Kisah Raden Saleh sebagai Penyuplai Barang Antik ke Museum Eropa

Kisah Raden Saleh sebagai Penyuplai Barang Antik ke Museum Eropa
info gambar utama

Raden Saleh Syarif Bustaman selain sebagai pelukis besar, juga dikenal sebagai seorang kolektor barang-barang antik yang berkaitan dengan seni dan budaya. Di kediamannya di wilayah Cikini banyak terkumpul berbagai benda seni.

Tetapi tidak semua barang kuno yang dikumpulkan oleh Raden Saleh tersebut dipakai untuk memuaskan kepentingan pribadinya. Dirinya disebut hanya menjadi seorang penyuplai barang-barang kuno.

Raden Arjo Sastro Darmo dalam buku Cariyos Nagari Betawi mengatakan, banyak barang-barang antik yang dikumpulkan itu untuk memenuhi pesanan museum-museum yang ada di Eropa.

Lukisan Harimau dan Pergulatan Emosi Raden Saleh Melihat Alam Nusantara

“Saleh (Raden Saleh) memanfaatkan pesanan benda-benda seni dan budaya yang meningkat berkat didirikannya Museum Etnografi di Eropa,” kata Raden Arjo Sastro Darmo yang dimuat dalam buku Raden Saleh, Kehidupan dan Karyannya.

Disampaikan oleh Raden Arjo, sosok Saleh turut serta melacak, menemukan, serta memborong barang antik naskah Jawa. Kebanyakan dari barang tersebut ia hadiahkan kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

Dirinya juga sering kali menyalin naskah kuno yang sangat berharga dengan biaya sendiri dan mengembalikan naskah yang asli kepada pemiliknya. Namun beberapa naskah itu singgah di meja penjualnya di ruang rumah di Cikini.

Koleksi Raden Saleh

Pada hari Jumat 10 Juni 1866, di rumah Cikini itu, Raden Arjo datang bersama seorang Belanda untuk melihat-melihat koleksi barang antik milik Saleh. Benda-benda kuno itu sengaja dipamerkan dan sebelumnya banyak dikunjungi orang-orang Belanda.

Keduanya kemudian diajak masuk ke dalam sebuah kamar yang penuh dengan barang antik yang tertata rapi sesuai klasifikasinya. Keris dikelompokkan dengan keris, pedang dengan pedang, sabit dengan sabit dan lain sebagainya.

Lukisan Megamendung Raden Saleh, Saksi Keindahan Alam yang Laku Rp36 Miliar

Ditulisnya pada deretan senjata tajam terdapat koleksi senjata penusuk dan senjata pembacok, seperti keris, tombak, parang, pedang pendek, arit, pisau potong dan lain sebagainya.

Di atas meja diletakkan arca-arca purbakala, arca Budha, naskah daun lontar (serat karopak) dan naskah yang ditulis di atas kertas. Juga ada perhiasan, yakni mulai gelang, kalung, benda-benda dari kayu, meliputi tongkat, tulang-tulang, mineral serta batu-batu berbentuk aneh.

Tersimpan di Museum Eropa

Raden Arjo yang melihat banyaknya koleksi dari Raden Saleh ini lantas sangat penasaran bagaimana pelukis kondang ini bisa mendapatkan. Raden Saleh menyatakan tidak mengeluarkan uang sepeser pun atas koleksinya ini.

“Untuk semua benda ini, tidak setengah sen pun uang saya keluarkan. Jika saya meminta barang-barang, maka permintaan saya tidak ditolak, baik oleh tuan-tuan bangsawan maupun orang-orang kecil,” bangganya.

Raden Saleh memperoleh semua barang antik itu dari perjalanan ke Jawa Tengah pada tahun 1865. Barang-barang itu berasal dari para aristokrat di Yogyakarta dan Surakarta yang takjub dengan gaya belanda Raden Saleh.

Para bangsawan itu kemudian memberikan barang kuno kepada Raden Saleh sebagai hadiah cuma-cuma. Ada pula yang berharap barang-barang antik itu terutama naskah-naskah kuno, selanjutnya diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda.

Karena itu tidak semua barang antik itu bertahan di kamar yang telah diubah menjadi ruang pameran. Kesenangan Raden Saleh berbagai hadiah membuat benda-benda bernilai adiluhung itu keluar dari Nusantara.

Telaah Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, Cara Raden Saleh Membalas dengan Karya

Dirinya senang memberi hadiah barang antik kepada sahabat-sahabatnya di Eropa. Misalnya sebuah naskah kuno yang diperoleh dari Sultan Sumenep Pakunataningrat, dihadiahkan cuma-cuma kepada Ernest II dari Sachsen - Coburg dan Gotha.

Naskah kuno itu berisi teks bahasa Jawa Kawi dan Jawa Kromo Inggil. Di permukaan amplop yang berukuran besar, Raden Saleh menuliskan judul berbahasa Jerman yang berarti: Etika Budha di Babanan, Sebuah Daerah di Jawa.

Kini naskah tersebut tersimpan dalam koleksi autograf Veste Coburg Art Collection. Dalam buku itu juga disebutkan beberapa barang antik dari Raden Saleh tersimpan di Museum Istana Gotha di Perpustakaan Negara bagian Gotha.

Kemudian juga tersimpan di Museum Etnologi di Wina dan beberapa di Jerman. Kendati demikian, Raden Saleh menghadiahkan sebagian besar koleksi barang antiknya kepada Museum Sejarah Jakarta.

“Dia (Raden Saleh) lebih banyak berusaha untuk menunjukan budaya Jawa kepada dunia, menjadi seorang kolektor sistematis pertama Indonesia,” jelas Werner Kraus.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini