Melirik Primbon sebagai Cara Orang Jawa untuk Membaca Tanda Bencana Alam

Melirik Primbon sebagai Cara Orang Jawa untuk Membaca Tanda Bencana Alam
info gambar utama

Kitab primbon merupakan karya sastra kebudayaan Jawa yang dibuat oleh atau Patih Danurejo VI atau Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat. Dirinya merupakan salah satu patih dari Keraton Yogyakarta (1900-1911).

Dikutip dari berbagai sumber, sebelum menjadi patih kerajaan Patih Danurejo VI merupakan seorang seniman. Dia menulis primbon yang mulanya merupakan catatan yang kemudian dianggap sebagai pedoman hidup.

Selain itu, dalam kearifan lokal masyarakat Jawa, fenomena alam juga seringkali dikaitkan dengan primbon. Salah satunya adalah ketika terjadi gempa Malang yang disebut pertanda akan berakhirnya pagebluk atau wabah.

Mataram Kuno, Kerajaan Toleransi Bercorak Hindu-Buddha

Seperti adanya gempa bumi atau Lindu di bulan penanggalan Jawa, Sabtu (10/4/2021). Yakni di bulan Ruwah dan terjadi pada siang hari menurut primbon akan berakhirnya pagebluk atau wabah seperti Corona saat ini.

“Pada akhirnya akan seperti itu (berakhirnya pagebluk). Namun ada riak-riak menuju landai. Seperti sakit demam berdarah, menjelang sakit akan panas tinggi. Skema pelana kuda, menurut saya seperti itu,” kata Hari Langit, Ketua Penghayat Kepercayaan Blitar yang dimuat Detik.

Hari melanjutkan bahwa semua yang terjadi di alam merupakan kejadian sebab dan akibat. Seperti penggundulan hutan yang menjadi pemicu timbulnya global warming. Kondisi ini menimbulkan cuaca ekstrem yang tidak bisa diprediksi.

Baginya primbon merupakan ilmu titen-titen atau hasil pengamatan tanda-tanda yang terjadi pada alam. Ilmu ini diperoleh seseorang yang mengasah kepekaannya pada tanda-tanda alam, melalui olah rasa (batin) dan olah pikir atau among roso.

Primbon dan tanda alam

Menurut Hari, pada zaman dahulu, orang-orang rajin mencatat tanda alam dan bersifat sangat lokal. Karena itulah mereka bisa membaca tanda-tanda zaman. Karena itu antara mikrokosmos dan makrokosmos bisa menyatu.

“Sehingga gelombang dan getaran yang dipancarkan alam, bisa diterima dan terjemahkan secara rasional,” paparnya.

Slamet Muljana dalam Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya menyebut dalam kitab tersebut dikisahkan terjadinya peristiwa alam yang menjadi isyarat kelahiran Raja Hayam Wuruk, maharaja keempat Kerajaan Majapahit.

Menguak Makanan Jawa Kuno yang Unik

Peristiwa alam yang terjadi pada Negarakertagama ditafsirkan sebagai isyarat akan keluhuran sang bayi. Seperti gempa bumi di Banu Pindah, hujan abu diikuti guruh dan halilintar.

“Sebagai isyarat kebesaran itu terlaksana setelah baginda dewasa dan memegang tampuk kepemimpinan. Kerajaan aman dan tenteram, bebas dari kejahatan,” Ucap Slamet yang dimuat Solopos.

Dirinya menerjemahkan kalimat tahun saka memanah surya sebagai petunjuk tahun terjadinya peristiwa pada tahun 1256 Saka. Serat Pararaton juga memberitakan, setelah peristiwa Sadeng, terjadi gempa bumi di Banu Pindah pada tahun 1265 Saka.

Diketahui Peristiwa Sadeng adalah perlawanan Sadeng melawan Kerajaan Majapahit, sebagai pembalasan atau kematian Nambi. Dia dan Kerta serta orang-orang Sadeng terlibat perang dengan pasukan Majapahit pada tahun 1331 Masehi.

Membaca bencana dari Primbon

Suwardi Endraswara dalam Membaca Primbon Bencana Alam menyatakan primbon merupakan bagian dari gugon tuhon tuhan atau takhayul Jawa. Gugon tuhon terhadap hadirnya bencana alam, dianggap hal menakutkan.

Paling tidak, jelasnya, bencana alam akan dianggap mengancam keselamatan jiwa. Berpikir primbonistis, didasarkan kecerdasan Jawa boleh disebut pola pikir TOP (titen atau ingat, open atau terawat, dan panen).

Dijelaskannya titen adalah pengalaman yang dilandasi hal yang berulang-ulang. Nantinya pengalaman ini dapat tersimpul dalam sebuah pola open (dokumentasi) yang dinamakan primbon yang menjadi pengetahuan Jawa.

“Pengetahuan yang teruji oleh pengalaman itu akan menjadi ngelmu (panen) yang dapat menyelamatkan hidup orang Jawa,” katanya.

Sejarah Perjanjian Salatiga yang Membagi Tanah Mataram menjadi Tiga Kekuasaan

Walau begitu bencana alam dipahami orang Jawa tidak datang tiba-tiba, tetapi datang seperti saat dalang melakukan antawecana (melagukan cerita wayang), menjelang gara-gara (huru-hara), dengan gedogan (pemukulan kotak berkali-kali).

Kemudian, kata-kata dalang akan semakin meninggi. Gunungan tegak yang menjadi tanda. Di sini orang yang menonton wayang sudah siap mental, bahwa sebentar lagi akan terjadi gara-gara atau bencana.

Menurut Suwardi inilah yang membuat orang Jawa tidak akan menjadi kagetan (gampang terkejut) dan gumunan (gampang terkejut), sehingga tidak tahu akan dirinya yang sejati. Karena itulah saat ada tanda-tanda aneh, primbon harus dimainkan.

“Alam pun sering menyambutnya dengan gebrakan dahsyat, gempa bumi, banjir besar, tsunami, distorsi cuaca yang sangat gawat, wabah penyakit (pagebluk),” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini