Pulau Morotai, Kejayaan Nan Sekejap dari Hunian Pasukan Douglas MacArthur

Pulau Morotai, Kejayaan Nan Sekejap dari Hunian Pasukan Douglas MacArthur
info gambar utama

Pulau Morotai sebelum tahun 1944 hanyalah pulau kecil berukuran setengah dari Pulau Bali. Pulau yang ditutupi hutan lebat itu berada di timur laut Pulau Halmahera, Maluku Utara yang populasinya tinggal di selatan pulau.

Morotai saat itu termasuk wilayah Moro yang mencangkup Pulau Morotai dan sebagian kecil Pulau Halmahera. Wilayah yang masuk daerah Kesultanan Ternate itu bagaikan tak terperhatikan dan dilupakan.

Namun, semua itu berubah ketika Pasukan Sekutu yang dimotori Amerika Serikat menjadikan Morotai sebagai basis militer utama menghadapi Jepang dalam Perang Dunia II untuk kawasan Pasifik.

“Pulau itu jadi basis karena posisinya sangat dekat dengan Filipina dan berada di sisi barat Samudra Pasifik,” dimuat dalam Rempah dan Morotai, Magnet Maluku Utara terbitan Kompas.

Menyelami Keindahan Pulau Morotai Sambil Melihat Sisa Peninggalan Perang Dunia II

Morotai dijadikan pijakan pertama Jenderal Douglas MacArthur untuk memenuhi janjinya yang terkenal I Shall Return setelah dipukul mundur oleh Jepang dari Filipina. Sekutu kemudian mendapat ke Pulau Morotai pada September 1944.

MacArthur membawa 3.000 pesawat tempur yang terdiri dari pesawat angkut dan pengebom serta batalyon tempur. Karena itulah sejak September 1944 hingga Agustus 1945, masyarakat Morotai seolah mengalami kejutan peradaban.

Morotai yang sebelumnya sunyi tiba-tiba riuh dengan suara hilir mudik pesawat tempur, kapal perang, tank, mobil, hingga truk pengangkut pasukan. Kini mereka juga harus menghadapi peralatan perang nan canggih di zamannya.

“Jika sebelumnya masyarakat hanya bermata pencaharian sebagai nelayan atau petani, saat itu banyak warga Morotai yang direkrut sebagai tentara pembantu Sekutu,” jelasnya.

Kejayaan nan sekejap

Di Morotai, pembangunan kota secara besar-besaran hanya dilakukan oleh pihak Sekutu. Hanya dalam tempo beberapa bulan, Sekutu telah membangun tujuh landasan untuk pesawat terbang.

“Bandara di Jakarta saja tidak punya landasan seperti Morotai,” ujar Muhammad Yaman, sejarawan Morotai.

Ketika Sekutu, jalan-jalan desa di kawasan pesisir yang sebelumnya hanya jalan tanah menjadi berlapis aspal beton (hotmix). Mobil-mobil buatan AS, Jerman, Inggris, dan Prancis yang sebelumnya tidak ada di Hindia Belanda pun berseliweran.

“Kami rakyat Morotai ikut merasa senang. Akses jalan menjadi mudah. Pasukan Sekutu juga menyediakan rumah sakit gratis untuk rakyat Morotai,” kata pria yang bergabung dengan pasukan kapal torpedo Sekutu di usia 15 tahun.

Masyarakat Morotai yang semula takut dengan kedatangan Sekutu lama-kelamaan pun hidup membaur. Mereka dipekerjakan untuk membantu membangun jalan, rumah, ataupun membuka lahan untuk kepentingan Sekutu dengan bayaran uang dollar AS.

Pesona Pulau Dodola, Perpaduan Keindahan Alam dan Sisa-Sisa Peninggalan Perang Dunia

Namun semua hiruk pikuk kegiatan militer itu tak berlangsung lama. Seusai mengalahkan Jepang dalam Perang Dunia II, pasukan Sekutu pun meninggalkan Morotai, mengembalikannya sebagai bagian wilayah Indonesia yang merdeka.

Kembalinya pasukan Sekutu itu seolah melemparkan kembali Morotai ke titik awal, menjadi daerah yang tak terperhatikan dan dilupakan. Hingga kini, masyarakat Morotai tidak banyak mengalami kemajuan meski sudah 77 tahun menjadi bagian Indonesia.

“Pemerintah Indonesia lebih senang membangun daerah yang lain,” tandasnya.

Jejak sekutu

Jejak perang langsung terlihat begitu sampai ke bibir pantai Zumzum. Besi bekas ponton Sekutu tampak tertimbun pasir di tepi pantai. MacArthur pernah tinggal di pulau ini sehingga pulau ini pun disebut MacArthur Island.

“Untuk mengenang keberadaan Jenderal bintang empat ini dibangun sebuah patung MacArthur di pulau ini,” jelasnya,

Patung tersebut terlihat gagah berdiri di tepi pantai, menghadap ke arah Daruba, pulau yang menjadi basis pasukan Sekutu dalam upaya merebut kembali Filipina dari tangan Jepang. Di dekat patung itu tertulis MacArthur Island yang dibuat dengan tembok ukuran besar.

Pulau kecil ini ternyata pernah menjadi basis pertahanan pasukan Sekutu di Pasifik. Di pulau yang tidak berpenghuni ini, pemerintah kini membangun sejumlah bangunan untuk tempat istirahat para wisatawan.

Selain itu ada juga Pulau Dodola yang merupakan tempat favorit bagi MacArthur melepas penat di tengah peperangan. Memang tak salah MacArthur menjadikan pulau ini tempat favorit mereka di Maluku.

“Pulau ini sungguh indah. Pasir putih halus menghampar di bibir pantai, air laut sebening kaca. Keindahan terumbu karang cocok untuk snorkeling atau diving,” paparnya.

Rekam Jejak Perang Dunia II di 7 Wilayah Indonesia

Hingga kini, Dodola yang berjarak lima mil dari Daruba ini tidak berpenghuni. Sementara itu Wakil Bupati Morotai Wenny Paraisu saat itu mengatakan wilayahnya memiliki potensi wisata luar biasa untuk dikembangkan.

Di Morotai, jejak-jejak perang masih terlihat jelas. Di antaranya bekas kendaraan tempur pasukan sekutu dan pesawat terbang Sekutu meski banyak hilang akibat dipakai warga untuk membuat perhiasan besi putih.

“Sebagian peninggalan perang seperti pesawat dan mobil sekutu bisa dinikmati di dasar laut dengan diving,” tandasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini