Tempoyak, Makanan Olahan Durian yang Go International

Tempoyak, Makanan Olahan Durian yang Go International
info gambar utama

Tempoyak berasal dari Sumatera, dan juga ada di daerah lain meski tidak terlalu dikenal. Meski demikian, bukan berarti tempoyak tidak bisa mendunia dan merambah mancanegara.

Bagi Masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di Pulau Sumatera, tempoyak sungguh tidak asing. Makanan yang bahan baku utamanya adalah durian ini biasa dijadikan santapan lezat.

Tempoyak sebetulnya bukan makanan yang dikenal masyarakat luas. Selain di Sumatera tempatnya berasal, tempoyak juga makanan yang akrab bagi warga Kalimantan, terutama masyarakat Dayak. Sementara itu di Jawa, makanan ini pamornya bisa dibilang sangat kurang. Padahal, banyak masyarakat Indonesia yang menyukai buah durian.

Nyatanya, di Jawa memang tidak banyak penjual tempoyak. Berbeda dengan di Sumatera yang rumah makannya biasa menyediakan menu tempoyak.

Pada dasarnya, tempoyak adalah durian yang diolah dengan proses fermentasi. Biasanya, durian yang digunakan adalah durian masak. Di Sumatera, durian memang buah yang jumlahnya banyak. Saat musim durian, buah berbau tajam itu bisa ditemui di mana-mana.

Sumatera memang bagaikan berpesta durian saat musimnya tiba. Maklum saja, Sumatera adalah pulau penghasil durian terbesar di Indonesia selain Jawa. Berdasarkan data Katadata.co.id, dalam daftar sepuluh provinsi penghasil durian terbesar tahun 2021, empat di antaranya adalah provinsi di Sumatera.

Sumatera Barat menduduki posisi kedua sebagai penghasil durian terbesar dengan jumlah lebih dari 170 ribu ton. Lalu Sumatera Utara ada di posisi keempat dengan jumlah durian mencapai lebih dari 119 ribu ton. Sumatera Selatan duduk di posisi enam dengan lebih dari 46 ribu ton, sedangkan Aceh yang menghasilkan lebih dari 45 ribu ton ada di posisi tujuh.

Menurut Eni Harmayani, Umar Santoso, dan Murdijati Gardjito dalam Makanan Tradisional Indonesia Seri 1: Kelompok Makanan Fermentasi dan Makanan yang Populer di Masyarakat, tempoyak adalah makanan khas Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung yang banyak dibuat saat musim durian tiba. Cara membuatnya sederhana saja. Durian masak diberi garam lalu dimasukkan ke dalam wadah tertutup untuk kemudian didiamkan. Saat didiamkan itulah proses fermentasi durian berlangsung.

Masa pendiaman durian biasanya berlangsung selama 3-6 hari agar rasa dan aromanya yang khas muncul. Karena dibuat dengan fermentasi, tempoyak punya rasa keasam-asaman yang lezatnya semakin maksimal apabila durian yang digunakan berkualitas baik dan manis.

Fermentasi tidak hanya membuat tempoyak punya rasa asam, namun juga awet. Jika proses fermentasinya dilakukan dengan benar, tempoyak bisa awet hingga satu tahun.

Setelah tempoyak jadi, daging buah durian akan terlihat seperti bubur atau pasta berwarna putih kekuningan. Tempoyak biasa diolah sebagai bumbu atau sambal.

Tempoyak paling sering digunakan sebagai bumbu untuk menambah aroma dan sensasi rasa asam pada ikan. Sambal tempoyak juga cocok dimakan dengan nasi. Namun, tempoyak jarang dimakan langsung karena rasanya yang asam dan aromanya yang tajam.

Deretan 6 Makanan Khas Indonesia yang Serupa tapi Tak Sama

Asal-usul Tempoyak

Bagaimana awal mula masyarakat Sumatera mengenal tempoyak? Sejarahnya cukup panjang dan penjelasannya bisa dirunut hingga abad ke-19 silam.

Pada tahun 1836, tempoyak menjadi santapan masyarakat Trengganu, suku asli bangsa Melayu yang ada di Malaysia dan Indonesia. Di masa itu, tempoyak termasuk makanan yang merakyat dan digemari semua kalangan. Mulai dari raja hingga rakyat biasa, semua menggemari tempoyak, demikian seperti dicatat Antaranews.com.

Begitu digemarinya tempoyak di kalangan orang Melayu terekam dalam hikayat seorang sastrawan Melayu bernama Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Dilansir Tempo.co, pada tahun 1836, ia berkunjung ke Terengganu dan melihat sendiri bagaimana orang-orang di sana menyukai tempoyak. Abdullah pun menuangkan apa yang disaksikannya itu ke dalam hikayat yang disusunnya.

Setelah mengetahui apa itu tempoyak dan asal-usulnya. Satu pertanyaan lain mungkin akan muncul, yaitu bagaimana dengan kandungan gizinya?

Jawabannya ada dalam riset Arina Aisyah, Endang Kusdiyantini, dan Agung Suprihadi dari Universitas Diponegoro yang diterbitkan oleh jurnal Biologi Volume 3 No 2, April 2014. Disebutkan bahwa tempoyak mengandung kadar air 15,12 persen, abu 27,03 persen, lemak 2,69 persen, protein 6,37 persen, dan karbohidrat 48,79 persen.

Beberapa Jenis Bakso yang Cocok Menemani Makan Siang

Tempoyak Merambah Mancanegara

Tempoyak memang tidak begitu terkenal, namun orang dari belahan dunia lain ada yang tahu tentang keberadannya. Salah satunya adalah Laurence Benson. Di kanal Youtube miliknya, ia mengunggah video berjudul Bule eat BRENGKES TEMPOYAK (Durian & fish) in Indonesia. Dalam video tersebut, Benson dan rekannya mencicipi brengkes, makanan serupa pepes ikan patin berbumbu tempoyak.

Lucunya, Benson di awal video mengatakan jika ia sebetulnya tidak mau memakan brengkes tempoyak. Namun setelah mencicipi, ia justru mengatakan rasanya enak.

Jika ada orang asing yang tidak menyukai tempoyak, itu sebetulnya wajar. Banyak orang asing yang tidak suka durian karena rasanya yang tajam dan baunya yang menyengkat.

Meski demikian, tempoyak nyatanya tetap bisa go international. Sudah ada tempoyak yang diekspor dan merambah pasar di luar negeri.

Salah satunya adalah sambal tempoyak bermerek Maugi yang berasal dari Jambi. Tidak hanya di Jambi, sambal tempoyak Maugi juga sudah dipasarkan di luar daerah dan luar negeri.

Jalan bagi sambal tempoyak Maugi untuk merambah luar negeri terbuka melalui ajang Trade Expo Indonesia. Sambal tempoyak Maugi berhasil hadir di ajang tersebut bersama para pelaku usaha dari ratusan negara.

"Pada 2019 ada ajang seleksi yang di selenggarakan oleh Kementrian Perdagangan, ekspor di mana saya mengikuti acara tersebut dan sampai masuk 5 besar hingga dipilih untuk ikut belajar dan diikutkan pameran di Trade Expo Indonesia yang dimana diikuti pelaku usaha 120 negara", kata pemilik sambal tempoyak Maugi, Pendrawati, seperti diwartakan Antaranews.com.

Pendrawati mencertiakan, para pengunjung Trade Expo Indonesia banyak yang menyukai sambal tempoyak buatannya. Ia pun mengaku pernah mengirim sambal tempoyak ke berbagai negara di Afrika, Amerika, Thailand, Malaysia, Singapura, juga Tiongkok dan Korea.

Ada pula hal menarik yang disaksikan Pendrawati tentang cara orang luar negeri mengonsumsi tempoyak. Berbeda dengan orang Indonesia, orang asing tidak memakan tempoyak menggunakan nasi, melainkan roti. Oleh mereka, sambal tempoyak dioles di roti seperti selai lalu dimakan.

Nasi Jangkrik Makanan Khas Kota Kretek

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini