Menilik Cara Urban Farming Dorong Perekonomian Bagi Petani Kota dan Desa

Menilik Cara Urban Farming Dorong Perekonomian Bagi Petani Kota dan Desa
info gambar utama

Jika mendengar kata urban farming, yang pertama kali terlintas di pikiran adalah sebatas kegiatan menanam sayur dan buah. Aktivitas ini banyak dilakukan untuk memperoleh sumber pangan bagi masyarakat dari kebun sendiri. Padahal, potensinya lebih dari itu.

Konsep urban farming sendiri memiliki pemahaman ‘pertanian’ di perkotaan. Sementara itu berbagai jenis komoditas yang masuk dalam lingkup pertanian juga beragam. Bukan hanya sayur, rempah, atau buah, tapi jenisnya juga meluas, misal ke tanaman obat dan tanaman hias.

Karena itu, pada beberapa kondisi dan apabila diseriusi, praktik urban farming sebenarnya bisa berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat secara lebih luas. Sepanjang praktiknya dilakukan untuk budidaya komoditas yang memiliki potensi dan nilai jual.

Lalu bagaimana contoh atau bukti urban farming bisa mempengaruhi perekonomian?

Selama PSBB, Tren Urban Farming di Jakarta Meningkat

Penjualan komoditas dari hulu ke hilir yang meningkat

Ilustrasi bibit hortikultura | ppid.menlhk.go.id
info gambar

Direktur Jenderal Hortikultura yakni Prihasto Setyanto pernah mengungkap, bahwa urban farming sebelumnya telah terbukti berpengaruh terhadap penjualan benih hortikultura.

Lebih detail, disebutkan bahwa penjualan benih holtikuluta pernah meningkat hingga lima kali lipat, saat kegiatan tersebut meroket dan populer di kala pandemic melanda di tahun 2020-an.

“Pandemi dan WFH membuat orang memiliki aktivitas baru di rumah, seperti urban farming dengan menanam hidroponik di rumah. Ini adalah fenomena luar biasa. Kami memantau penjualan benih sejak tren ini berlangsung dan ternyata benih horti meningkat hingga lima kali lipat,” ujarnya, pada acara focus group discussion (FGD) bertajuk Kisah Sukses Urban Farming bersama Tabloid Sinar Tani, pada Rabu (10/2/2021).

Lebih detail, selain tanaman sayuran, tanaman hias juga berperan sangat signifikan pada tren urban farming. Peminatnya bahkan meningkat sampai memunculkan petani-petani tanaman hias dari generasi milenial yang terbilang sukses.

Lain itu tidak hanya diminati atau berputar dalam negeri, siklus hasil urban farming tanaman hias nyatanya juga sampai ke mancangera. Hal tersebut terbukti dengan naiknya angka ekspor tanaman hias hingga tiga kali lipat.

Misalnya pada 2019, ekspor tanaman hias berada di angka 105 juta pieces. Namun kemudian pada November 2020, ekspor komoditas tersebut meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi 333 juta pieces.

Pembaca mungkin masih ingat, jika bukti lain dari keberhasilan urban farming jenis tanaman hias juga terjadi di Kalimantan. Di mana taman akuaskap Bucephalandra bahkan memunculkan banyak permintaan izin ekspor.

Lain itu, budidaya tanaman bernama lain buce Kalimantan itu juga mulai dikirim dan banyak dilakukan di luar daerah, tepatnya pada kota besar lain, salah satunya Bogor.

Mengenal Bucephalandra, Tanaman Air Endemik Kalimantan yang Jadi Primadona Akuaskap

Upaya meningkatkan praktik urban farming

Melihat potensi yang ada, Kementerian Pertanian ingin menjaga pencapaian dan momentum tersebut dengan pengembangan yang terpelihara. Sebelumnya, Ditjen Hortikultura telah meluncurkan kegiatan urban farming dengan menyebarkan penanaman cabai di wilayah DKI Jakarta.

Total luas lahan urban farming yang digarap mencapai 4,7 hektare, yang dimanfaatkan oleh 71 kelompok tani. Namun di samping itu, Kementerian Pertanian juga menjalankan program Kampung Hortikultura.

Mengapa kampung? Padahal urban farming sendiri selama ini identik dengan perkotaan?

Jawabannya adalah karena program pertanian ini tidak hanya menyasar lahan di perkotaan, tetapi juga petani dengan lahan sempit meskipun di desa.

Nantinya, komoditas yang dikembangkan akan disesuaikan dengan agroekosistem yang ada sesuai dengan karakter masing-masing. Harapannya, dengan program ini kesejahteraan para petani dapat tercapai dengan hasil produktivitas yang tinggi.

Bahkan lebih lanjut, akan lebih baik lagi jika pengembangan urban farming juga dapat sekaligus menjadi kawasan agro-eduwisata.

Begini Inovasi Urban Farming dari Kelurahan Cisaranten Kidul, Bandung

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini