Sandi Mulyadi, dari Petugas Kebersihan hingga Jadi Pahlawan Literasi

Sandi Mulyadi, dari Petugas Kebersihan hingga Jadi Pahlawan Literasi
info gambar utama

Setiap tanggal 8 September, diperingati sebagai Hari Literasi Nasional. Disadari atau tidak, hingga saat ini masih banyak kalangan anak Indonesia yang belum memiliki akses literasi lebih luas dan memadai. Karena itu peran sejumlah penggerak literasi masih menjadi hal penting.

Selama ini ada banyak sosok pegiat atau bahkan bisa dibilang pahlawan literasi yang cukup menginspirasi di Indonesia. Lebih istimewanya lagi, para pahlawan literasi yang dimaksud berasal dari latar belakang yang serba tertabas, salah satunya ekonomi.

Meski begitu, hal tersebut tak menghalangi mereka untuk menggerakkan kebaikan di bidang literasi. Salah satu sosok yang menggambarkan kondisi di atas adalah Sandi Mulyadi. Sandi adalah seorang pegiat literasi yang berasal dari Cianjur, Jawa Barat.

Yadi saat ini diketahui memilki sekitar 11 saung baca yang tersebar di sejumlah wilayah Jawa Barat, terutama wilayah Bandung, Pengalengengan, dan Cianjur itu sendiri.

Yang menarik, keberhasilan membangun fasilitas tersebut ia mulai dari nol, bersamaan dengan perjalanan hidupnya yang tak mudah.

Literasi Digital dan Upaya Perlindungan Anak di Ranah Daring

Bermodalkan gaji petugas kebersihan

Sandi Mulyadi awalnya diketahui hanyalah masyarakat biasa yang menyelesaikan pendidikan formal hingga jenjang SMP. Diketahui jika ia terpaksa berhenti sekolah karena ketiadaan biaya. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 silam ternyata berdampak pada kondisi keuangan orangtuanya.

"Orangtua saya itu anaknya sebelas. Jadi, biayanya banyak. Kecewa (tidak bisa meneruskan sekolah) tentu saja. Namun, tak sekolah bukan berarti harus berhenti belajar, bukan?” ceritanya, mengutip Kompas.com.

Tak ingin meratapi nasib tapi di saat bersamaan juga memiliki keterbatasan dengan hanya memiliki modal ijazah SMP, Yadi akhirnya bekerja sebagai seorang petugas kebersihan atau cleaning service di sebuah instansi pemerintah di Bandung.

Selama sepuluh tahun, ia menjalani pekerjaan tersebut namun di saat bersamaan juga terus menekuni hobinya dalam membaca.

"Setiap istirahat kerja, saya selalu baca buku. Teman-teman seprofesi suka nyinyir, katanya sok intelek, lagak mahasiswa saja. Tapi, ya cuek saja, namanya juga hobi," kenangnya.

Diceritakan bahwa setiap gaji yang dihasilkan sebagai petugas ternyata lebih banyak dihabiskan untuk membeli buku ketimbang belanja baju. Alhasil, dari waktu ke waktu koleksi buku yang ia miliki semakin bertumpuk dan mulai menyesaki kamar kosnya.

Dari situ, terbentuk saung baca pertama di kontrakan yang ia tinggali, karena koleksi bukunya yang semakin banyak. Sejak saat itu juga, pria berusia 38 tahun tersebut mulai terpikir untuk membuka perpustakaan mini.

Peran Anak Muda Tingkatkan Literasi dan Jaga Perdamaian di Ranah Digital

Saung baca yang berkembang

Mimpi Yadi untuk bisa membangun saung baca beruntungnya didukung dengan jalan hidup yang mempertemukan ia, dengan istri yang suportif dan memiliki hobi sama. Yadi menikah pada tahun 2008 dan bersama-sama mengembangkan saung baca dengan sang istri.

Saat saung baca pertama dibuka di rumah kontrakannya di daerah Bandung, ia mendapat sambutan positif dari lingkungan sekitar. Di mana warga terutama anak-anak dan remaja, disebutkan banyak yang menyambangi rumah kontrakannya untuk membaca buku.

“Dari situlah kemudian saya berinisiatif menggalang donasi 1 Miliar Buku untuk Bangsa, lewat jejaring sosial,” ujar dia.

Galang donasi buku Lewat penggalangan buku yang digagasnya pada 2016 itu, Yadi mengaku kebanjiran buku. Hampir setiap pekan selalu saja ada kiriman paket buku dari donatur. Seiring berjalannya waktu rumah kontrakannya tak mampu menampung banyaknya kiriman buku dari para donatur, Yadi lantas menawari teman-temannya yang ingin membuka Saung Baca.

"Sejak itu, satu demi satu Saung Baca bisa berdiri. Sekarang sudah ada sembilan. Peran saya volunteer bukunya," ujar Yadi.

Mengutip salah satu sumber, disebutkan bahwa kini Yadi sudah memiliki ijazah SMA lewat pendidikan SMA paket C. Di sisi lain, ayah satu anak ini juga terlihat aktif menyuarakan sekaligus melakukan gerakan pelestarian lingkungan dan sejenisnya.

Ke depan, ia mengaku masih punya mimpi besar untuk mendirikan Saung Baca di seluruh pelosok negeri.

“Saya ingin menulari masyarakat agar membaca sebagai bagian dari gaya hidup. Karena sejatinya, bangsa yang maju adalah bangsa yang berliterasi, bangsa yang punya semangat dan minat baca yang tinggi,” harapnya.

Sosok Perempuan Pahlawan Literasi Bagi Suku Baduy

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini