Ratusan Tahun Teronggok, Indonesia Akan Membawa Pulang Prasasti Pucangan dari India

Ratusan Tahun Teronggok, Indonesia Akan Membawa Pulang Prasasti Pucangan dari India
info gambar utama

Pemerintah Indonesia akan membawa pulang Prasasti Pucangan peninggalan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahirupan di Jawa Timur dari India. Saat ini, pemerintah Indonesia sedang berdiskusi dengan pemerintah India mengenai proses pengembalian ini.

Hal ini disampaikan oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek, Hilmar Farid melalui akun instagramnya @Hilmarfarid. Dirinya mengunggah fotonya berada di samping prasasti yang memuat informasi tentang silsilah Raja Airlangga.

“Prasasti Pucangan. Memuat informasi tentang silsilah Raja Airlangga dan beberapa peristiwa dalam perjalanannya sebagai raja,” kata Hilmar dalam unggahannya yang dilihat awak media, Sabtu (3/9/2022).

Misteri Prasasti Empu Sindok di Situs Gemekan, Benarkah Berisi Kutukan?

Hilmar menceritakan prasasti ini dibawa oleh pemerintah kolonial Inggris untuk dijadikan koleksi Royal Asiatic Society. Diduga kuat, prasasti ini kemudian dikirim ke Kolkata di India bersama Prasasti Sangguran pada masa Pemerintahan Thomas Stamford Raffles.

Pada 1813, Raffles diketahui memberikan dua prasasti ini sebagai hadiah kepada Lord Minto, atasannya yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di India. Lord Minto kemudian membawa Prasasti Sangguran ke Skotlandia namun meninggalkan Prasasti Pucangan.

“Prasasti ini dibawa oleh Inggris untuk menjadi koleksi Royal Asiatic Society yang sekarang menjadi Indian Museum di Kolkata,” ujarnya.

Lama teronggok di India

Prasasti Pucangan tersebut lama teronggok di sana dan kurang mendapat perhatian. Hilmar menyebut akan membicarakan kemungkinan memulangkan prasasti ini dengan Kementerian Kebudayaan India.

“Untuk waktu cukup lama teronggok di gudang dan kurang mendapat perhatian. Pagi ini saya akan bertemu Kementerian Kebudayaan India untuk membicarakan kemungkinan membawanya ke Indonesia. Semoga saja,” ujarnya.

Prasasti Pucangan bisa dikatakan salah satu prasasti yang sangat penting karena memuat profil Prabu Airlangga, Raja Jawa yang bahkan kiprahnya dianggap lebih hebat dari Hayam Wuruk dari Majapahit.

Prasasti Pucangan berasal dari batu andesit, berupa blok batu yang dibentuk berpuncak lancip, seperti karakter kebanyakan prasasti prasasti Airlangga. Di bagian bawahnya terdapat lapik berukiran hiasan padmasana.

Hari Samida, Maknai Pohon di Bogor

Ukurannya yang dicatat bertinggi 1,24 m, lebar 0,95 m di puncaknya, sedangkan main ke bawah mengecil hingga punya lebar 0,86 m. Bisa dikatakan kondisi fisiknya masih bagus, tidak seperti prasasti lainnya yang sudah cuil, retak, rompal, bahkan hancur.

Aksara yang dipergunakan adalah huruf Jawa Kuno dengan bahasa Sansekerta pada seluruh bagian prasasti. Terlihat huruf yang digunakan adalah aksara kawi akhir seperti karakter font yang digunakan dalam prasasti-prasasti peninggalan Airlangga lainnya.

Namun kondisi Prasasti Pucangan kini memprihatinkan meski menjadi bagian dari Museum Kalkuta. Benda bersejarah ini tak dipajang layaknya benda berharga penuh sejarah. Terjebak di gudang lembab dengan iklim negara yang sama dengan Indonesia.

Permukaan Prasasti Pucangan pun tak terlindungi, dan hanya diangini oleh semilir baling-baling kipas yang berdiri di beberapa meter di hadapannya, bersama onggokan barang-barang lainnya yang entah statusnya.

Upaya pengembalian

Pihak Pemerintah India sepertinya tidak terlihat punya kesadaran bahwa tugu batu bertulis ini sangat penting bagi Indonesia. Kondisinya masih lapuk dimakan usia, dan makin aus diselimuti jamur.

Bahkan kini warnanya pun terlihat agak belang, hal ini mungkin karena faktor kelembapan udara di sekitarnya. Sudah lebih dari 200 tahun Prasasti Pucangan terpenjara begitu mengenaskan di India.

Sebagai prasasti yang sangat bersejarah, terutama memuat riwayat hidup Raja Jawa yang sangat penting, Prasasti Pucangan sangat sia-sia diperlakukan seperti itu. Sudah banyak upaya yang dilakukan namun belum mendapatkan hasil.

Pada 2021, Kedutaan Besar RI di India menyatakan pemerintah akan segera memproses pemulangan prasasti yang berasal dari abad ke 11 ini. Pihak Kedubes menyatakan Prasasti Pucangan adalah benda budaya yang penting.

Prasasti Mulawarman; Prasasti Tertua di Indonesia

“Karena itu sesuai dengan amanat UU Cagar Budaya maka prasasti itu harus dilindungi dan dibawa pulang ke Indonesia untuk dirawat dan dipelajari,” ucap Kepala Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI New Delhi. Hanafi yang diwartakan Republika.

Peneliti dari Puslit Arkenas Kemendikbud Ristek, Titi Surti Nastiti juga sepakat bahwa pemerintah harus mengupayakan pemulangan Prasasti Pucangan. Dirinya melihat bahwa benda bersejarah ini memuat informasi penting bagi peradaban di Jawa.

“Bagi India, prasasti ini mungkin tidak ada historisnya sama sekali. Tetapi bagi Indonesia ini sangat penting,” katanya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini