Canggih, Pondok Pesantren di Kediri Andalkan Pasokan Listrik dari PLTS Atap

Canggih, Pondok Pesantren di Kediri Andalkan Pasokan Listrik dari PLTS Atap
info gambar utama

Umumnya selama ini praktik energi alternatif berupa PLTS atap baru dipasang di sejumlah fasilitas atau gedung publik, pemerintah, atau skala rumahan secara pribadi. Tapi ternyata, kesadaran untuk beralih ke energi ramah lingkungan juga dapat ditemukan pada lembaga pendidikan berbasis Agama, salah satunya pesantren.

Di Kediri, Jawa Timur, ada sebuah pesantren yang secara mandiri memanfaatkan listrik dari PLTS atap yang mereka pasang. Pondok pesantren yang dimaksud adalah Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah.

Apa yang membuat lembaga pendidik dan pengajaran berbasis Agama ini memutuskan untuk memanfaatkan PLTS?

Memaksimalkan Pemanfaatan Energi Surya Melalui PLTS Atap

Mengurangi ketergantungan terhadap PLN

Ponpes Wali Barokah diketahui sudah memiliki rangkaian panel surya yang secara resmi beroperasi mulai tahun 2018. Keberadaan panel surya atau PLTS tersebut merupakan bantuan dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

Menurut Prasetyo Sunaryo, selaku Ketua DPP LDII, tujuannya diadakannya PLTS tersebut adalah untuk menekan biaya listrik yang selama ini perlu dikelularkan yayasan. Karena terbukti, sebelumnya beban biaya yang ditanggung terus mengalami peningkatkan seiring dengan besarnya pemakaian listrik yang bertambah.

"Berkacara dari hal tersebut, DPP LDII melakukan terobosan berupa pembangunan PLTS sendiri. Sebagai tahap awal dibangun di Ponpes Wali Barokah kota Kediri," ujarnya, mengutip keterangan di laman Kominfo Pemprov Jatim.

Berkat ide tersebut, PLTS yang dibangun juga menjadi pengembangan PLTS terbesar di Indonesia untuk lingkup pondok pesantren. Lebih lanjut, gerakan yang sama juga dilakukan sebagai bentuk pemanfaatan dan penerapan energi baru terbarukan (EBT), sesuai dengan rencana jangka panjang organisasi.

"Ini wujud paradigma khusus tidak cukup dengan cara pandang perbandingan harga saja. Pendayagunaan EBT komparasinya bukan terhadap harga BBM, tetapi harus terhadap pengandaian apabila terjadi kelangkaan energi BBM. Ini yang menjadi pemahaman organisasi yang kita terapkan," ujar Prasetyo lagi.

Tak Ada PLN, PLTS Pun Jadi

Detail PLTS atap yang terpasang

PLTS di Pondok pesantren Wali Barokah | kominfo.jatimprov.go.id
info gambar

Bicara mengenai komponennya, PLTS yang sudah terpasang memiliki ukuran sekitar 40 meter kali 41 meter. Menurut pakar PLTS, Horisworo, dengan pertimbangan untuk memberikan manfaat yang lama, maka panel surya (solar cell) yang digunakan juga yang terbaik di kelasnya, yakni premium grade buatan dan didatangkan langsung dari Kanada.

Karena itu, tak heran jika dari segi biaya dan pengadaan, pembuatan fasilitas PLTS ini terbilang cukup mahal.

“Harganya, termasuk peralatan penunjangnya mencapai Rp10,1 miliar. Tapi potensi umat yang besar ini harus diwujudkan dengan membeli yang premium grade buatan Kanada. Sayang bila hanya beli buatan Cina yang harganya lebih murah. Dengan garansi 25 tahun, maka jatuhnya malah lebih efisien,” terangnya.

Secara keseluruhan diketahui ada sebanyak 640 panel yang didatangkan. Dengan susunan panel tersebut, listrik yang mampu ditampung per harinya mencapai 220 kilowatt.

Bukan hanya itu, sebagai pendukung instalasi PLTS juga dilengkapi dengan 40 baterai penyimpanan energi listrik, yang dapat digunakan saat malam hari. Adapun puluhan rangkaian baterai penyimpanan tersebut memiliki kapasitas mencapai 50 ribu watt.

Disebutkan jika sejumlah perlengkapan yang beroperasi menggunakan energi listrik dari PLTS atap tersebut terdiri dari kipas angin, lampu, komputer, hingga lift yang beroperasi di bangunan pesantren.

K.H. Soenarto, selaku pimpinan Ponpes Wali Barokah mengungkap harapan dari terpasangnya PLTS atap ini.

“Untuk kedepannya ada pemikiran menjadikan Ponpes ini, sebagai wisata religi dan edukasi teknologi PLTS. Sehingga menginspirasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penerapan Energi Baru Terbarukan,” ujarnya.

Diketahui jika saat pertama beroperasi pihak Ponpes masih menggunakan listrik dari PLN dan mesin genset untuk kebutuhan darurat. Ke depannya, pengembangan PLTS di ponpes tersebut akan terus dioptimalkan agar dapat memproduksi daya hingga mencapai 1 juta watt/1.000 kilowatt.

Mengenal PLTS Terapung, Ada 3 Proyek yang Sedang Dibangun di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini