Menelusuri Keautentikan Museum Bekasi, Saksi Bisu Perjuangan Rakyat Bekasi Melawan Kolonialisme di Indonesia

Menelusuri Keautentikan Museum Bekasi, Saksi Bisu Perjuangan Rakyat Bekasi Melawan Kolonialisme di Indonesia
info gambar utama

#MakinTahuIndonesia

"Kami yang kini terbaring antaraKrawang-Bekasi," begitulah satu penggalan baris pertama dari puisi karya Chairil Anwar. Puisi itu menyematkan Bekasi dalam satu makna tersirat di dalamnya dengan kesan patriotis dan nasionalis yang berkobar dalam jiwa rakyat Indonesia, khususnya rakyat Indonesia yang berjuang terbentang dari Kerawang-Bekasi. 

Berbicara seputar Bekasi, apa yang terbesit diingatan kalian mengenai sejarah Kota Patriot ini? Hm, sepertinya sangat sulit ya, GoodMates menemukan literatur bahkan bangunan bersejarah di kota ini. Eits, tapi ada lho GoodMates, satu cagar budaya berbentuk bangunan yang masih terjaga asri di Kota Patriot ini, yaitu Museum Bekasi.

Museum Bekasi atau yang dikenal dengan nama Museum Digital Bekasi merupakan salah satu situs bangunan bersejarah yang terletak di Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Sebelum dilakukan pemugaran atau renovasi terhadap bangunan, Museum Bekasi awalnya bernama Gedung Juang '45 Tambun. 

Berikut beberapa ulasan keautentikan sejarah Museum Bekasi yang terangkum menjadi satu keunikan dari museum ini. Yuk, baca selengkapnya!

1. Mulanya Dibangun Oleh Baba Bangsawan dan Tuan Tanah Batavia

Foto: Gedung Juang Tambun | Dokumentasi Pribadi, 2022

Pada mulanya, tahap pertama pembangunan dilakukan pada 1906-1910 yang diinisiasi oleh tuan tanah Batavia, yaitu Khouw Tjeng Kee. Beliau mengajak rakyat muda Indonesia yang berada di Bekasi (pemuda-pemudi) untuk membangun sebuah gedung yang akan dijadikan benteng pertahanan di Bekasi. Lalu dengan banyaknya persetujuan, akhirnya pembangunan ini dilakukan dan saat itu masyarakat menyebutnya dengan nama "Gedung Tinggi Milik Saudagar" atau dikenal dengan Landhuis Tamboen. Akan tetapi, dalam prosesnya, pembangunan benteng pertahanan ini harus dilakukan dengan dua tahapan. Tahap kedua dilanjutkan pada 1925 sebagai tahap akhir atau finishing bangunan.

Beberapa literatur mengatakan bahwa di depan halaman Gedung Juang Tambun yang terlihat dari Jalan Hasanudin banyak ditanami pohon mangga, dan saat itu tidak terlalu dikenal oleh masyarakat yang ada di wilayah Tambun dan Bekasi. 

Lalu, Gedung ini juga pernah dijadikan benteng pertahanan Belanda di kala pergempuran dengan Jepang, akan tetapi Belanda lebih memilih mundur dan jarang sekali menjadikan Gedung Juang Tambun ini sebagai benteng pertahanan terkuat di wilayah kekuasaannya di Bekasi, mereka lebih memilih Klender sebagai pusat pertahanan sehingga Klender menjadi pemisah batas antara Kota Bekasi dan Jakarta Timur. 

Kemudian, Gedung ini pada zaman Belanda sempat dijadikan tempat pertukaran antara tawanan Belanda dan Indonesia, di mana tawanan Indonesia dipulangkan ke Bekasi sedangkan tawanan Belanda dipulangkan ke Batavia melalui jalur kereta api dari rel stasiun yang ada tepat di belakang gedung ini, kini dikenal dengan nama Stasiun Tambun. 

2. Gedung Juang Tambun di Era Penjajahan Jepang

Foto: Pemerintahan Jepang | Dokumentasi Pribadi, 2022

Pada era penjajahan Jepang, tepatnya 1943, Gedung ini dijadikan benteng pertahanan terkuat militer jepang dalam memasok kebutuhan logistik yang ada di wilayah Bekasi. Setelah itu, pada akhir masa penjajahan Jepang di Indonesia, terjadi sebuah peristiwa besar di Kali Bekasi yang terjadi pada 90 Kaigun (Angkatan Laut Jepang) oleh para pejuang Bekasi pada 19 Oktober 1945, yang menjadikan warna merah darah pada Kali Bekasi. Momen tersebut dikenang melalui Monumen Kali Bekasi di Jalan Ir. H. Juanda.

Peristiwa tersebut berkaitan dengan Gedung Juang Tambun karena sebelum kereta dari 90 Kaigun itu terhenti di Stasiun Bekasi, mereka melewati perlintasan rel Stasiun Tambun terlebih dahulu di kala itu yang pastinya mendapati komando aba-aba aman pada saat itu untuk melewati rel kereta. 

3. Gedung Juang Tambun di Era Pasca Kemerdekaan

Foto: Interior Museum Bekasi | Dokumentasi Pribadi, 2022

Setelah masa-masa terkelam telah dilewati, gedung ini dijadikan kantor administratif Kabupaten Jatinegara oleh KNI (Komite Nasional Indonesia). Gedung ini juga sempat direbut kembali oleh Belanda pada 1949 tetapi pada 1950 kembali direbut oleh pejuang Bekasi. Lalu pada 1951 dijadikan markas TNI Batalyon Kian Santang. Kemudian pada 1982 dijadikan APD (Akademi Pembangunan Desa) yang dikenal saat ini sebagai Kampus UNISMA Bekasi yang ada di Jalan Cut Mutia, Bekasi. 

4. Eksistensi Gedung Juang Tambun di Masa Kini

Foto: Balkon Museum Bekasi | Dokumentasi Pribadi, 2022

Pada 1999, gedung ini sempat dijadikan kantor pemadam kebakaran dan kantor sekretariat pemilu dan dinas kebersihan serta pertamanan. Lalu, setelah proses yang cukup lama pada akhirnya Gedung Juang Tambun diubah nama menjadi Museum Bekasi (pada 2020). Kemudian dari segi interior dan konsep museum juga diubah menjadi konsep digital dan kekinian ala Gen Z.

Referensi: Kumparan | Artikel Jurnal Universiteit Leiden, 2013, pp 40-44

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini