Ada Hutan Bawah Laut Seukuran Empat Kali Luas Kepulauan Indonesia

Ada Hutan Bawah Laut Seukuran Empat Kali Luas Kepulauan Indonesia
info gambar utama

Banyak dari kita yang familiar dengan nama-nama hutan terbesar atau terkenal di dunia. Sebut saja Amazon di Amerika Selatan, Borneo/Kalimantan di Asia Tenggara, Kongo di Afrika Tengah, atau Daintree di Australia. Ada juga hutan Boreal, hutan terluas di dunia, yang membentang dari Rusia hingga Kanada.

Tapi, berapa banyak dari kita yang mengenal hutan bawah laut?

Letaknya tersembunyi di bawah air, dengan hutan rumput laut membentang lebih begitu luas. Lebih luas dari yang kita sadari sebelumnya. Hutan ini juga habitat sejumlah spesies laut.

Dilansir dari The Conversation, di lepas pantai selatan Afrika terdapat Great African Seaforest, sementara Australia memiliki Great Southern Reef yang terdapat di bagian selatan benua tersebut. Sesungguhnya, ada begitu banyak hutan bawah laut yang lebih luas lagi, tetapi tidak disebutkan namanya di seluruh dunia.

Penelitian terbaru beberapa waktu lalu menunjukkan, betapa luas dan produktifnya hutan-hutan bawah laut tersebut.

Hutan rumput laut ini menghadapi ancaman gelombang panas laut dan perubahan iklim. Tetapi, mungkin juga memegang sebagian solusinya, dengan kemampuan tumbuh cepat dan menyerap karbon.

Apa itu hutan laut?

Hutan bawah laut dibentuk oleh rumput laut, yang merupakan jenis alga. Seperti tanaman lain, rumput laut tumbuh dengan menangkap energi matahari dan karbon dioksida melalui fotosintesis.

Spesies terbesar tumbuh setinggi puluhan meter, membentuk kanopi hutan yang bergoyang dalam tarian tanpa henti, saat gelombang bergerak menghempasnya.

 Penyelaman yang dilakukan di hutan laut. Foto: Wikimedia Commons/NotBurtsBees/ Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International license
info gambar

Sama seperti pohon di darat, rumput laut ini menawarkan habitat, makanan, dan tempat berlindung bagi berbagai organisme laut. Spesies besar seperti bambu laut dan rumput laut raksasa memiliki struktur berisi gas, yang bekerja seperti balon kecil dan membantunya membuat kanopi terapung yang luas.

Spesies lain bergantung pada batang kuat, untuk tetap tegak dan mendukung bilah fotosintesis itu. Lainnya lagi, seperti rumput laut emas di Great Southern Reef Australia, menutupi dasar laut.

Seberapa luas hutan ini dan seberapa cepat tumbuh?

Rumput laut telah lama dikenal sebagai salah satu tanaman yang tumbuh paling cepat di planet ini. Namun hingga saat ini, sangat sulit untuk memperkirakan seberapa besar area yang dicakup oleh hutan rumput laut.

Di darat, kita dapat dengan mudah mengukur hutan dengan satelit. Di bawah air, hal tersebut jauh lebih sulit dilakukan. Sebagian besar satelit tidak dapat melakukan pengukuran pada kedalaman hutan bawah laut ditemukan.

Untuk mengatasi tantangan ini, para peneliti mengandalkan jutaan catatan bawah air dari literatur ilmiah, repositori online, herbaria lokal, dan masyarakat pencinta sains.

Gambaran hutan laut yang produktif di dunia. Sumber: The Conversation
info gambar

Dengan informasi tersebut, para peneliti kemudian memodelkan distribusi global hutan laut, dan menemukan bahwa hutan laut di seluruh dunia mencakup 6 juta hingga 7,2 juta kilometer persegi. Atau, hampir empat kali lipat luas Indonesia. Hanya saja, hutan-hutan itu letaknya menyebar.

“Hutan makroalga adalah bioma utama dengan luas global 6,06-7,22 juta km2, didominasi alga merah dan NPP [Net Primary Production] 1,32 Pg C/tahun, serta alga cokelat,” kata para peneliti tersebut.

Selanjutnya, para peneliti mengukur seberapa produktif hutan laut ini – yaitu, berapa banyak tumbuh. Sekali lagi, tidak ada catatan global terpadu, sehingga mereka harus melalui ratusan studi eksperimental individu dari seluruh dunia, yang tingkat pertumbuhan rumput laut telah diukur oleh penyelam scuba.

Dari upaya tersebut, peneliti menemukan bahwa hutan laut bahkan lebih produktif ketimbang banyak tanaman yang dibudidayakan secara intensif seperti gandum, beras, dan jagung.

Produktivitas tertinggi di daerah beriklim sedang, yang biasanya bermandikan air dingin kaya nutrisi. Setiap tahun, rata-rata, hutan laut di wilayah ini menghasilkan biomassa 2 hingga 11 kali lebih banyak per area daripada tanaman tersebut.

Apa arti temuan ini?

Temuan ini menggembirakan. Kita dapat memanfaatkan produktivitas luar biasa ini untuk membantu memenuhi ketahanan pangan dunia di masa depan. Peternakan rumput laut dapat menambah produksi pangan di darat dan mendorong pembangunan berkelanjutan.

Gambaran produksi biomassa di hutan laut. Sumber: The Conversation
info gambar

Tingkat pertumbuhan yang cepat ini juga berarti rumput laut haus akan karbon dioksida. Saat mereka tumbuh, mereka menarik sejumlah besar karbon dari air laut dan atmosfer. Secara global, hutan laut dapat menyerap karbon sebanyak Amazon.

Masa-masa sulit untuk hutan laut

Hampir semua panas ekstra yang terperangkap 2.400 gigaton gas rumah kaca yang kita pancarkan sejauh ini, telah masuk ke lautan kita.

Ini berarti hutan laut menghadapi kondisi yang sangat sulit. Hamparan hutan laut yang luas baru-baru ini menghilang di Australia Barat, Kanada timur, dan California, yang mengakibatkan hilangnya habitat dan potensi penyerapan karbon.

Sebaliknya, saat es laut mencair dan suhu air menghangat, beberapa wilayah Arktik diperkirakan akan tumbuh hutan laut di kawasan tersebut.

Hutan yang selama ini kita diabaikan, memainkan peran penting yang sebagian besar tidak terlihat di lepas pantai. Sebagian besar hutan bawah laut dunia tidak dikenali, belum dijelajahi, dan belum dipetakan.

Tanpa upaya sungguh-sungguh untuk meningkatkan pengetahuan, tidak mungkin kita memastikan perlindungan dan konservasi mereka – apalagi memanfaatkan potensi penuh dari banyak peluang yang hutan laut berikan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini