Tak Hanya Pusat Edukasi, Ini Rekomendasi Perpustakaan Kekinian dan Unik di Jakarta

Tak Hanya Pusat Edukasi, Ini Rekomendasi Perpustakaan Kekinian dan Unik di Jakarta
info gambar utama

Setiap tanggal 14 September, secara nasional diperingati sebagai Hari Kunjung Perpusataan. Diketahui jika hari peringatan ini pertama kali diresmikan tahun 1995, pada masa pemerintahan Soeharto. Waktu itu, dimunculkannya Hari Kunjung Perpustakaan bertujuan untuk mengajak masyarakat memanfaatkan semaksimal mungkin peran perpustakaan sebagai media pembelajaran.

Dewasa ini, peran perpustakaan memang harus diakui tak begitu besar diminati. Selain karena minat literasi atau baca yang minim, kemajuan teknologi yang membuat hampir semua sumber literasi bisa didapat dari mana saja, juga membuat antusiasme akan keberadaan perpustakaan semakin berkurang.

Padahal, ada manfaat lain yang bisa didapat dari berkunjung ke perpustakaan. Karena lazimnya perpustakaan memiliki ruang diskusi dan ruang publik, fasilitas umum satu ini juga bisa menjadi sarana sosialisasi antar masyarakat.

Karena itu, di masa kini banyak perpustakaan yang melakukan perubahan baik dari segi pengelolaan dan rancangan bangunan. Bukan hanya sebagai pusat edukasi dan membaca buku, kini bangunan perpustakaan sudah dibuat sedemikian rupa dengan tampilan yang lebih kekinian, agar dapat memiliki fungsi lebih majemuk.

Seperti apa saja potret perpustakaan kekinian dengan kean unik dan terbukti kerap mengundang antusias pengunjung? Berikut 3 di antaranya:

3 Perpustakaan Terbaik Indonesia Selain Perpusnas

Perpustakaan Taman Ismail Marzuki

Perpustakaan Umum Jakarta yang berada di kawasan Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, bisa dibilang jadi salah satu fasilitas perpustakaan yang sedang populer saat ini. Baru selesai menjalani renovasi, kini wajah perpusatakaan hadir dengan desain dan rancangan bangunan yang lebih segar.

Diakui jika wajah baru dari perpustakaan ini memiliki interior yang kekinian dan nyaman. Bahkan rancangan bangunannya yang dianggap estetik mampu menarik perhatian masyarakat, khususnya kalangan anak muda.

Tentu tidak hanya mengutamakan kendahan bangunan, perpustakaan ini disebutkan memiliki sebanyak 138.000 koleksi buku. Ragam buku tersebut terdiri dari buku-buku umum, anak, hingga koleksi ke-Jakarta-an yang relevan dan dibutuhkan oleh sejumlah masyarakat.

Seperti yang telah disebutkan, karena tak hanya menjadi pusat membaca, perpustakaan satu ini memiliki fasilitas penunjang lain seperti ruang multifungsi, ruang bermain anak, bilik cerita, dan ruang baca privat. Lain itu, ada juga ruang podcast, ruang komputer, dan ruang koleksi ke-Jakarta-an.

Sejarah dan Perjalanan Lahirnya Perpustakaan di Indonesia

Baca di Tebet

Sarana satu ini memang bukan bentuk perpustakaan yang secara umum dikelola oleh pemerintah. Namun, konsep ruangnya bisa dibilang cukup unik dan tak kalah menarik kalangan anak muda. bukan hanya sekadar memiliki tampilan estetik, perpustakaan satu ini dianggap menarik karena memiliki rancangan ruang yang terasa seperti di rumah.

Perpustakaan komersil Baca di Tebet sesuai namanya berada di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Didirikan oleh penulis Kanti W. Janis dan Wien Muldian, tempat baca ini memiliki sebanyak 20 ribu buku yang selalu diperbarui.

Selain sebagai tempat membaca, sarana ini juga memiliki beberapa fasilitas seperti ruang diskusi, ruang temu, tempat bermain musik bahkan bernyanyi. Tak hanya itu, di area tertentu, perpustakaan ini juga memiliki ruang karya dan kafe.

Untuk bisa menghabiskan waktu bekerja, belajar, berdiskusi, atau sekadar menyantai di fasilitas ini, pengunjung hanya perlu membayar tiket atau biaya sebesar Rp35 ribu.

Hari Pustakawan, Mengenal Tokoh dan Cikal Bakal Pendidikan Perpustakaan di Tanah Air

Perpustakaan Erasmus Huis

Perpustakaan Erasmus Hui | robbif_23/Shutterstock
info gambar

Perpustakaan satu ini juga terbilang unik, karena lokasinya sendiri berada di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, di bilangan Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Perpustakaan Erasmus Hui akan menjadi surga bagi para pengunjung yang memiliki minat dan ketertarikan terhadap hal-hal berbau Belanda.

Meski begitu, fasilitias satu ini juga menyediakan berbagai asupan literasi dari berbagai latar belakang, mulai dari kategori sastra, linguistik, sejarah, politik, sosial, seni, budaya, anak-anak, hingga kamus. Tercatat jika total koleksi buku yang dimiliki perpustakaan satu ini berada di kisaran 15 ribu judul buku.

Mengenai konsep bangunan dari perpustakaan satu ini sendiri memiliki kesan bernuansa menyegarkan, nyaman, dan hening. Interior ruangannya didominasi oleh warna putih dengan berbagai furnitur yang eklektik.

Dengan konsep open space, ada salah satu bagian dari perpustakaan yang nyatanya juga bisa dimanfaatkan untuk acara diskusi ataupun seminar.

Perpustakaan Warak Kayu Semarang Raih Penghargaan Building of The Year 2021

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini