Relief Tumbuh-tumbuhan Asli Indonesia di Candi Borobudur

Relief Tumbuh-tumbuhan Asli Indonesia di Candi Borobudur
info gambar utama

Di perbukitan Menoreh yang membujur dari timur ke barat, Candi Borobudur, bangunan mahakarya abad ke-8 Masehi itu berdirimegah.

Didirikan Dinasti Syailendra, pembangunan candi era Mataram Kuno ini diperkirakan memakan waktu puluhan tahun.

Candi Buddha terbesar di dunia itu, tersusun dari dua juta bongkahan batu vulkanik, dari gunung berapi di sekitarnya. Ada Merapi dan Merbabu di timur, Sumbing dan Sindoro di barat.

Borobudur dibangun di lingkungan tidak jauh air, dekat pertemuan dua sungai, Elo dan Progo. Seperti halnya dua sungai di India, Yamuna dan Gangga, tempat bangunan suci didirikan.

Beberapa nama tempat di sekitar candi, berasosiasi dengan air seperti Dusun Sabrangrowo yang berarti seberang rawa. Desa Bumisegoro: segoro berarti lautan. Dusun Gopalan, singkatan nganggo kapal atau memakai kapal. Serta, Desa Tanjung dan Dusun Teluk, merujuk daratan menjorok ke danau dan perairan yang masuk ke daratan.

Bercocok tanam | Krom dan van Erp, 1931
info gambar

Hari Setyawan, arkeolog di Balai Konservasi Borobudur menjelaskan, selain dikelilingi pegunungan dan perbukitan, candi yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia ini, saat dibangun berada di tengah-tengah danau. Tapak danau purba, dibuktikan melalui endapan lempung hitam yang merupakan endapan danau.

“Jangan bayangkan sebesar Danau Toba atau Telaga Warna. Hanya tampak genangan air dan rawa yang mengelilingi Borobudur, saat itu,” terangnya.

Borobudur memiliki 10 tingkat. Enam tingkat bagian bawah berbentuk bujur sangkar yang makin mengecil ke atas, serta empat tingkat berbentuk bulat dengan puncak stupa besar. Berdasarkan literatur, stupa disebut seperti daun pohon bodhi, pohon suci tempatnya Sidarta Gautama berkontemplasi.

Relief cerita Karmawibhangga seri O no.39 pada kaki Candi Borobudur kuadran I.(Rep:van Erp)
info gambar

Relief, totalnya 1.460 panel, hampir ditemukan pada semua teras, kecuali teras ke tujuh hingga sepuluh. Mulai dari kaki candi Karmawibhanga [Kamadhatu], ke Lalitavistara, Gandawyuha-Bhadracari, dan Jataka-Avadana.

Terkait nama Borobudur, ada beberapa pendapat. Seperti, bara berarti biara dan budur menunjuk tempat di bukit. Borobudur juga disebutkan dalam Prasasti Sri Kahulunan bertahun 842 M dalam kalimat … Kamulian ni bhumi sambhara… yang artinya tempat berkumpulnya kebjikan Buddha.

“Satu-satunya prasasti yang menyebut eksistensi Borobudur, hanya Sri Tepusan atau Prasasti Sri Kahulunan.”

Guratan detil

Pada relief Lalitavistara, teras kedua, terlihat guratan flora dan fauna.

“Penggambaran manusia, lingkungan seperti pepohonan dan fauna, beserta alat transportasi, dipahat sesuai kondisi Jawa Kuno, sekitar abad ke-8 hingga 10 Masehi,” lanjutnya.

Cara membaca relief dari sisi timur, berputar lorong candi searah jarum jam, berakhir pada tangga timur di sisi kanan. Borobudur merupakan konsep Mandala yang merepresentasikan Gunung Mahameru, tempat bersemayamnya para dewa. Tempat itu dikelilingi tujuh lautan, tujuh pegunungan, dan danau berisi air suci.

Para pemahat cukup cermat membentuk beragam jenis tanaman. “Sangat detil, hingga ke tingkat spesies. Arsiteknya sangat paham taksonomi tanaman.”

Pohon bodhi memiliki arti khusus bagi umat Buddha. Foto: Nuswantoro
info gambar

Apakah tanaman yang digambarkan di Borobudur ada di Jawa, bukan India? Bagaimana membuktikannya?

Hari sangat meyakini, tanaman tersebut tumbuh di sekitar candi atau di Jawa. Dia tidak setuju pendapat yang menyatakan hanya rekaan.

Dia mencontohkan Candi Ellora atau di Gua Ajanta, India, yang pahatan tanamannya tidak detil. Bahkan di Candi Angkor Wat, Kamboja, tidak ditemukan pahatan flora selengkap Borobudur.

“Cuma batang dan daun, sama bentuknya. Tidak seperti di Borobudur, pohon nangka atau durian bisa dibedakan dari morfologi dan anatominya.”

Dari relief Borobudur, diperoleh informasi makanan pokok masyarakat Jawa Kuno. Meski masih menjadi perdebatan, Hari meyakini itu adalah padi.

Alasannya, pertama, padi banyak digambarkan dan juga pada candi-candi lain di Jawa Timur. Kedua, kata padi disebut pada prasasti kuno Canggal, yang kini di Museum Nasional, tonggak berdirinya Kerajaan Mataram Kuno, di Jawa Tengah.

“Disebutkan, ada sebuah pulau bernama Pulau Jawa yang kaya biji-bijian dan padi. Baik itu biji-bijian tanaman atau bahan logam. Prasastinya berangka 732 Masehi.”

Jumawut | https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/juwawut/
info gambar

Sementara, Prasasti Rukam [907 M] menceritakan dusun Rukam yang hilang karena letusan gunung berapi. Situs Liyangan yang terkubur material vulkanik di Kabupaten Temanggung, menjadi bagian sejarah Mataram Kuno.

“Liyangan dalam dimensi yang sama dengan Borobudur, Prambanan, era Mataram Kuno. Di situ benar-benar ada padinya, sudah jadi arang,” jelasnya.

Asli Indonesia

Destario Metusala, peneliti bidang botani dari pusat konservasi tumbuhan dan kebun raya LIPI/BRIN, menyatakan banyak hal baru dari penelitian Borobudur. Sebut saja, spesies tumbuhan yang diintroduksi, upaya domestikasi, jenis pemanfaatan serta pentingnya keanekaragaman tumbuhan bagi masyarakat.

Destario dan tim berhasil mengidentifikasi 63 spesies tumbuhan. Tahun 2020, beberapa peneliti dari LIPI, Balai Konservasi Borobudur, ITB, UNS, melakukan kerja sama riset untuk mengidentifikasi flora dan fauna pada relief Lalitavistara.

Terbanyak dari famili Fabaceae [polong-polongan], disusul Moraceae [ara-araan]. Ada 21 figur tanaman yang tidak dapat diidentifikasi karena, misalnya, relief rusak. Tumbuhan yang digambarkan pada kitab Lalitavistara sekitar 54 spesies.

Pohon pulai [paling kanan], buahnya sering disebut buah kasih sayang. Foto: Nuswantoro
info gambar

“Ada 14 spesies di kedua sumber, dua spesies asli Indonesia [cendana dan tebu], dan tiga spesies dari India yaitu bodhi, lotus, dan asoka. Sembilan spesies tumbuh di dua tempat maupun ternaturalisasi di kedua tempat,” jelasnya.

Mengapa dua spesies tanaman Indonesia muncul dalam kitab Lalitavistara yang sudah ada sejak abad ketiga, serta tiga spesies asli India di relief Borobudur? Menurut Destario, kuat dugaan telah terjadi pertukaran spesies tumbuhan antara Nusantara dan India, jauh sebelum Borobudur dibangun. Bisa lewat perdagangan lintas kawasan maupun aktivitas keagamaan.

“Tipikal pada relief Lalitavistara, tumbuhan tropis dataran rendah Indonesia, khususnya Sumatera dan Jawa.”

Relief flora di Borobudur juga mengungkapkan nilai penting suatu spesies. Contohnya pulai [Alstonia scholaris], seroja [Nelumbo nucifera], dan bodhi [Ficus religiosa].

“Pulai dan bodhi digambarkan mengeluarkan cahaya. Seroja sebagai atribut tokoh suci maupun persembahan bagi raja.”

Relief buah-buahan yang digambarkan dekat keseharian kaum bangsawan adalah durian, buah asam, mangga, jambu air, dan nangka.

“Akan diketahui setelah analisa komparasi karakter relief tumbuhan Lalitavistara [latar kerajaan] dengan Karmawibhangga [latar masyarakat] selesai.”

Figur anggrek digambarkan tumbuh secara litofit di hutan rimba. Sepertinya, masyarakat telah mengenalnya, namun belum melakukan domestikasi maupun budidaya. “Paling memungkinkan anggrek bulan putih [Phalaenopsis amabilis].”

Kondisi ini semua, menurut Destario, menggambarkan masyarakat Jawa Kuno menganggap penting diversivitas tumbuhan.

“Diekspresikan di Candi Borobudur,” tegasnya.

==

Artikel ini adalah republikasi dari artikel di Mongabay.co.id atas kerjasama GNFI dengan Mongabay Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini