Misteri Asal Mula Nama Surabaya, Benarkah Berasal dari Mitologi Ikan dan Buaya?

Misteri Asal Mula Nama Surabaya, Benarkah Berasal dari Mitologi Ikan dan Buaya?
info gambar utama

Cerita sejarah Kota Surabaya kental dengan nilai kepahlawanan. Sejak awal berdirinya, kota ini memiliki sejarah panjang yang terkait dengan nilai-nilai heroisme. Terutama istilah ini termuat dalam nama Surabaya yang konon diambil dari Sura (berani) dan Baya (bahaya).

Paduan dua kata ini memiliki arti “berani menghadapi bahaya”. Hal ini juga merujuk kepada filosofi warga Surabaya yang hidup di wilayah pantai, Sura (Suro) dan Baya (Boyo) merupakan gambaran dari perjuangan hidup antara darat dan laut.

Masyarakat percaya bahwa di dua alam terdapat para penguasa dengan habitat bertetangga yang berbeda, yakni ikan sura (Suro) dan buaya (Boyo). Dua hewan ini akhirnya menjadi perlambang kehidupan darat dan itu.

Daya Tarik Kota Kediri Selain Kampung Inggris

Kedua hewan ini sekaligus juga memberikan gambaran tentang warga Surabaya yang dapat menyatu walaupun asalnya berbeda. Seperti halnya terlihat dari beragamnya etnis, agama, dan suku di Surabaya namun dapat hidup secara rukun.

Selain itu, sosok dua hewan ini juga dikaitkan dengan penyerangan pasukan Mongol ke Tanah Jawa. Digambarkan saat itu pasukan Raden Wijaya yang digambarkan sebagai buaya berani menghadapi tentara Mongol yang disebut sebagai ikan sura.

Menurut G Coedes dalam bukunya The Indianized States of South East Asia, pengusiran pasukan Mongol ini terjadi pada tanggal 31 Mei 1293. Mungkin dari catatan inilah yang dijadikan dasar penentuan hari jadi kota Surabaya.

Mitos Cura-Bhaya

Soenarto Timoer menuliskan bahwa nama Surabaya tidak bisa dilepaskan dari nama Hujung Galuh, karena perubahan nama menunjukan suatu motif. Bila dilihat dari nama Hujung yang menjorok ke laut atau tanjung dapat dipastikan wilayah ini berada di tepi laut atau pantai.

Disebutkan olehnya Galuh memiliki arti emas, sementara dalam bahasa Jawa tukang emas pengrajin perak disebut Wong Anggaluh atau Kemasan. Dalam Purbacaraka, Galuh sama artinya dengan perak.

Hujung Galuh atau Hujung Emas bisa disebut dengan Hujung Perak yang kemudian menjadi Tanjung Perak. Prasasti Klagen juga menyebutkan bahwa Hujung Galuh sebagai jalabuhan atau tempat bertemunya pedagang antar pulau yang melakukan bongkar muat.

Diperkirakan kampung Galuhan sekarang yang ada di jalan Pawiyatan Surabaya, itulah Hujung Galuh, di sini ada nama Kampung Tembok. Konon tembok itulah yang membatasi laut dengan daratan.

Pada tahun 905 Masehi, Hujung Galuh telah menjadi tempat kedudukan parujar i sirikan. Parujar adalah wali daerah setingkat bupati. Bisa diartikan, bahwa Hujung Galuh pernah menjadi ibu kota sebuah daerah kabupaten.

Gadis 13 Tahun Asal Surabaya Ukir Prestasi di Ajang Wushu Taolu Competition 2021

Tetapi sejak kapan Hujung Galuh berubah menjadi Surabaya? Banyak yang mengaitkan perubahan ini karena bencana alam meletusnya Gunung Kelud pada tahun 1334 yang membawa korban cukup banyak.

Peristiwa itu mengakibatkan terjadinya perubahan di muara Kali Brantas dengan anaknya Kalimas. Garis pantai Hujung Galuh bergeser ke utara. Karena itulah timbul sebuah pikiran mistis yang mengingatkan kembali kepada pertarungan penguasa lautan dengan daratan.

Karena itu untuk menghentikan pertarungan, maka digabungkan namanya dalam satu kata Cura-bhaya atau sekarang Surabaya. Mitos ikan dengan buaya ini sudah ada sejak abad 12 hingga 13 Masehi melalui cerita Kunjarakarna.

“Bagaimanapun juga, mitos ikan dan buaya yang sekarang menjadi lambang kota Surabaya merupakan sepercik versi lokal,” tulis Soenarto.

Lokasi yang diperdebatkan

Walau sudah disepakati bahwa Hujung Galuh merupakan cikal bakal kota Surabaya, namun lokasinya pernah menuai perdebatan. Hal ini terjadi saat penetapan perubahan hari jadi Kota Surabaya pada tahun 1975.

Prof Dr N J Krom yang menjadi salah narasumber menyetir nama Junggaluh yang berasal dari sejarah Tiongkok. Pendapat ini diperkuat oleh Drs Oei Soen Nio, dosen sejarah Tiongkok dari Seksi Sinologi Jurusan Asia Timur, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Nama Junggaluh itu disebutkan dalam ejaan China yaitu Sugalu. Kata Sugalu menurut mereka harus dibaca Jung Ya Lu. Inilah yang menjadi masalah, karena ada pula ahli yang menyebut Sugalu dengan Sedayu yang jadi nama desa di Kabupaten Gresik.

Prof Dr Suwoyo Woyowasito berbeda lagi. Dirinya tidak menyebut Sugalu, tetapi Suyalu. Hal ini dengan dasar perkembangan bunyi, telah dapat membuktikan bahwa Suyalu adalah perubahan bunyi lafal Tionghoa dari kata Junggaluh atau Hujung Galuh.

Pendapat Suwoyo berangkat dari data tentang seorang panglima tentara Tartar yang semula mendarat di Tuban. Setelah tiba di Su-ya-lu, dirinya memerintahkan tiga pejabat tinggi dengan naik perahu cepat ke jembatan terapung Majapahit.

Program MJC, Kolaborasikan Freelancer dan Pengusaha di Tengah Sulitnya Lapangan Kerja

Ketiganya yang berangkat dari Su-ya-lu tentunya melalui sungai menuju ke pusat kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Kenyataan ini, jelas Suwoyo membuktikan bahwa sungai yang dilalui adalah Kali Brantas, bukan Bengawan Solo.

Ini juga sesuai dengan faktor dari sumber Prasasti Kelagen (1037 AD) yang dilengkapi dengan faktor dari buku Chu-fan-Chi-kua (1220 AD). Pada buku itu dinyatakan bahwa Hujung Galuh terletak di pantai dan muara kali Surabaya.

Su-ya-lu sama dengan Hujung Galuh yang terletak di pantai, di muara kali Surabaya dan tidak sama dengan Sedayu yang sekarang terletak di tepi sungai Bengawan Solo, dengan muaranya yang baru di Ujung Pangkah, Gresik,” ujar anggota Panitia Khusus (Pansus) penetapan hari jadi Kota Surabaya pada tahun 1975.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini