Peran Pertunjukan Wayang Klithik bagi Ritual Bersih Desa di Desa Wonosoco

Peran Pertunjukan Wayang Klithik bagi Ritual Bersih Desa di Desa Wonosoco
info gambar utama

Di Kabupaten Kudus, tepatnya di Kecamatan Undaan, Desa Wonosoco terdapat peninggalan berupa Wayang klithik. Wayang tersebut sampai sekarang masih dirawat dan disimpan dengan baik oleh masyarakat dan pemerintah desa setempat.

Wayang klithik Wonosoco memiliki bentuk pipih dan dibuat dari bahan dasar kayu sehingga setiap tokoh wayang cukup berat. Oleh karena itu, tidak setiap dalang dapat memainkan wayang klithik.

Selain itu berbeda dengan wayang kulit yang bercerita tentang kisah Ramayana dan Mahabarata. Wayang klithik bercerita tentang kerajaan-kerajaan di Jawa, seperti Blambangan dan walapati.

Satria Gatotkaca, Anak Bima Berwujud Raksasa yang Populer di Tanah Jawa

“Cerita yang disampaikan wayang klithik hampir sama dengan cerita yang dibawakan dalam ketoprak,” urai Suwarno dalam Fungsi Wayang Klitik Wonosoco, Undaan Kudus, Jawa Tengah dalam Ritual Bersih Desa.

Di Desa Wonosoco memiliki dua mata air yang berupa sendang, yakni Sendang Dewot dan Sendang Gading. Di kedua sendang itulah penduduk desa tiap tahunnya selalu mengadakan upacara ritual.

Upacara ritual selalu dilaksanakan setiap bulan Syawal atau Ruwah pada hari Sabtu Kliwon dan Sabtu Legi. Dalam upacara itu, satu rangkaian acaranya adalah pementasan wayang klitik yang digelar pada siang hari.

Sejarah pementasan wayang klithik

Menurut Suwarno hingga kini sejarah mengenai pementasan wayang klithik di Wonosoco belum ditemukan, tetapi ada cerita rakyat yang bisa memberikan sedikit gambaran. Dipercaya bahwa pementasan ini merupakan sebuah tradisi.

Dalam cerita rakyat dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan Sultan Agung di Mataram terjadi konflik dengan Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC). Dalam konflik itu telah menyeret kedua belah pihak untuk melakukan pertarungan secara ksatria di sebuah tempat.

Sultan Agung yang merupakan penguasa Mataram setelah mendapat tantangan itu akan terhina bila tidak melayaninya. Oleh karena itu, dia menyuruh senopati yang kebetulan masih saudaranya bernama Kanjeng Pangeran Kajoran untuk memenuhi tantangan itu.

Akhirnya berangkatlah Pangeran Kejoran memimpin prajurit beserta para penasehatnya. Satu penasehatnya itu adalah eyang Saji. Setelah melakukan perjalanan jauh dan cukup melelahkan berhentilah mereka untuk melepas lelah.

Karakter Pewayangan Semar dalam Misi Dakwah Agama Islam

Pangeran Kejoran sebagai senopati tentunya memperhitungkan tempat dan lingkungan sumber mata air. Karena itulah dipilih sumber mata air air yang sekarang disebut sebagai Sendang Dewot.

Ketika Pangeran Kejoran melakukan laku prihatin (puasa), istiqoroh dan tapa brata. Eyang Saji mendapat sebuah wangsit yaitu adanya suara tetapi tak ada rupa. Suara misterius itu menyampaikan cara agar Pangeran Kejoran bisa memenangkan pertempuran.

“Kalau ingin menang dalam peperangan nanti, minumlah air sendang di bawah pohon Bendo ini dan selanjutnya uri-urinen (lestarikan) sendang ini dengan menggelarkan wayang klitik setiap tahun, menyembelih wedus kendit (kambing yang di punggungnya terdapat bulu dengan warna yang berbeda dengan warna dasarnya yang melingkar punggung ke perut.”

Akhirnya setelah melakukan tugas itu, Pangeran Kejoran berhasil memenangkan pertempuran dengan VOC. Karena hasil ini, diharapkan anak dan cucu selalu memperhatikan dan melestarikan Sendang Dewot sesuai petunjuk.

Penyelenggara pementasan

Wayang klithik pada zaman sekarang dipentaskan biasanya hanya untuk nguri-nguri kebudayaan agar tetap lestari dan tidak punah. Pementasan wayang ini biasanya diselenggarakan setiap satu kali dalam setahun.

Biasanya waktunya sudah ditentukan antara bulan Jawa Ruwah dan Syawal serta memilih hari Sabtu Kliwon dan Minggu Legi. Pementasan pada hari Sabtu Kliwon dilakukan di pelataran Sendang Dewot, sedang pada hari Minggu Legi di Sendang Gading.

Dalam pementasan wayang klithik Wonosoco, selain dihadiri para tamu undangan tentu juga dihadiri para penonton. Adapun para penonton biasanya sangat variatif, mulai dari orang tua hingga anak muda, terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Pertunjukan ini tidak sekadar hiburan, namun juga bernilai magis religius, seperti mencari ketentraman batin agar terhindar dari malapetaka atau ingin sembuh dari suatu penyakit. Selain itu bersih sendang juga bentuk dari solidaritas sosial.

Mengenal Sosok Dalang Cilik dari Kebumen

“Kesadaran masyarakat Desa Wonosoco mengenai hidup bersama dalam bermasyarakat dan bernegara, tampaknya merupakan sistem solidaritas sosial yang dipelihara dengan baik,” paparnya.

Selain itu pertunjukan wayang juga telah lama menjadi media dakwah. Dalam seni pewayangan terdapat misi dan amanat yang jelas bagi pencerahan peradaban manusia. Di dalamnya, jelas Suwarno terdapat ajaran etis dan estetis.

Hal ini jelasnya senantiasa memberi aksi dan reaksi sekaligus terus-menerus mencari penyelesaian dengan suatu arus kebajikan dan kebijaksanaan. Pementasan wayang klithik akhirnya menjadi media dakwah yang praktis.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini