Kisah Raden Saleh sebagai Muslim dan Anggota Freemason di Eropa

Kisah Raden Saleh sebagai Muslim dan Anggota Freemason di Eropa
info gambar utama

Raden Saleh Sjarif Boestaman (1811-1880) merupakan pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang menjadi pioner seni modern Indonesia. Sosoknya begitu unik, salah satunya adalah dugaan keterlibatannya dalam perkumpulan rahasia Freemason.

Freemason merupakan perkumpulan persaudaraan yang memiliki tokoh-tokoh dan ritual-ritual rahasia. Menjadi anggota Freemason bukanlah hal yang mudah, karena organisasi ini tertutup dalam penerimaan anggota.

Anggotanya merupakan individu-individu yang berprestasi dan memiliki pengalaman di bidang tertentu seperti pejabat pemerintah, militer, pemilik tanah, ilmuwan, pengusaha, seniman, penulis, dan lain-lain.

Kisah Raden Saleh sebagai Penyuplai Barang Antik ke Museum Eropa

Pada tahun 1829, Raden Saleh berkesempatan pergi ke Belanda untuk mewujudkan mimpinya hidup di tengah peradaban Eropa. Banyak orang dan pejabat tinggi di Eropa mengaguminya karena bisa hidup dalam campuran budaya Muslim Jawa dan Eropa.

Dirinya pun sibuk memenuhi undangan banyak pejabat di Eropa yang penasaran dengan kemampuanya melukis. Selain sebagai pelukis, Raden Saleh juga terkenal sebagai kolektor dokumen etnografi, arsitek lanskap, pendiri beberapa taman alam, dan perancang busana.

Kemampuannya memperluas pergaulan, membuat Freemason secara tidak langsung mulai memperhatikan Raden Saleh. Dirinya sendiri dilantik menjadi seorang anggota Tarekat Kemasonan pada tahun 1836.

“Pada 1836 Raden Saleh dilantik menjadi anggota Tarekat Kemasonan di Loji Eendracht Maakt Macht yang berada di Den Haag, Belanda,” tulis Theo Steven dalam buku The Freemason and Society in the Dutch East Indies 1764-1962.

Tetap jadi Muslim

Tidak banyak catatan kegiatan Raden Saleh sebagai seorang anggota Freemason. Namun dirinya diketahui tetap menjadi seorang Muslim bahkan sampai meninggal pun dia tetap seorang Muslim.

“Bagi Raden Saleh sama sekali tak jadi masalah bahwa dirinya sebagai seorang Muslim yang baik sekaligus anggota gerakan Mason bebas (Freemason),” tulis Werner Kraus dalam Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya.

Dijelaskan oleh Kraus, selama tinggal di Eropa, tidak ada terlintas dalam pikiran Raden Saleh untuk pindah menjadi umat Kristiani. Walau dirinya berkenalan orang-orang yang bersemangat membujuknya pindah agama.

Sahabat Raden Saleh di Dresden dan di Coburg juga termasuk dalam aliran humanisme dan liberal. Mereka beranggapan bahwa bersahabat dengan seorang Muslim adalah sebuah kehormatan.

Lukisan Harimau dan Pergulatan Emosi Raden Saleh Melihat Alam Nusantara

“Bulan sabit, yang menghiasi kubah “masjid kecil” di Maxen, yang dibangun sebagai kenangan kepada Saleh, bukan sebagai “sikap sopan santun orientalis”, melainkan benar-benar sebagai tanda penghormatan,” paparnya.

Walau tetap setia dengan agamanya, Raden Saleh sering mendiskusikan masalah-masalah gerejani dan dengan rajin mengunjungi kegiatan aliran gereja-gereja Kristen. Graaf Mensdorff menceritakan, Raden Saleh adalah penganut agama yang taat.

“Di dalam kebiasaan beragamanya, dia sangat disiplin. Suatu ketika dia meminta Graaf Mensdorff yang duduk disampingnya untuk menyepak kakinya di bawah meja jika ada daging babi atau sesuatu yang terbuat dari daging babi dihidangkan agar ia tak memakannya.”

Keyakinan yang terus bertahan

Raden Saleh tidak hanya yakin dengan keyakinannya, namun terkadang juga membuat perbandingan antara Jawa Islam dan Kristen Eropa. Pada sebuah percakapan, dia sepintas meragukan keyakinan orang-orang Eropa di Tanah Jawa.

Ketika dia bergaul di rumah-rumah Eropa di Jawa, dia tak menemukan adanya jejak keyakinan di sana. Bila dirinya membandingkan orang-orang sebangsanya yang beragama Islam, maka penilaiannya tidak begitu baik bagi orang Eropa.

Lukisan Megamendung Raden Saleh, Saksi Keindahan Alam yang Laku Rp36 Miliar

“Orang Jawa pada umumnya salat jika pemuka agama di desa mengumandangkan azan. Namun, kapan para tentara dan pelaut kalian melakukan ibadah?" tanyanya.

Walau begitu banyak yang menilai Raden Saleh tidak berpegang teguh pada dogma Islam, yang di Jawa ketika itu belum begitu kuat. Identitas keislamannya, juga kulitnya yang coklat dengan sosok orientalnya menjadi bagian dari kepribadiannya.

Memang seumur hidup, Raden Saleh tetap seorang Muslim. Tetapi keyakinan yang dianutnya tak pernah menyangsikan legitimasi agama-agama lain. Sikap humanis ini dinyatakan dalam praktik kehidupan dan semboyan hidupnya.

Misalnya pada pintu masuk Masjid Biru di Maxen dekat Dresden, Raden Saleh menyatakan dalam bahasa Jawa dan Jerman: Hormatilah Tuhan dan cintailah manusia. Motto terakhir dalam buku persahabatan keluarga Serre, pun memuat tulisan Raden Saleh.

Kristen atau Muslim - kita semua harus berdiri di hadapan singgasana Tuhan!

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini