Mungkinkah Pemukiman dengan Konsep Kota Terapung Dibangun di Indonesia?

Mungkinkah Pemukiman dengan Konsep Kota Terapung Dibangun di Indonesia?
info gambar utama

Ada berbagai hal yang membuat populasi masyarakat di dunia diprediksi akan semakin sulit memiliki tempat tinggal di masa depan. Dua di antaranya semakin terbatas dan berkurangnya lahan pemukiman yang tersedia, dan berhubungan dengan fenomena naiknya permukaan air laut yang disebut akan membuat beberapa wilayah tenggelam.

Tak perlu jauh-jauh, di Indonesia misalnya, ada beberapa wilayah yang diyakini akan tenggelam dalam belasan hingga puluhan tahun mendatang, dan buktinya memang sudah terlihat saat ini. Wilayah yang dimaksud di antaranya Kota Jakarta, atau daerah pesisir lain semisal Surabaya, yang juga dihantui ancaman yang sama.

Melihat kondisi tersebut, ada satu solusi yang belakangan ramai dipertimbangkan oleh sejumlah ilmuwan atau ahli di bidang terkait, salah satunya adalah pembangunan kota terapung. Mungkinkah hal tersebut terjadi?

Jawabannya mungkin, karena ternyata sudah ada negara lain yang lebih dulu melancarkan proyek ini, yaitu Maladewa, yang memang dikenal sebagai salah satu negara yang secara nyata akan tenggelam dalam kurun waktu beberapa tahun mendatang.

Bahkan, negara tersebut diprediksi akan kehilangan 77 persen luas daratannya pada tahun 2100. Sebagai solusim dibangunlah proyek kota terapung bernama Maldives Floating City (MFC).

Sudah dimulai secara resmi pembangunannya pada 14 maret 2021, kota terapung tersebut berada di atas lahan seluas 200 hektare. Lebih detail, titik lokasinya memiliki jarak tempuh sekitar 10 menit dari Ibu Kota Male jika menaiki kapal.

Kampung Yoboi, Desa Wisata Terapung di Danau Sentani Papua

Wujud kota terapung di Indonesia?

Sebenarnya di Indonesia, sudah contoh pemukan kota terapung yang berdiri sejak lama. Lebih tepatnya, kota terapung tersebut berada di Pulau Sedanau, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Mengutip salah satu sumber, disebutkan bahwa masyarakat bersama Pemerintah Kabupaten Natuna bersama-sama membuat 'daratan' di atas permukaan laut wilayah tersebut. Terungkap jika hampir 95 persen hunian warganya didirikan secara terapung.

Secara teknis, rumah-rumah terapung yang dimaksud berdiri kokoh dengan penyangga yang tertanam di air laut Natuna. Karena pembangunan tempat tinggal terapung tersebut, daratan tempat pemukiman di Pulau Sedanau disebutkan sudah bertambah menjadi sekitar 2,5 kilometer ke arah laut.

Di sisi lain, kota terapung serupa juga dapat dijumpai di kawasan lainnya, yakni Pulau Bunguran Besar, Kota Ranai, Kampung Penagi.

Dulunya, kawasan di Penagi tersebut menjadi pusat ekonomi masyarakat di Kabupaten Natuna. Bukan tanpa alasan, hal tersebut lantaran kampung Penagi dulunya menjadi pintu masuk ke pulau Bunguran Besar, sehingga kapal-kapal dagang yang melintas laut China selatan, akan singgah ke Penagi sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan lain.

Namun kini, keramaian tersebut sudah tak lagi terjadi sehingga ratusan rumah terapung yang ada di sana telah sepi dan sunyi.

Festival Pasar Terapung, Semarak dengan Pengisi Acara yang Beragam

Kota terapung gagasan mahasiswa ITS

Gagasan kota terapung rancangan mahasiswa ITS | Dok. mahasiswa ITS Rgan Satria (coroflot.com)
info gambar

Melihat terciptanya kota terapung di Natuna, menimbulkan pertanyaan apakah hal yang sama juga dapat dilakukan untuk mempertahankan lahan bermukim, di daerah Indonesia lain yang disebut berpotensi tenggelam.

Bicara mengenai ide, gagasan tersebut rupanya sempat dirancang oleh sekelompok mahasiswa asal Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Mereka merancang ide kota terapung di salah satu wilayah yang mendapat ancaman tenggelam yakni Surabaya, lewat gagasan Surabaya Frishapp.

Ada 3 orang mahasiswa yang bersama-sama mengajukan gagasan tersebut, ketiganya adalah Puput Wiyono, Rigan Satria Asmara Putra, dan Titis Wahyu Pratiwi. Mereka berpendapat bahwa Surabaya Frishapp dapat menjadi solusi atas masalah laju pertumbuhan penduduk yang semakin hari kian besar.

Di saat bersamaan, mereka menilai jika ide tersebut lebih memungkinkan dan ramah dari dari segi lingkungan dibandingkan konsep reklamasi. Hal tersebut lantaran keanekaragaman hayati diyakini bisa punah akibat proyek reklamasi.

Namun sayangnya, hingga kini gagasan dan konsep kota terapung Surabaya Frishapp belum ada sinyal untuk dikembangkan agar menjadi terealisasi.

Selain PLTA, Bendungan Sutami Akan Punya Fasilitas PLTS Terapung

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini