Geliat Taman Ismail Marzuki Kembali Bergairah Ditengah Isu Komersialisasi

Geliat Taman Ismail Marzuki Kembali Bergairah Ditengah Isu Komersialisasi
info gambar utama

Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) yang berada di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, resmi dibuka untuk umum. Sudah terlihat beberapa anak-anak muda yang mulai memadati berbagai area yang ada di kompleks TIM.

Masyarakat mulai datang untuk menyaksikan penampilan grup musik yang membawakan lagu di atap Gedung Parkir TIM sejak kemarin sore. Area tersebut terdapat tempat duduk dengan rerumputan yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun meluncurkan Jakarta Street Experience (JSE) Board di depan kompleks TIM. JSE Board merupakan karya seni instalasi interaktif yang menggabungkan unsur edukasi, informasi, seni, dan teknologi pintar.

Usai peresmian, Gubernur Anies menggelar dialog bersama para pelaku seni. Dalam perbincangan tersebut, Pemprov DKI berjanji akan mengalokasikan dana sebesar Rp28 miliar untuk kegiatan seni dan budaya di TIM.

Miliki Sejarah Unik, Cikini akan Dikemas Menjadi Urban Tourism

“Subsidi dana ini akan diberikan sampai akhir tahun 2022. TIM akan dibiayai oleh pemerintah dan tidak dikenakan biaya untuk menggunakan dialokasikan Rp28 miliar sampai akhir tahun ini,” ungkap Anies.

Anies mengatakan saat ini TIM yang baru saja selesai direvitalisasi dan dibuka untuk publik. Selama berkegiatan di TIM, para seniman tak akan dikenai biaya. Sehingga jelas Anies, para seniman hanya perlu memikirkan karya seni saja.

Anies juga menerangkan nantinya ada 6 orang dewan penasehat yang akan menyeleksi karya-karya yang tampil di TIM. Mereka berasal dari Dewan Kesenian Jakarta sebagai tim penyeleksi.

“Kita berharap, dengan pengenalan ini masyarakat akan lebih tahu tentang apa saja yang sudah dilakukan, revitalisasi di tempat ini. Memang pembangunannya relatif komprehensif. Jadi wajah TIM hari ini secara fisik nampak sangat berbeda dengan sebelumnya,” katanya.

Tidak dikomersilkan

Pada kesempatan itu, Anies memastikan TIM tidak akan dijadikan tempat untuk mencari keuntungan. Walau dalam proses revitalisasi, Pemprov DKI telah berinvestasi Rp1,4 triliun dalam revitalisasi pusat kesenian tersebut.

“Tidak dijadikan tempat mencari untung, itulah. Walaupun kami investasi Rp1,4 triliun, tetapi kami tidak kemudian mencari pendapatan untuk menutup investasi Rp1,4 triliun semata-mata. Jadi bukan begitu,” katanya.

Menurutnya guna memastikan TIM tak dikomersialisasikan, PT Jakpro selalu pengelola pusat kesenian itu akan membentuk unit pengelola baru. Anis berujar, pembentukan unit baru bertujuan untuk memisahkan kegiatan komersial dan kegiatan non komersial.

Anies menyebut TIM akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khusus. BUMD tersebut nantinya akan menjadi anak perusahaan dari PT Jakarta Propertindo (Jakpro). Upaya ini dilakukan agar Jakpro tidak akan mengkomersialkan TIM.

Wajah Baru Taman Ismail Marzuki, Dan Harapannya Jadi Oase Jakarta

“Ada sendiri di bawah Jakpro (nantinya), terpisah dari unit komersial Jakpro, unitnya sendiri khusus untuk mengelola TIM,” katanya.

“Sehingga tidak tercampur dengan aktivitas usaha Jakpro yang lain,” sambungnya.

Anies menegaskan bahwa penunjukan Jakpro adalah bentuk dukungan kepada kegiatan seni budaya di Jakarta. Karena itu penggunaan BUMD DKI yang bisa mengelola TIM tanpa perlu mencari keuntungan.

“Karena badan usaha milik pemerintahlah yang bisa menjalankan kegiatan untuk tujuan kemaslahatan masyarakat, yang dijalankan masyarakat dengan prinsip-prinsip pengelolaan yang baik, tapi tidak sebagai tempat untuk mencari untung,” ujarnya.

Terus terawat 100 tahun

Wakil Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, Anggara Wicitra Sastroamidjojo mengharapkan Pemprov DKI Jakarta agar menjamin TIM dapat dinikmati semua kalangan seniman. Karena itulah dirinya berharap TIM menjadi tempat bagi semua kalangan.

“Saya harap TIM dapat menjadi inklusif diakses semua kalangan seniman. Jangan jadi tempat yang sulit dijangkau,” kata Anggara yang dimuat Antara.

Dirinya berharap adanya kebijakan yang konkret, terutama alokasi anggaran Rp28 miliar untuk aktivitas seni dan budaya. Selain itu, dia meminta Pemprov DKI Jakarta jangan terlalu fokus hanya kepada TIM namun sarana prasarana di wilayah-wilayah lain.

Dirinya juga menekankan sangat penting bagi Pemprov DKI Jakarta untuk membuat rencana pengembangan ekosistem kebudayaan. Karena ditegaskannya, pembangunan TIM jangan hanya berhenti pada fisik.

Nasionalisme Lewat Musik ala Ismail Marzuki

“Setelah kita bangun sarana fisiknya, kita harus pikirkan bagaimana mengembangkan ekosistem kebudayaan sampai akar rumput. Gandeng sanggar-sanggar budaya yang selama ini sangat jarang dijangkau,” katanya.

Di sisi lain, PT Jakpro menegaskan bahwa tugas utama mereka di TIM adalah memelihara fasilitas kebudayaan itu sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) dan mengelola konten-konten kegiatan di sana.

“Tugas Jakpro di sini adalah konten, mengkurasi konten, bagaimana mengisinya, namun kami di sini tugas Jakpro adalah satu memelihara tempat ini sesuai dengan standar pelayanan minimal,” kata Direktur Utama PT Jakpro Widi Amanasto.

Widi melanjutkan bahwa Jakpro harus membuat fasilitas tersebut tetap terawat dalam waktu 10 tahun bahkan 100 tahun ke depan. Mereka menegaskan akan berupaya menjaga warisan dari mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin tersebut.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini