Aura Mistis Telaga Buret yang Menjaga Kecantikan Mata Airnya dari Kerusakan

Aura Mistis Telaga Buret yang Menjaga Kecantikan Mata Airnya dari Kerusakan
info gambar utama

Telaga Buret merupakan tempat yang wajib dikunjungi bila datang ke Kabupaten Tulungagung. Taman pelestarian Lingkungan hidup yang berada di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat ini bisa jadi rujukan sebagai tempat wisata ekologi.

Hawanya sejuk dan bisa melihat hewan kera ekor panjang serta sepasang rusa yang sedang ditangkarkan. Selain juga dapat memandang geliat sejumlah ikan yang berada di telaga berukuran sekitar 40 x 30 menit itu.

Walau diselimuti keangkeran, Telaga Buret memang sangat nyaman dijadikan tempat untuk sekadar bersantai di hari libur. Di tempat ini ada 170 jenis pohon tumbuh di tempat seluas 22 hektare dan ada dikembangkan menjadi 60 hektare tersebut.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Telaga Buret, Karsi Nerro Soethamrin menyebutkan keangkeran Telaga Buret selama ini justru membuat kawasan yang sekarang setara hutan lindung ini menjadi terjaga.

“Sampai sekarang tidak ada yang berani mengganggu kelestarian lingkungan di Telaga Buret. Tidak ada yang berani menebang pohon. Masyarakat sekitar hanya memungut ranting pohon yang jatuh, tidak berani menebang pohon,” katanya yang diwartakan Harian Bhirawa.

Melepas Penat di Telaga Sunyi, Wisata Asri Nan Sepi

Menurut Karsi keengganan masyarakat merusak alam ini karena sudah tersebar cerita mistis bahwa bagi orang yang menebang pohon di Telaga Buret akan celaka. Hal ini berdasarkan cerita mistis dari nenek moyang.

Pria berambut gondrong penerima Kalpataru dari Presiden Joko Widodo pada 2016 lalu ini menyatakan cukup bersyukur dengan adanya cerita angker dan mitos yang menyelimuti Telaga Buret.

Hal ini karena efektif untuk menjaga kelestarian Telaga Buret dalam mengaliri area persawahan di empat desa di Kecamatan Campurdarat. Karena bila lingkungan Telaga Buret tidak terjaga akan mengancam lingkungan.

“Kalau sampai lingkungan Telaga Buret tidak terjaga dan banyak penebangan pohon bisa jadi tidak ada lagi air untuk mengairi sawah di empat desa,” tuturnya.

Legenda Telaga Buret

Karsi Nerro mengungkapkan dengan terjaganya lingkungan di sekitar Telaga Buret dari dulu sampai sekarang air yang mengalir dari telaga tersebut tidak pernah surut sekalipun musim kemarau.

Air dari Telaga Buret tetap mengalir ke areal persawahan milik warga di Desa Sawo, Desa Ngentrong, Desa Gedangan dan Desa Gamping. Menurut Karsi, hal ini berkat mitos Mbah Jigang Joyo yang dipercaya jadi awal mula terjadinya Telaga Buret.

Konon awal mula munculnya Telaga Buret adalah serombongan penunggang kuda yang dipimpin Jigang Joyo, seorang pejabat Kerajaan Majapahit. Dalam rombongan itu ada seorang pengiringnya yang menggendong bayi yang sedang menangis karena kehausan.

Melihat kondisi itu Jigang Joyo kemudian menggali tanah hingga muncul mata air. Namun anehnya, mata air itu terus mengalir deras dan membuat telaga. Telaga inilah yang kemudian dikenal dengan nama Telaga Buret dan airnya terus mengaliri empat desa.

Menyambangi Telaga Nirwana, Sang Perawan di Rote Barat

“Mbah Jigang Joyo kemudian terus menggali tanah, hingga mengeluarkan air. Sumber air itu yang kemudian menjadi Telaga Buret ini,” terang Ketua Paguyuban Sendang Tirtomulyo, Suparman yang diwartakan TribunJatim.

Mitos ini sempat dilupakan oleh masyarakat sehingga banyak hutan dan alam sekitar mulai rusak karena ulah manusia. Tetapi sejak dihidupkan kembali mitos ini, hutan yang sempat rusak akibat penambangan marmer dan pembalakan liar tahun 1990 an kembali terawat.

Tradisi menjaga ingatan

Agar bisa menjaga ingatan tentang mitos ini, sampai saat ini warga di empat desa yang teraliri air dari Telaga Buret selalu merayakan ritual bernama ulur-ulur. Tradisi ini untuk merawat Telaga Buret.

Tradisi ini dilakukan dengan cara mengarak dua patung simbol Dewi Sri dan Joko Sedono. Sebelumnya mereka pun melakukan ziarah ke makam Mbah Jigang Joyo yang dipercaya berada di sisi barat telaga.

Puncak tradisi ini adalah memandikan dua patung Dewi Sri dan Joko Sedono. Keduanya merupakan simbol kesejahteraan petani di empat desa. Karena berkat keberadaan Telaga Buret, sawah di empat desa tersebut tidak pernah kekurangan air.

Kala Singa Barong dan Nagareja Jadi Simbol Masyarakat Kendeng Lindungi Alam

Karsi menjelaskan bahwa upacara ulur-ulur memang sengaja dilestarikan. Sekilas memang ada unsur mistis dalam upacara tersebut. Tetapi menurutnya, aura mistis tersebut sengaja diciptakan leluhur untuk memelihara alam.

“Kalau dulu memang tidak ada hukum tertulis maka nenek moyang kita membuat cerita mistis. Misalnya siapa saja yang menebang pohon akan mengalami celaka,” terang Karsi.

Bagi dirinya, aura mistis tersebut ternyata efektif menjaga kelestarian Telaga Buret. Karena itu tradisi tersebut dianggapnya wajib dijaga, agar telaga penghidupan empat desa itu tidak mati yang berakibat rusaknya persawahan warga.

Kini Karsi dan kawan-kawan berupaya memperluas area hutan lindung di sekitar Telaga Buret. Sebelumnya area telaga ini hanya sekitar satu hektare saja. Namun berkat lobi Pemkab Tulungagung ke Perhutani, kini totalnya mencapai 22 hektare.

“Kami akan berupaya meluaskan area hutan lindung ke arah timur dan ke selatan. Total wilayahnya mencapai 60 hektare. Semoga pihak terkait menyetujui rencana ini,” pungkas Karsi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini