Riwayat Blora: Wilayah Bersejarah yang Masyarakatnya Dekat dengan Hutan

Riwayat Blora: Wilayah Bersejarah yang Masyarakatnya Dekat dengan Hutan
info gambar utama

Kabupaten Blora secara administratif terletak di sisi paling timur Provinsi Jawa Tengah bersama Kabupaten Rembang. Dalam perjalanan sejarah, Kabupaten Blora tergolong wilayah yang cukup tua.

Christriyati Ariani dalam Jinem: Lumbung Padi Petani Blora menyebutkan bahwa Blora berasal dari kata Belor yang berarti tanah lumpur atau tanah yang becek. Kata ini kemudian berkembang menjadi mbelor atau mbeloran yang berarti tanah yang berlumpur.

“Selanjutnya lafal lidah masyarakat akan lebih mudah mengucapkan dengan istilah mbloran, sehingga akhirnya menjadi istilah Blora,” paparnya.

Sejarah Hari Ini (11 Desember 1749) - Hari Jadi Kabupaten Blora

Folklor versi lain menyebutkan bahwa kata Blora berasal dari belo dan lara yang mempunyai arti anak kuda yang sakit. Cerita ini dihubungkan dengan seekor anak kuda tunggang yang dihadiahkan oleh Asisten Residen Rembang kepada Senapati Ngadi.

Hal ini karena berhasilnya menumpas pemberontakan Naya Gimbal, seorang prajurit pengikut pasukan Diponegoro yang melarikan diri hingga tiba di Blora. Dalam pemberontakan ini kuda yang ditungganginya sakit atau lara.

Sehingga disebut belo lara, akhirnya didapat penyebutan Blora. Karena itu, jelasnya, wilayah Blora ini merupakan penghargaan yang diberikan Asisten Residen Rembang kepada Bupati Ngadi.

Pengaruh Mataram

Lahirnya Kabupaten Blora berkaitan dengan Peristiwa Pamblora yang terjadi pada 1554-1556. Peristiwa ini berkaitan dengan penyerangan terhadap wilayah Jipang yang dilakukan oleh tentara Demak, di mana Arya Penangsang mengalami kekalahan.

Bagi masyarakat Blora, peristiwa Pamblora memang disebut peristiwa yang sangat menyedihkan, sebab saat itu sebagian besar rakyat Blora harus berlarian dan bersembunyi di hutan-hutan untuk menghindari serangan musuh.

Sejarah Kabupaten Blora juga dikaitkan dengan pengaruh Mataram ketika diperintah oleh Panembahan Senapati pada tahun 1586-1601. Saat itu, Blora termasuk wilayah timur yang disebut dengan Bang Wetan.

Samin Surosentiko, Kearifan Ekologi dan Perlawanan Tanpa Kekerasan

Pada saat pemerintahan Sultan Agung (1613-1645), beliau mengadakan pembagian terhadap wilayah Blora, termasuk wilayah mancanegara timur. Sedangkan pada masa pemerintahan Pakubuwana I (1740-1759) daerah Blora ini diberikan kepada putranya Pangeran Blitar.

Namun setelah Perjanjian Giyanti, wilayah Blora diberikan kepada Pangeran Mangkubumi yang kelak jadi Sultan Hamengkubuwono I penguasa Kesultanan Yogyakarta. HB I lantas menunjuk Wilatikta sebagai Bupati Blora pertama pada 11 Desember 1749.

“Akhirnya tanggal pengangkatan tersebut, hingga kini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Blora, dan selalu dirayakan oleh Pemerintah Kabupaten Blora dengan berbagai atraksi yang melibatkan masyarakat,” paparnya.

Masyarakat hutan

Hampir separuh (49,66 persen) wilayah Blora terdiri dari hutan jati (tectona grandis) baik yang berstatus sebagai hutan negara, hutan lindung maupun hutan rakyat. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kehidupan kultur masyarakat Blora yang menggantungkan hidup kepada hutan.

Kultur agraris petani Blora juga bisa dicermati dari cara pandang mereka tentang tanah. Konsepsi ini terpengaruh dari kultur masyarakat Samin yang mendiami sebagian besar wilayah Blora.

“Baginya tanah merupakan sumber penghidupan, tanah merupakan ‘harta kekayaan’ yang harus dipertahankan sampai kapanpun dan kehidupan mereka selalu dekat dengan alam, sehingga petani Blora sangat percaya bahwa alam mempunyai kekuatan tertentu,” jelasnya.

Adanya alasan inilah maka keberadaan hutan di wilayah Blora secara tidak langsung juga ikut mensejahterakan warga di sekitarnya. Tidak sedikit penduduk sekitar hutan yang seringkali memanfaatkan hasil hutan untuk menopang kehidupan.

Pekerjaan ekonomi tersebut antara lain pengambil renceh (mengambil daun jati) dan mengambil ranting/kayu bakar. Eksploitasi hutan yang ada di Kabupaten Blora telah berlangsung lama sejak masa VOC.

Sejarah Hari Ini (11 Desember 1749) - Hari Jadi Kabupaten Blora

Ketika itu dengan dibukanya lahan-lahan untuk hutan tidak lain guna mendukung kepentingan Pemerintah Belanda. Kala itu, Pemerintah Belanda mengatur dan menetapkan tata cara penebangan hutan yang diatur melalui undang-undang.

Mengingat separuh wilayah Blora berupa hutan, maka berpengaruh pula terhadap tradisi dan budaya masyarakatnya. Penduduk Blora gemar memelihara burung sebagai bentuk gaya hidup terutama laki-lakinya.

Ada juga seni sastra lisan yakni kentrung yang berkembang di daerah lain seperti Kediri dan Tuban. Ajaran yang disampaikan mengandung nilai-nilai kerakyatan yang menonjolkan sifat kesederhanaan, komunikatif, dah humor.

“Kadangkala seni bertutur ini juga membawakan cerita pasemon atau lambang kehidupan manusia yang dibawakan dalam hajatan supitan, ruwatan, sedekah bumi atau acara-acara tertentu yang mengusung program-program pembangunan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini