Jadi Maskot Piala Dunia U-20, Bagaimana Kehidupan Badak Jawa Saat Ini?

Jadi Maskot Piala Dunia U-20, Bagaimana Kehidupan Badak Jawa Saat Ini?
info gambar utama

Salah satu jenis hewan endemik Indonesia yaitu badak jawa kembali mendapat perhatian. Bukan karena lahirnya individu baru, melainkan karena penetapan sebagai maskot untuk gelaran Piala Dunia U-20 2023.

Sebelumnya, Indonesia memang diketahui akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada tahun 2023 mendatang. Adapun ajang ini akan mulai digelar pada tanggal 20 Mei hingga 11 Juni. Lebih detail, maskot badak Jawa yang diperkenalkan memiliki nama Bacuya.

Dari tampilannya, Bacuya nampak menggunakan jersey Tim Nasional Indonesia berwarna merah putih. Menurut penjelasan PSSI, hewan satu ini dipilih lantaran merepresentasikan salah satu satwa langka khas tanah air.

Terlepas dari pemilihannya sebagai maskot, ada hal menarik dari badak Jawa yang perlu diketahui, mulai dari status kelangkaan hingga populasinya. Ditambah lagi, tepat pada tanggal 22 September seperti hari ini (22/9/2022), sejatinya menjadi peringatan Hari Badak Sedunia atau World Rhino Day.

Lantas seperti apa kondisi kehidupan badak Jawa saat ini?

Badak Jawa Bisa “Marah” pada Manusia

Mengenal badak Jawa

Badak Jawa | Hendra Arieska Putra/Shutterstock
info gambar

Badak Jawa yang selama ini dikenal dengan nama ilmiah Rhinoceros sondaicus, merupakan salah satu dari lima spesies badak yang saat ini tersisa di dunia. Lain itu, badak ini juga jadi satu dari dua spesies badak endemik Indonesia lainnya yakni badak Sumatra.

Dilihat dari ukuran tubuh, badak Jawa sedikit lebih besar dibanding badak Sumatra. Badak jawa dapat tumbuh dengan panjang tubuh rata-rata 2-3,5 meter dan tinggi mencapai 1,7 meter. Ditambah pada individu betina, ukurannya bisa lebih besar lagi.

Sementara itu cula badak Jawa rata-rata memiliki ukuran panjang 20-25 sentimeter, namun ada juga yang dapat mencapai 30,5 sentimeter. Sedangkan dalam hal berat, badak jawa memiliki bobot di kisaran 0,9-2,3 ton.

Mamalia satu ini memiliki ciri fisik tubuh berwarna abu-abu dengan tekstur kulit yang tidak rata dan berbintik. Lain itu, pada kulit di beberapa bagian tubuh seperti daun telinga, rambut kelopak mata, dan ujung ekor biasa terdapat rambut tipis.

Di kalangan peneliti satwa, badak Jawa dikenal sebagai satwa browser atau binatang penjelajah untuk mencari makan rumput, semak, pucuk dedaunan dan sejenisnya. Mereka banyak memakan ranting dan batang kecil yang tumbuh di hutan.

Biasanya setelah makan satu atau lebih tumbuhan di satu titik, badak Jawa akan pindah secara perlahan kemudian berhenti sesaat untuk makan lagi di tempat lain. Karena kebiasaan lain, tak heran jika hewan ini dikenal sebagai spesies kunci.

Hal yang menarik, badak jawa biasa membuang urin saat berkubang dan saat berjalan. Mereka biasanya membuang kotoran di dua tipe lokasi yaitu di air sungai yang mengalir, dan di pegunungan atau bukit.

Dua Anak Badak Jawa Lahir di Taman Nasional Ujung Kulon

Badak Jawa yang terancam

Badak Jawa menyukai habitat hutan hujan dataran rendah dan rawa-rawa. Meski begitu, ada juga badak jawa yang ditemukan pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, yaitu di daerah Gunung Honje, Taman Nasional Ujung Kulon.

Hewan satu ini juga menyukai kondisi habitat dengan hutan yang rimbun, daerah semak, dan perdu yang rapat. Mereka kurang menyukai tempat-tempat yang terbuka, terutama pada siang hari. Disebutkan bahwa saat ini populasi badak Jawa banyak tersisa di TN Ujung Kulon.

Bicara soal populasi, sama halnya seperti badak sumatra, populasi badak jawa kini juga sangat terancam. Padahal, dulunya badak jawa menempati daerah penyebaran yang cukup luas di Asia Tenggara.

Penyebarannya sendiri meliputi Teluk Benggala hingga Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Semenanjung Malaya, Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Seiring berjalannya waktu, populasi hewan ini di sejumlah negara mulai terhapuskan. Misalnya di Vietnam, hewan ini dinyatakan punah tahun 2010.

Sementara itu populasi badak Jawa saat ini telah terbatas, dan terkonsentrasi hanya pada Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) sejak 1930-an. Berdasarkan keterangan terakhir dari Balai TNUK, disebutkan jika saat ini hanya ada di bawah angka 100 individu badak Jawa yang tersisa.

Lebih detail, populasi hewan ini kerap ditemui pada sejumlah titik seperti daerah-daerah aliran sungai Cibandawoh, Cikeusik, Citadahan, dan Cibunar. Sayangnya, pengamatan TNUK menyebut jika habitat badak di TNUK diprediksi mendekati batas daya dukung.

Hal tersebut berpotensi menyebabkan populasi badak akan sulit berkembang tanpa upaya pengelolaan yang intensif.

Kabar Baik, Populasi Badak Jawa Meningkat di Taman Nasional Ujung Kulon

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini