Sejarah Lagu Indonesia Raya yang Jarang Diketahui, Termasuk Kontribusi Orang Tionghoa

Sejarah Lagu Indonesia Raya yang Jarang Diketahui, Termasuk Kontribusi Orang Tionghoa
info gambar utama

Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini diciptakan oleh pemuda bernama Wage Rudolf Soepratman pada tahun 1924 dan pada saat itu ia masih berusia 21 tahun.

Tapi tahukah kalian bahwasanya lagu Indonesia Raya pertama kali diputar bukan pada hari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 ?.

Dan tahukah kalian bahwa lirik lagu ini sudah mengalami perubahan aransemen sebanyak tiga kali dari versi aslinya ciptaan WR. Soepratman ?.

Nah berikut ini adalah catatan historis singkat yang penting kalian ketahui tentang Lagu Indonesia Raya.

Sejarah Lahirnya Lagu Indonesia Raya dan Kontribusi Orang Tionghoa

Lagu Indonesia Raya menjadi salah satu titik nadir dari kelahiran pergerakan nasional di seantero Nusantara pada awal abad 20. Dibalik lirik-liriknya, terkandung visi tentang ide Indonesia yang satu, alih-alih dipecah belah menjadi beberapa negara bagian.

Penciptaan lagu Indonesia Raya oleh W.R. Soepratman bermula ketika Ia mendapati sebuah tulisan dalam majalah Timboel terbitan Solo mengenai tantangan bagi para Komponis Indonesia yang dapat menciptakan lagu kebangsaan.

Merasa tertantang, WR. Soepratman akhirnya mencoba menggubah lagu Indonesia Raya dengan menyusun not dan liriknya menggunakan biola pada tahun 1924.

Kemudian pemutaran perdana lagu ini dilaksanakan pada malam penutupan Kongres Pemoeda II, tanggal 28 Oktober 1928, di Batavia (Jakarta). WR. Soepratman memperdengarkan secara instrumental di depan seluruh peserta kongres.

Seiring waktu, lagu itu terkenal secara masif di kalangan pergerakan nasional. Bahkan tiap kongres partai-partai politik, lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Maka sejak saat itulah menjadi tonggak sejarah lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum.

Demi mengabadikan lagu ciptaannya tersebut, WR. Soepratman menghubungi beberapa perusahaan rekaman yang ada di Batavia. Diantaranya: perusahaan rekaman milik Odeon, Thio Tek Hong dan Yo Kim Tjan.

Namun dari ketiga perusahaan tersebut, hanya perusahaan milik Yo Kim Tjan yang bersedia melakukannya. Yo Kim Tjan merupakan sahabat baik dari W.R. Soepratman, yang juga pekerja paruh waktu sebagai pemain biola di Orkes Populair miliknya.

Adapun Kedua perusahaan lain menolak karena khawatir ditangkap oleh polisi Hindia Belanda yang saat itu telah mengendus gerakan bawah tanah para pemuda-pemudi Indonesia.

Yo Kim Tjan lalu mengusulkan pada WR. Soepratman agar rekaman lagu Indonesia Raya dibuat dalam dua versi, yakni versi asli yang dinyanyikan langsung oleh WR. Soepratman sambil memainkan biola serta versi berirama keroncong.

Dengan dibantu oleh seorang teknisi berkebangsaan Jerman, kedua lagu tersebut kemudian direkam di kediaman Yo Kim Tjan yang terletak di Jalan Gunung Sahari, Batavia. Master rekaman piringan hitam berkecepatan 78 RPM versi asli suara WR. Soepratman disimpan dengan hati-hati oleh Yo Kim Tjan. Sementara itu, rekaman versi keroncong dikirimkan ke Inggris untuk diperbanyak.

Usai lagu Indonesia Raya dikumandangkan oleh WR. Soepratman pada tanggal 28 Oktober 1928, pihak Pemerintah Hindia Belanda merasa panik dan menyita seluruh piringan hitam versi keroncong. Baik yang sempat beredar maupun yang masih dalam perjalanan dari London ke Batavia.

Maka pada tahun 1930, lagu Indonesia Raya dilarang untuk dinyanyikan di publik oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sebab dikhawatirkan lagu ini akan memicu semangat kemerdekaan atau pemberontakan.

Akibatnya, WR Soepratman selaku komposer lagu Indonesia Raya pun diburu dan diinterogasi oleh polisi Hindia Belanda hingga akhirnya beliau jatuh sakit dan meninggal dunia pada usia 35 tahun.

Lirik Lagu Indonesia Raya

Saat pertama kali lagu Indonesia Raya dikumandangkan tahun 1928 di Kongres Pemoeda II, WR Soepratman menuliskan "lagu kebangsaan" di bawah judul "Indonesia Raya".

Kemudian, melansir laman Museum Sumpah Pemuda, teks lagu tersebut dipublikasikan pertama kali oleh surat kabar Sin Po, yakni surat kabar Tionghoa berbahasa Melayu. Sedangkan rekaman pertamanya dimiliki oleh seorang pengusaha bernama Yo Kim Tjan (Johan Kertayasa).

Terdapat 3 bentuk lirik lagu Indonesia Raya yakni versi ciptaan WR. Soepratman tahun 1928, lalu versi aransemen oleh seorang Konduktor dan Komposer Belanda, Jos Cleber tahun 1958 dan versi modernnya tahun 1998.

Berikut perbandingan dari ketiga lirik Indonesia Raya tersebut.

Lirik asli “INDONESIA RAJA” (1928)

Lirik Ejaan Resmi (1958)“INDONESIA RAJA”

Lirik Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)‘INDONESIA RAYA”

I

Indonesia, tanah airkoe,
Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.

Indonesia kebangsaankoe,
Kebangsaan tanah airkoe,
Marilah kita berseroe:
"Indonesia Bersatoe".

Hidoeplah tanahkoe,
Hidoeplah neg'rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe, semoea,
Bangoenlah rajatnja,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.

II

Indonesia, tanah jang moelia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek s'lama-lamanja.

Indonesia, tanah poesaka,
Poesaka kita semoea,
Marilah kita mendoa:
"Indonesia Bahagia".

Soeboerlah tanahnja,
Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoeanja,
Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.

III

Indonesia, tanah jang soetji,
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang terkoetjintai,
Marilah kita berdjandji:
"Indonesia Bersatoe"

S'lamatlah rajatnja,
S'lamatlah poet'ranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg'rinja,
Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.

Refrain

Indones', Indones',
Moelia, Moelia,
Tanahkoe, neg'rikoe jang koetjinta.
Indones', Indones',
Moelia, Moelia,
Hidoeplah Indonesia Raja.

I

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Disanalah aku berdiri,
Djadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg'riku,
Bangsaku, Rajatku, sem'wanja,
Bangunlah djiwanja,
Bangunlah badannja,
Untuk Indonesia Raja.

II

Indonesia, tanah jang mulia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanja.

Indonesia, tanah pusaka,
P'saka kita semuanja,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnja,
Suburlah djiwanja,
Bangsanja, Rajatnja, sem'wanja,
Sadarlah hatinja,
Sadarlah budinja,
Untuk Indonesia Raja.

III

Indonesia, tanah jang sutji,
Tanah kita jang sakti,
Disanalah aku berdiri,
Ndjaga ibu sedjati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang aku sajangi,
Marilah kita berdjandji,
Indonesia abadi.

S'lamatlah rakjatnja,
S'lamatlah putranja,
Pulaunja, lautnja, sem'wanja,
Madjulah Neg'rinja,
Madjulah pandunja,
Untuk Indonesia Raja.

Refrain

Indonesia Raja,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg'riku jang kutjinta!
Indonesia Raja,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raja.

I

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah negeriku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

II

Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk selama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,
Pusaka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.

III

Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
Jaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.

Selamatlah rakyatnya,
Selamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Negerinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.

Refrain

Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, negeriku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Tangga Nada Lagu Indonesia Raya

Lagu Indonesia Raya adalah lagu yang menggunakan tangga nada diatonis yakni tangga nada yang dimulai dengan nada “do” dan diakhiri dengan nada “do” yang lebih tinggi satu oktaf.

Tangga nada dapat dibedakan menjadi dalam beberapa jenis, yakni tangga nada diatonis, pentatonis, kromatis.

Kemudian nada dasar asli lagu Indonesia Raya adalah nada Do = G dengan irama 4/4. Dan tempo lagu Indonesia Raya adalah MARS (dinyanyikan penuh semangat).

Pada beberapa not balok lagu Indonesia Raya tertulis Con Bravura. Namun, Con Bravura bukan termasuk dalam tempo, tetapi termasuk dalam tanda ekspresi, yang mana dibawakan dengan semangat bergelora.

Demikianlah sekilas sejarah perjalanan lagu Indonesia Raya yang penting kita ketahui dan harapannya dapat menggubah rasa cinta kita lebih dalam lagi pada para Bapak Bangsa dan Tanah Air Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini