Pertama di Banten, Desa Panggarangan Jalani Verifikasi Tsunami Ready UNESCO

Pertama di Banten, Desa Panggarangan Jalani Verifikasi Tsunami Ready UNESCO
info gambar utama

Mitigasi bencana merupakan hal yang sejatinya penting dikelola dan dijalankan oleh masyarakat Indonesia. Bukan tanpa alasan, karakteristik geografis Indonesia pada dasarnya diikuti dengan potensi bencana yang diakui atau tidak terjadi secara rutin. Misalnya cincin gunung api yang menyebabkan bencana gunung meletus, hingga kawasan garis pantai di hampir seluruh wilayah dengan ancaman tsunami.

Salah satu wilayah pesisir Indonesia yang selalu dihantui oleh ancaman tsunami adalah kawasan Lebak, Banten. Kabar baiknya, baru-baru ini kawasan Lebak Banten baru saja menjalani uji verifikasi kesiapan tsunami atau Tsunami Ready Community UNESCO-IOC.

Lebih detail, kawasan spesifik yang menjalani verifikasi Tsunami Ready adalah Desa Panggarangan. Tidak sendiri, verifikasi ini juga berjalan lewat gerakan yang diupayakan bersama Gugus Mitigasi Lebak Selatan.

Mitigasi Bencana Iklim dengan Mendorong Perwujudan Green Banking

Desa pertama di Banten

Verifikasi Lapangan Tsunami Ready Community di Desa Panggarangan | Dok. Gugus Mitigasi Lebak Selatan
info gambar

Menariknya, Desa Panggarangan menjadi desa pertama di Banten yang mengupayakan indikator tsunami ready. Hal tersebut dikatakan oleh Professional Officer for DRRTIU dan Head of IOC-UNESCO Ardito M. Kodijat, dalam kegiatan Verifikasi Lapangan Tsunami Ready Community oleh UNESCO-IOC dan Komite Nasional Kesiapsiagaan Tsunami pada Rabu (14/09/2022) dan Kamis (15/09).

“Desa Panggarangan menjadi desa pertama di Banten yang mengupayakan indikator Tsunami Ready dan termasuk maju dalam hal pengembangan indikatornya," jelas Ardito.

Ardito menambahkan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah mencapai kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan tsunami jika sewaktu-waktu terjadi tsunami.

“Tujuan utama dari verifikasi Lapangan ini agar masyarakatnya mencapai kesiapsiagaan, siap dan tanggap terhadap Tsunami. Sertifikat Pengakuan (Certificate for Recognition) Tsunami Ready Community dari Intergovernmental Oceanographic Commission of UNESCO (IOC-UNESCO) ini hanya sebuah pemanis,” ujar Ardito.

Lain itu, Ahmad Faidlullah selaku Camat Panggarangan menyatakan apresiasinya atas inisiatif dari masyarakat untuk mitigasi bencana.

“Saya apresiasi kepada masyarakat bahwa, masyarakat sendiri sudah mau dan itikad baik hadir di sosialisasi, dan ikut dalam rangka persiapan masyarakat untuk menghadapi bencana, khususnya bencana Tsunami,” ucap Ahmad.

Pameran Temporer Manusia dan Bencana: Dorong Masyarakat Paham Mitigasi Bencana

Harapan edukasi untuk masyarakat

Ardito M. Kodijat Professional Officer for DRRTIU dan Head of IOC-UNESCO | Dok. Gugus Mitigasi Lebak Selatan
info gambar

Di saat bersamaan, Suwardi selaku Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Tangerang juga menyatakan harapannya terkait adanya penyebaran literasi kebencanaan yang lebih luas.

“Setelah verifikasi ini selesai, harapan kami dan BMKG, masyarakat yang sudah teredukasi, sudah terupdate info-info bencana bisa disebarkan ke seluruh warga yang ada, menyebar keseluruh lingkungan di Desa Panggarangan,” ujar Suwardi.

Adapun dalam acara verifikasi tsunami ready yang dilakukan, pada hari pertama kegiatan ini membahas tentang indikator 1-8 yang mencakup tahap asesmen dan preparedness. Sedangkan di hari kedua membahas tentang indikator 9-12 yang mencakup tahap respons dan kunjungan lapangan di Desa Panggarangan.

Dari hasil verifikasi dokumen terkait indikator Tsunami Ready, Ardito memaparkan bahwa terdapat dua indikator yang giat dikembangkan oleh Desa Panggarangan, sehingga menjadi dua poin penting yang dapat diberikan apresiasi.

“Saya menemukan indikator yang lemah di daerah lain tetapi di sini indikatornya sangat kuat,” puji Ardito.

Nandong, Mitigasi Bencana Tsunami dengan Kearifan Lokal Masyarakat Simeulue

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini