Ratu Juliana dan Kisah Kunjungan Pertama Penguasa Belanda ke Indonesia

Ratu Juliana dan Kisah Kunjungan Pertama Penguasa Belanda ke Indonesia
info gambar utama

Bangsa Belanda datang ke Indonesia pertama kali pada 23 Januari 1595. Sejarawan Universitas Leiden, Femme Simon Gaastra dalam De Geschiedenis van de VOC menyebut delegasi dagang ini dipimpin oleh Cornelis de Houtman.

Namun selama Belanda menjajah negara kolonialnya, tidak pernah sekalipun raja ataupun ratu Belanda yang menginjakkan kakinya di tanah Hindia. Para penguasa Eropa bagian barat itu hanya mengandalkan seorang gubernur Jenderal.

Barulah pada masa kepemimpinan Ratu Juliana (1909-2004), Belanda mulai membuka diri kepada Indonesia. Jalinan kerjasama antara Indonesia dan Belanda dimulai sejak 1966. Kala itu Pemerintah Indonesia menerima bantuan dana 573.300 juta rupiah dari Belanda.

Festival Batavia Kota Tua: Menikmati Perjalanan 400 Tahun Kota Jakarta

Ratu Juliana naik tahta menggantikan ibunya, Ratu Wilhelmina (1880-1962). Pada 27 Desember 1949, Ratu Juliana yang secara resmi menyerahkan kedaulatan Hindia Belanda kepada ketua delegasi Indonesia, Mohammad Hatta.

Hubungan Indonesia dan Belanda semakin harmonis manakala rombongan Presiden Soeharto untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Belanda pada 1970. Lawatan kenegaraan tersebut menjadi salah satu momen terpenting dalam sejarah.

“Dengan perasaan penuh kegembiraan kami menyambut kunjungan Yang Mulia sebagai presiden Republik Indonesia yang pertama berkunjung ke Nederland,” ucap Ratu Juliana seperti dikutip dari Harian Kompas 5 September 1970 yang diwartakan Kompas.com.

Kunjungan balasan

Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard mendarat aman di Bandara Kemayoran pukul 13.00 WIB dengan Pesawat jet constellation DC-8. Diberitakan Harian Kompas, 27 Agustus 1971, ribuan orang datang memadati Kemayoran termasuk para pejabat pemerintah.

Presiden Soeharto bersama ibu negara menyambut langsung keduanya di kaki tangga pesawat. Putri Soeharto, Siti Hardijanti Hastuti, kemudian menyerahkan sebuah karangan bunga kepada Ratu Juliana.

Dari Kemayoran, rombongan bergerak ke Wisma Negara, iring-iringan mobil yang dijaga begitu ketat tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk melihat Ratu Juliana dan suaminya tersebut.

Kenangan Indahnya Kali Krukut: Ketika Anak Betawi Mandi Bersama Ikan dan Buaya

“Mereka yang sedari pagi sudah berkumpul akhirnya dapat menyaksikan secara langsung para penguasa Belanda untuk menginjakkan kakinya di Indonesia,” tulis M. Fazil Pamungkas dalam Kunjungan Pertama Penguasa Belanda ke Indonesia yang dimuat Historia.

Di Istana Merdeka, acara dilanjutkan dengan pertemuan santai antara keluarga presiden dan rombongan ratu. Lalu mereka saling bertukar tanda mata sebagai kenang-kenangan atas kunjungan tersebut.

Soeharto memberi empat gelang emas dan ukiran emas buatan Kendari serta patung garuda buatan Bali. Sedangkan Ratu Juliana memberi benda-benda kristal sebagai hadiah kepada Soeharto.

“Baik kalangan resmi Belanda maupun Indonesia melihat kunjungan Ratu Juliana ke Indonesia ini sebagai suatu peristiwa yang sangat penting dalam proses saling dekat mendekati dari kedua bangsa.” tulis Pikiran Rakyat.

Safari Ratu

Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard selama berada di Indonesia mengunjungi banyak tempat. Keduanya pergi ke Kebun Raya dan Istana Bogor, Bandung, Kawah Tangkuban Perahu, Yogyakarta, Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan beberapa objek wisata Bali.

Ratu Juliana dan suaminya juga mengunjungi tempat-tempat penampungan anak, rumah penyandang disabilitas, dan tempat-tempat sosial lainnya. Mereka pun berziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata dan Pemakaman Belanda di Menteng Pulo.

Penguasa Belanda ini juga menyempatkan melakukan kunjungan ke Universitas Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa dari seluruh Jakarta dan diperkenankan untuk hadir dan mendengarkan pidato dari sang ratu.

Kisah Hidup Mata Hari, Agen Rahasia Perang Dunia I yang Pernah Hidup di Jawa

“Jika kalian masih muda dan sudah tidak percaya pada hari-hari esok, itu tidak baik. Demikian pula, kalau kalian sudah lanjut usia, tapi tidak lagi percaya akan masa depan, itupun suatu kekeliruan,” ucap Ratu Juliana.

Ratu Juliana kemudian sampai ke Bandung (29/8) dari Bogor. Di Kantor Gubernuran, Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard menyaksikan pertunjukan tari dan pawai kesenian khas Priangan yang dibawakan oleh para seniman dari kabupaten-kabupaten di Jawa Barat.

Di Bandung, ratu menyempatkan waktu mengunjungi Tangkuban Perahu di Subang, Jawa Barat. Rombongan ini kemudian esok harinya (30/8) berada di Yogyakarta. Mereka kemudian meninjau Candi Borobudur dan Candi Prambanan

“Ratu Juliana akan berada di Yogyakarta hingga Rabu untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Bali sebagai tahap terakhir kunjungan kenegaraan di Indonesia,” tulis Pikiran Rakyat edisi 1 September 1971.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini