Pentingnya Ekosistem Gambut dan Upaya Pemulihan yang Dilakukan di Indonesia

Pentingnya Ekosistem Gambut dan Upaya Pemulihan yang Dilakukan di Indonesia
info gambar utama

Belum banyak orang yang memahami peran penting dari keberadaan lahan gambut dengan baik. Padahal, lahan gambut memegang peran penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Walaupun jumlah lahan gambut hanya sekitar 3-5 persen di permukaan bumi, namun keberadaannya merupakan rumah bagi lebih dari 30 persen cadangan karbon dunia yang tersimpan di tanah.

Center for International Forestry Research (CIFOR) memperkirakan jika lahan gambut menyimpan karbon dua kali lebih banyak dari hutan di seluruh dunia, dan empat kali dari yang ada di atmosfer. Lain itu, lahan gambut yang ada di wilayah tropis juga diyakini memiliki kemampuan menyimpan karbon paling banyak.

Seberapa besar sebenarnya peran lahan gambut?

Menelusuri Hutan Gambut dan Danau Eksotis di Taman Nasional Zamrud

Mengenal lahan gambut

Aerial Restorasi Ekosistem Gambut di Riau | hgi.or.id
info gambar

Lahan gambut merupakan ekosistem lahan basah yang tergenang air sehingga materi-materi tanaman tidak bisa membusuk secara penuh. Proses pembentukan lahan gambut berbeda-beda tergantung dari ketinggian tanah dan banyaknya jenis tanaman yang mengalami pembusukan di lahan terakit. Sehingga, lahan gambut yang dimaksud biasanya menghasilkan jenis dan karakter yang berbeda pula.

Proses di atas yang menyebabkan mengapa lahan gambut di daerah yang lebih dalam akan berbeda dengan yang berada di sekitar perairan seperti sungai, pantai, atau danau. Namun bila menilik wujudnya secara umum, lahan gambut biasanya dapat dibedakan berupa tanah berwarna hitam dan mengandung bahan organik tinggi yang bermanfaat bagi lingkungan.

Selain itu, lahan gambut juga berperan penting karena kemampuan menyerap air saat musim hujan dan menjadi sumber air tanah saat musim kemarau. Area hutan lahan gambut juga selama ini dikenal kaya dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati seperti orangutan, harimau, buaya, dan tapir.

Sementara itu bagi manusia, dari segi ekonomi lahan gambut kerap dimanfaatkan sebagai lahan untuk mengelola pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan lain sebagainya.

Belajar Dari Kalimantan Barat Kelola Gambut

Permasalahan dan solusi yang dihadirkan

Upaya restorasi gambut oleh BRGM | brgm.go.id
info gambar

Sayangnya, hingga saat ini banyak pihak yang belum memahami karakteristik gambut dengan baik. Selama ini pihak yang memanfaatkannya sebagai lahan pertanian menerapkan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, dengan cara melakukan pembakaran untuk pertanian komoditas tertentu.

Hal tersebut jelas dapat menimbulkan masalah karena ketika gambut terbakar, maka sejumlah besar karbon dioksida akan terlepas ke atmosfer, dan berkontribusi terhadap perubahan iklim serta masalah kesehatan masyarakat.

Peneliti menemukan fakta bahwa kebakaran hutan di Indonesia selama bulan September dan Oktober 2015 telah melepas sekitar 11,3 juta ton karbon dioksida setiap harinya, angka tersebut yang melebihi dari angka emisi karbon harian yang dihasilkan oleh seluruh Uni Eropa untuk periode yang sama.

Berangkat dari situasi tersebut, pemerintah akhirnya menghadirkan sebuah lembaga khusus yang menangani pemeliharaan dan pemanfaatan lahan gambut di Indonesia dengan prinsip berkelanjutan, yakni Badan Restorasi Gambut Indonesia (BRGM).

Bertanggung jawab langsung kepada Presiden, BRGM bertugas memfasilitasi percepatan pelaksanaan restorasi gambut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pada areal restorasi gambut, serta melaksanakan percepatan rehabilitasi mangrove di setiap provinsi target.

Secara keseluruhan, ada target sebesar 1,2 juta hektare lahan gambut yang perlu dan butuh direstorasi di seluruh Indonesia. Berdasarkan kondisi tersebut, BRGM telah membentuk strategi yang dinamakan 3R atau Rewetting, Revegetation, dan Revitalization of Local Livelihoods.

Membahas lebih detail, adapun yang dimaksud dengan rewetting yakni pembasahan kembali lahan gambut yang kering untuk mencegah terlepasnya karbon ke udara, beberapa metode yang dilakukan untuk hal satu ini di antaranya pembangunan sekat kanal, penimbunan kanal, dan pembangunan sumur bor,

Kedua adalah upaya revegetation, yaitu penanaman kembali sejumlah pohon atau tumbuhan yang dapat menghidupkan kembali eksosistem lahan gambut untuk membentuk hutan alam yang ramah bagi beraneka ragam hayati. Upaya ini dilakukan dengan melalui berbagai tahap seperti persemaian, pembibitan, penanaman, dan regenerasi alam.

Terakhir yaitu upaya Revitalization of Local Livelihoods, yang bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat yang tinggal di lingkungan lahan gambut itu sendiri.

Berbagai upaya dilakukan dalam bentuk edukasi dan bimbingan mengenai penggarapan bentuk pertanian berkelanjutan di lahan gambut, seperti pohon sagu dan talas rawa, serta edukasi bahwa praktiknya tidak perlu membakar lahan terlebih dulu.

Teknologi Pengamatan Lahan Gambut Karya Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini