal dari Prancis.

Karena itu, tak heran jika keluarga Andrew kini memang benar-benar tinggal di tengah hutan tanah kelahiran sang Ibu. Keluarga mereka mengelola Yayasan Hutan Kalaweit yang dibentuk oleh ayah Andrew pada tahun 1998. Lewat yayasan tersebut, mereka menjalankan program konservasi satwa liar di tempat yang sama.

Sudah menjalankan kegiatan konservasi sedari kecil, anak pertama dari dua bersaudara ini belakangan juga aktif di platform YouTube. Lewat media tersebut, Andrew aktif membagikan konten edukasi dan aktivitas konservasi harian yang ia dan keluarganya lakukan.

Sang ayah, Chanee Kalaweit juga memiliki saluran YouTube-nya sendiri yang juga diisi dengan ragam konten edukasi mengenai lingkungan.

Membangun rumah panggung yang berlokasi di tengah hutan, Andrew dan keluarganya tinggal jauh dari pemukiman. Mereka tidak memiliki tetangga namun lokasi rumahnya berada dekat dengan sungai.

Andrew dan keluarganya benar-benar memanfaatkan sumber daya dari alam untuk kehidupan sehari-hari. Untuk listrik, mereka menginstal panel surya yang dipasang di beberapa bagian halaman. Untuk kebutuhan air, mereka menampung air hujan yang kemudian disaring hingga menjadi bersih.

Untuk makan sehari-hari, sang Ibu mengelola kebun kecil berisi sayuran organik. Untuk merawat kebun organik tersebut, Ibu Andrew juga kerap membuat kompos dari sisa makanan yang ada di dapur.

Yang menarik, disebutkan jika lahan tempat tinggal mereka dulunya adalah bekas peternakan. Jadi, mereka tidak serta-merta langsung membuka lahan di hutan untuk dijadikan rumah. Memahami bahaya yang bisa datang kapan saja karena tinggal sendirian di tengah hutan, sekeliling rumah mereka dikelilingi oleh pagar kawat yang dialiri listrik.

Kisah Makhluk Misterius Budaya Dayak Penjaga Hutan Kalimantan

Sekolah dan edukasi

Meski tinggal di tengah hutan, namun kondisi tersebut tidak menghalangi kewajiban Andrew untuk bersekolah. Keluarganya memasang akses internet khusus agar tetap bisa berkomunikasi dan menjalani sekolah jarak jauh.

Sementara itu di saluran YouTube-nya, Andrew kerap membagikan konten edukasi mengenai cara bertahan hidup di hutan yang belum banyak orang tau. Salah satunya, ia pernah membuat konten mengenai bagaimana suasana selama 24 jam (siang dan malam) berada di tengah hutan Kalimantan seorang diri.

Konten lain yang menarik perhatian adalah saat dirinya menghabiskan waktu seharian di atas pohon durian setinggi 25 meter. Menaiki pohon tersebut dengan leluasa, terlihat jelas jika hutan Kalimantan nampak hanya seperti tempat ‘bermain’ bagi Andrew dan keluarganya.

Tak heran, jika pemuda kelahiran tahun 2004 tersebut dijuluki sebagai Tarzan di Kalimantan. Pada beberapa kesempatan khususnya lewat media sosial yang memiliki banyak pengikut, bukan sekali-dua kali Andrew menyuarakan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, kelestarian satwa, dan lain sebagainya.

Upaya Penyelamatan Bekantan, Satwa Hidung Besar Endemik Pulau Kalimantan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini