Mengenal Satu-Satunya Burung Endemik di Pulau Lombok dengan Mitos Petaka

Mengenal Satu-Satunya Burung Endemik di Pulau Lombok dengan Mitos Petaka
info gambar utama

Per tahun 2022, tercatat jika dari 1.818 spesies burung yang hidup di Indonesia, 534 di antaranya bersifat endemik. Di lain sisi, hampir separuh dari total spesies burung yang ada di Indonesia berhabitat di tanah Papua.

Dari ribuan spesies yang ada, hanya satu spesies burung endemik yang ada di Pulau Lombok, yakni Celepuk Rinjani. Yang menarik, spesies celepuk atau burung hantu yang dimaksud nyatanya merupakan jenis burung hantu terkecil di Indonesia.

Seperti apa wujudnya?

Mambruk, Burung Dara Endemik Papua dengan Mahkota Terindah

Mengenal celepuk rinjani

Celepuk RInjani | William Riddell/Flickr
info gambar

Memiliki nama ilmiah Otus jolandae, spesies ini pertama kali dijumpai pada tahun 1896, oleh seorang naturalis asal Inggris. Waktu itu, klasifikasi penamaannya belum seperti sekarang, karena masih diduga sebagai spesies dari celepuk atau burung hantu yang sudah teridentifikasi sebelumnya.

Celepuk rinjani juga sempat diduga sebagai anak jenis dari celepuk maluku (Otus magicus). Baru di tahun 2013, berhasil teridentifikasi sebagai spesies yang baru serta berbeda, dan dipastikan bersifat endemik di Lombok.

Adapun identifikasi tersebut dilakukan oleh George Sangster, yang melakukan perbandingan ukuran badan, suara, hingga pemeriksaan DNA.

Mengutip Mongabay Indonesia, celepuk rinjani juga memiliki nama lokal pukpuk atau pokpok. Burung satu ini disebut biasa mendiami habitat hutan di sekitar kaki Gunung Rinjani, tepatnya pada ketinggian sekitar 25 hingga 1.350 mdpl.

Karena bersifat endemik, celepuk rinjani selama ini ditetapkan sebagai maskot konservasi TNGR bersama dengan kijang dan elang Flores.

Membahas lebih detail mengenai karakteristiknya, celepuk rinjani memiliki bulu berwarna coklat yang disertai bintik-bintik putih. Dilihat dari sisi fisik, celepuk rinjani juga memiliki kemiripan dengan Otus albiventris (endemik di Pulau Sumbawa).

Namun, burung endemik Lombok ini memiliki perbedaan dari segi motif garis kecoklatan yang lebih tipis, dengan mahkota kepala yang lebih gelap.

Menariknya, oleh masyarakat lokal celepuk rinjani dikenal sebagai burung hantu yang bisa dipanggil. Biasanya masyarakat akan menirukan suara mereka, yang diikuti dengan kemunculannya saat keluar dari sarang.

Tiong Batu Kalimantan, Burung Endemik dengan Suara Mirip Klakson

Mitos pertanda malapetaka

Seperti beberapa jenis hewan lain yang kerap dijadikan objek mitos tertentu, celepuk rinjani juga memiliki mitos sendiri akan keberadaannya.

Pada dasarnya, masyarakat setempat percaya jika burung hantu adalah tanda kematian. Ketika burung hantu bersuara, maka tandanya akan ada malapetaka. Terlebih jika ada yang sampai melihat burung hantu dengan cara tidak sebagaimana mestinya, hal itu bisa menjadi tanda tidak baik.

Di saat bersamaan, mitos ini membuat orang yang tinggal di lingkar Rinjani dan Lombok, sangat menjaga celepuk rinjani. Berbeda dengan burung-burung jenis lain di mana hampir semua diburu untuk konsumsi, koleksi, atau perdagangan satwa. Belum pernah ditemukan adanya kasus perdagangan celepuk Rinjani.

Hal yang sama juga berlaku dalam hal perburuan, para pemburu disebut memiliki pengecualian terhadap celepuk Rinjani. Semacam ada pantangan bagi para penggemar burung dan pemburu untuk menangkap spesies satu ini.

Meski begitu, entah karena memang jumlah individunya yang hanya sedikit, celepuk rinjani sudah ada di status langka. Sejak pertama kali teridentifikasi di tahun 2013, burung ini langsung masuk ke dalam daftar hewan mendekati terancam (near threatened) versi IUCN.

Maleo, Burung Endemik Sulawesi yang Dikenal Setia Pada Pasangannya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini